Penyerapan Kopi Lampung Barat Andalkan Pabrik Besar

“Supplier terima kopi dengan proses yang bagus. Kalau kopi asalan, prosesnya hanya dengan petik biji merah, pabrik kopi tidak mau bayar mahal. Teori yang sempat saya pelajari, (yakni) standardisasi kopi yang bagus. Nanti, semua upaya dari penerapan teori bisa meningkatkan kesejahteraan petani.”

Penyerapan Kopi Lampung Barat Andalkan Pabrik Besar


Telegraf, Jakarta – Gabungan kelompok tani (Gapoktan) kopi Lampung Barat masih andalkan penyerapan hasil produksi panen oleh pabrik-pabrik besar untuk kemasan sachet. Gapoktan juga masih optimis dengan “popularitas” Lampung sebagai sentra kopi robusta di Indonesia. Tujuh puluh persen,Gapoktan masih menyasar pabrik besar. “Petani juga sudah mulai belajar (berbagai proses) terutama roasting (penyangraian),” kata Dedi Supriadi dari Gapoktan Kopi Lampung Barat kepada Telegraf.

Saat ini, tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia tumbuh sekitar 5 – 6 persen per tahun.Namun pertumbuhan konsumsi ini tidak diimbangi pertumbuhan produksi kopi, yang besarnya hanya 1-2 persen per tahun. Pemerintah melalui kementerian pertanian (Kementan) terus meningkatkan industri kopi. Saat ini, hasil kopi petani sekitar 35 persennya diserap dalamnegeri. Sisanya, yakni sebesar 65 persen masih diekspor dalam bentuk biji.

“Saya sudah belajar mengenai teori kopi setelah masuk (bekerja) di coffee shop di Gading Serpong (Banten). Pembelajaran (teori) bisa membantu, minimal pemasaran dengan permasalahansupply chain termasuk pabrik-pabrik besar. Proses (pasokan ke pabrik besar) lebih simple, tidak jelimet. Petani tidak lagi harus sortir (green bean).

Keunggulan produksi kopi yang dimiliki Indonesia termasuk Lampung Barat belum dibarengi oleh industri pengolahannya. Sebanyak 80 persen dari produk kopi yang diekspor adalah kopibiji. Hanya 20 persennya yang diproses menjadi kopi bubuk, kopi instan, dan mixed coffee.“Supplier terima kopi dengan proses yang bagus. Kalau kopi asalan, prosesnya hanya dengan petik biji merah, pabrik kopi tidak mau bayar mahal. Teori yang sempat saya pelajari, (yakni) standardisasi kopi yang bagus. Nanti, semua upaya dari penerapan teori bisa meningkatkan kesejahteraan petani.”

Penerapan sistem standardisasi antara GMP, HACCP dan ISO masih rendah. AKibatnya, mutu produk rendah dan tidak konsisten terutama pada industry kecil menengah. Selain itu, kemampuan melakukan inovasi dan diversifikasi produk masih belum maksimal. Padalah, permintaan pasar domistik maupun internasional sudah mengarah pada standardisasi (GMP, HACCP, ISO). Research & Development (R&D) untuk produk kopimasih sangat sedikit dilakukan. Sementara investasi untuk pengolahan produk kopirelatif tinggi.

Trend jumlah konsumen kopi yang terus meningkat baik di Indonesia maupun di pasar internasional. “Sekarang ini, kopi di lampung sedang panen raya, panen bagus. Tetapi permasalahan pada standardisasi, inovasi dan diversikasi (sampai) tidak bisa menunjang panen raya. ”Contoh proses penyangraian belum dibarengi dengan mekanis (dengan mesin).

Baca Juga :   Mau Lakukan Perjalanan Pada 21-25 Juli, Ini Syaratnya

SehinggaGapoktan seakan take it for granted (masalah minimnya inovasi). Sehingga beberapa IKM kopi masih bangga dengan ‘brand’ kopi klasik. artinya, proses roasting masih dengan cara tradisional. “Kami mengandalkan proses panas (untuk roasting) dari pasir di bawah tungku (pembakaran). Harga juga tidak murah, (yakni) Rp 70.000 per kilo (bubuk). Atau harga satu gelas Rp 40.000.

Banyak warung kopi tradisional menyajikan kopi klasik. Padahal, kopirobustaLampung Barat digunakan untuk bahan kopi espresso coffee shop termasuk Starbucks. Kopi Lampung masih sangat okay.” Permasalahan lain, yakni munculnya negara penikmat kopi baru seperti Tiongkok, Rusia, dll. Life style menjadikan meningkatnya konsumen kopi. Penggunaan jumlah kopi yang meningkat dalam setiap penyajiannya (perubahan budaya dalam pola minum kopi, yaitu dari sistem konvensional (drip coffee) ke pola modern (espresso).

Akibatnya, kebutuhankopi mengalami peningkatan dari 8 gram menjadi 15 gram per cup. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bali, muncul fenomena event khusus untuk promosi produk kopi di pasar internasional. “Akhirnya kembali lagi, (permasalahan buat petani kopi), kami perlu teori bagaimana meningkatkan kesegaran kopi. Ini juga harus diketahui. Customer tidak merasa dan tidak mau dibohongi. Mereka merasa lebih nyaman kalau tahu seluk belukkopi yang mereka minum. Keuntungan lain bagi pemilik coffee shop, bisa jadi repeat customer, atau (kunjungan) regular.” (S.Liu)

Photo credit : Ist. Photo


Atti K.

close