Polri Teruskan Pengajuan Red Notice Veronica Koman ke Interpol

“Langkah P-to-P merupakan jalan singkat, tanpa prosedur yang berbelit-belit, atas dasar hubungan baik bilateral P-to-P. Melakukan permintaan penanganan terhadap tersangka yang diduga berada di wilayah hukum negara sahabat,”

Polri Teruskan Pengajuan Red Notice Veronica Koman ke Interpol

Telegraf, Jakarta – Polri memastikan akan meneruskan surat pengajuan penerbitan red notice atas Veronica Koman ke Interpol. Diketahui surat pengajuan itu telah dikirim dari Polda Jawa Timur ke Mabes Polri.

“Pasti, pasti itu (meneruskan surat permohonan red notice ke Interpol). Red notice dikirim, maka sistem Interpol akan berproses dalam waktu singkat,” jelas Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Jakarta, Selasa (10/09/19).

Dedi Prasetyo menerangkan bahwa Interpol memiliki sistem data perlintasan imigrasi yang mencakup 194 negara. Dedi menyebut kerja sama police to police (P-to-P) adalah langkah yang efektif.

“Langkah P-to-P merupakan jalan singkat, tanpa prosedur yang berbelit-belit, atas dasar hubungan baik bilateral P-to-P. Melakukan permintaan penanganan terhadap tersangka yang diduga berada di wilayah hukum negara sahabat,” terangnya.

Ia menambahkan hal ini biasa dilakukan Polri ketika menangani tersangka yang diduga berada di negara lain. “P-to-P lebih sering kita lakukan dalam penanganan perkara. Praktis dan fleksibel,” imbuh Jenderal Bintang Satu ini.

Sebelumnya, diberitakan bahwa Polda Jawa Timur bersurat ke Mabes Polri perihal pengajuan penerbitan red notice untuk Veronica Koman. Veronica adalah tersangka provokator dalam insiden di asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

Saat penetapan tersangka, Veronica sedang tak berada di Tanah Air. Namun pihak Kepolisian mengaku telah mengetahui di negara mana Veronica saat ini berada.

Tak hanya red notice, Polisi juga mengajukan permohonan pencabutan paspor Veronica dan pihak Ditjen Imigrasi sudah menyatakan siap membantu.

Penetapan tersangka Veronica Koman dilakukan tim penyidik Polda Jawa Timur setelah memeriksa 3 orang saksi, 3 orang saksi ahli, dan mengumpulkan bukti-bukti terkait provokasi.

Menurut Kapolda Jawa Timur Irjen Luki Hermawan, Veronica Koman aktif menyebar informasi di Twitter sejak 17 Agustus terkait pengerahan massa orang asli Papua turun ke jalan.

Baca Juga  Tuai Kontroversi, Both Side Cover Tempo 'Jokowi Pinokio' Bermasalah?

Konten provokasi lainnya, yakni Veronica menyebutkan polisi menembak ke asrama mahasiswa Papua, dan Veronica Koman menyebut 5 mahasiswa terluka.

Atas perbuatannya, Veronica Koman dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 160 KUHP, UU ITE, UU Nomor 1 Tahun 1946, dan UU Nomor 40 Tahun 2008. (Red)


Photo Credit : Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. REUTERS/Darren Whiteside

Bagikan Artikel



Komentar Anda