PM Irak Lolos Dari Serangan Pembunuhan

PM Irak Lolos Dari Serangan Pembunuhan

"Pasukan keamanan mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan upaya yang gagal ini,"

PM Irak Lolos Dari Serangan Pembunuhan

Telegraf – Perdana Menteri (PM) Mustafa al-Kadhimi selamat dari upaya pembunuhan setelah pesawat nirawak yang sarat dengan bahan peledak menargetkan operasi di kediamannya di ibukota, Baghdad.

Dikutip dari Reuters, Selasa (09/11/2021), Kadhimi lolos tanpa cedera. Namun, sumber keamanan mengatakan, setidaknya enam anggota pasukan pelindung pribadi Mustafa terluka dalam serangan itu.

Mustafa mengimbau untuk tenang dan menahan diri dalam unggahannya di Twitternya.

“Saya baik-baik saja, segala puji bagi Tuhan, dan saya menyerukan agar semua orang tenang dan menahan diri demi kebaikan Irak,” katanya.

Serangan dini hari itu terjadi setelah protes keras di ibukota Irak atas hasil pemilihan umum pada 10 Oktober. Kelompok-kelompok yang memimpin protes adalah milisi bersenjata lengkap yang didukung Iran yang kehilangan banyak kekuasaan parlementer mereka dalam pemilihan. Mereka menuduh ada kecurangan dalam pemungutan suara dan penghitungan suara.

“Roket pengkhianatan tidak akan menggoyahkan sedikit pun ketabahan dan tekad pasukan keamanan yang heroik,” imbuhnya.

Tidak ada kelompok yang segera mengaku bertanggung jawab atas serangan yang terjadi pada Minggu (07/11/2021) di kediaman Kadhimi di Zona Hijau berbenteng di Baghdad itu, wilayah yang juga menampung gedung-gedung pemerintah dan kedutaan asing.

Satu pernyataan dari militer Irak mengatakan upaya pembunuhan yang gagal dilakukan dengan ‘pesawat nirawak yang sarat bahan peledak’ dan perdana menteri dalam ‘kesehatan yang baik’.

“Pasukan keamanan mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan upaya yang gagal ini,” jelasnya.

Sementara itu, dua pejabat pemerintah mengatakan kediaman Kadhimi telah terkena setidaknya satu ledakan dan mengkonfirmasi kepada Reuters jika perdana menteri aman.

Serangan itu terjadi setelah protes oleh pendukung partai-partai yang memperdebatkan hasil pemungutan suara berubah menjadi kekerasan pada Jumat (05/11/2021) dengan demonstran melempari polisi dengan batu di dekat Zona Hijau.

Polisi menanggapi dengan gas air mata dan tembakan langsung, menewaskan sedikitnya satu demonstran. Beberapa pemimpin faksi milisi yang paling kuat secara terbuka menyalahkan Kadhimi atas bentrokan pada Jumat (05/11/2021) lalu dan kematian pengunjuk rasa.

“Darah para martir adalah untuk meminta pertanggungjawaban anda,” kata Qais al-Khazali, pemimpin milisi Asaib Ahl al-Haq, berbicara kepada Kadhimi di pemakaman yang diadakan untuk pengunjuk rasa.

“Para pengunjuk rasa hanya memiliki satu tuntutan terhadap kecurangan dalam pemilihan. Menjawab seperti ini (dengan tembakan langsung) berarti Anda yang pertama bertanggung jawab atas penipuan ini,” imbuhnya.

Hasil awal jajak pendapat itu menunjukkan satu blok yang dipimpin oleh pemimpin Muslim Syiah berpengaruh Moqtada al-Sadr memenangkan 73 kursi, mempertahankan posisinya sebagai kelompok terbesar di parlemen Irak yang beranggotakan 329 orang.

Analis independen mengatakan hasil pemilu adalah cerminan kemarahan terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran, yang dikenal sebagai Hash al-Shaabi.
Secara luas, Hash al-Shaabi dituduh terlibat dalam pembunuhan hampir 600 pengunjuk rasa yang turun ke jalan secara terpisah, demonstrasi anti-pemerintah pada 2019.


Photo Credit: Perdana Menteri (PM) Mustafa al-Kadhimi. AFP

 

Aris Maulana

close