Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Pemulihan Ekonomi Tergantung Situasi Demokrasi
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Pemulihan Ekonomi Tergantung Situasi Demokrasi

Didik Fitrianto Kamis, 24 September 2020 | 05:42 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Photo Credit: Aktifitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (29/03). Bank Indonesia menilai penguatan nilai tukar rupiah secara global belum menggangu daya saing produk ekspor Indonesia. ANTARA
Photo Credit: Aktifitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (29/03). Bank Indonesia menilai penguatan nilai tukar rupiah secara global belum menggangu daya saing produk ekspor Indonesia. ANTARA
Bagikan

Telegraf – Tidak bisa dipungkiri gejolak ekonomi akan selalu terkait dengan gejolak politik yang terjadi. Apalagi, dua aspek ini adalah sektor terpenting dalam sebuah negara. Mengingat, ekonomi ada kaitannya dengan politik terutama terkait kebijakan publik.

Penulis buku Reinventing Indonesia bersama Joseph J Stern “Menata Ulang Bangsa” Ginandjar Kartasasmita menyatakan, sistem demokrasi Indonesia saat ini sudah jauh lebih baik, sehingga bisa menopang ekonomi Indonesia untuk maju lebih baik. Meski begitu, perlu ada perbaikan dalam penerapannya.

“Demokrasi adalah sisi yang buruk, tapi belum ada sistem yang lebih baik dari demokrasi. Bahkan, bila ada yang bertanya apakah ingin kembali ke orde baru, saya jawab tidak. Kita hanya perlu belajar buat demokrasi yang baik, upayakan desentralisasi yang baik. Dan sisi politik perlu diperbaiki. Musuh utama adalah money politic, jabatan bisa dibeli sehingga tidak heran di provinsi tertentu ada dinasti politik,” ujarnya dalam Webinar Diskusi dan Peluncuran Buku Reinventing Indonesia di Jakarta, Rabu (23/09/2020).

Ekonomi dan politik, diakui Mantan Ketua DPD, sekaligus mantan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, yang juga Menteri Pertambangan dan Energi Ginandjar Kartasasmita, itu saling mempengaruhi. Sebagai contoh krisis moneter yang terjadi 1997/1998 menimpa banyak negara seperti Korea, Malaysia, tapi tidak separah Indonesia.

“Karena disana cuma krisis ekonomi, di kita krisis ekonomi menimbulkan krisis politik. Lalu, krisis politik memperburuk krisis ekonomi. Sehingga waktu itu, saat Presiden Habibie meneruskan berat sekali rasanya, rupiah sudah Rp 17.000 per dolar AS, tapi akhirnya bisa diperbaiki ke level Rp 7.000. Inflasi yang 70%-80% bisa ditekan menjadi single digit lagi. Krisis ekonomi yang satu setengah tahun parahnya bisa pulih dan itu diceritakan dalam buku ini,” ungkap Ginanjar.

Sementara itu, Rektor Universitas Paramadina Firmanzah menyayangkan semua hal yang ada di negeri ini dipolitisir, mulai dari angka pengangguran, kemiskinan, dan defisit. “Seolah-olah tidak ada ruang lain diluar politik,” imbuhnya.

Terkait desakan adanya langkah mengamandemenkan undang-undang yang merupakan produk dari lima tahun pertama pasca reformasi tepatnya 1998-2004, Firmanzah menilai hal itu bisa saja tepat dilakukan, mengingat sudah banyak perubahan. Namun, amandemen ini, tegas dia, jangan sampai dimasuki motif politik dan kepentingan elektoral.

Baca Juga :  Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

“Musuh terbesar kita saat ini adalah over political size society. Saya rasa buku ini (Reinventing Indonesia) bisa jadi oase yang tidak hanya menjelajah masa lalu, tapi bekal untuk kita menyongsong masa depan. Karena kalau kita masih over political size society rasanya sulit untuk kita menyusun dan memformulasikan tata ulang dan institusi yang dulu kita siapkan untuk menghadapi Indonesia 100 tahun kedepan,” katanya.

Untuk itu, dalam menghadapi penanganan pandemi Covid-19, Firmanzah berharap sisi kepentingan politik dapat dikesampingkan sejenak sehingga penanganan pandemi bisa tepat dan cepat.

“Sekarang dengan mudahnya ada dokter masuk ke ranah politik dan celakanya politik elektoral, bukan politik ideologi dan politik etis, tapi politik elektoral yang sifatnya lima tahunan. Jadi, bangsa ini tidak pernah berhenti untuk mendiskusikan, menstigmatisasi, memfragmentasi pilar bangsanya berdasarkan kacamata politik. Ini PR besar buat kita bagaimana bisa keluar sejenak dari aktivitas politik,” terangnya.

Dikatakan oleh ekonom sekaligus pengajar FEB UI Ninasapti Triaswati, kondisi krisis saat ini lebih hebat ketimbang krisis sebelumnya. Di mana, pendidikan menghadapi tantangan luar biasa besarnya mengingat rasio elektrifikasi belum 100% di semua daerah, namun harus menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh. Begitupun dengan perdagangan yang terguncang karena harus jaga jarak sebagai protokol pencegahan Covid-19.

“Tantangan kedepan ini jauh lebih berat. Pemerintah harus lebih cerdas, cepat, tepat,” tegasnya.

Buku Reinventing Indonesia, sebagai informasi menyajikan pandangan pelaku yang terlibat langsung tentang pergolakan transisi yang terjadi di Indonesia pada 1997-2004. Pada masa tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan yang sangat mendasar seperti demokratisasi dalam bidang politik dan desentralisasi kekuasaan yang membuat kekuasaan tersebar ke daerah-daerah. Dalam masa ini juga dilakukan amandemen UUD yang menjadi landasan Indonesia yang baru dan lebih demokratis. Perubahan-perubahan tersebut terjadi pada masa krisis keuangan dan ekonomi.


Photo Credit: Aktifitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (29/03). Bank Indonesia menilai penguatan nilai tukar rupiah secara global belum menggangu daya saing produk ekspor Indonesia. ANTARA

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit
Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara

Waktu Baca 11 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Aktivitas pelayanan di Kantor Regional 2 Jawa Barat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Bandung, Jawa Barat. JIBI/Rachman
Ekonomika

Lawan Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Masyarakat Melek Literasi Keuangan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?