Pemerintah Akan Perluas Area Tanam Jagung dan Bangun Silo Maupun Dryer

"Karena disana berpotensi memperluas area tanam baru, dimana di Sulawesi Utara banyak kebon kebon yang kosong terus kebun dibawah tegatan kelapa akan di gunakaa untuk tanam jagung"

Pemerintah Akan Perluas Area Tanam Jagung dan Bangun Silo Maupun Dryer


Telegraf, Jakarta – Jelang panen raya, Kementrian Pertanian (Kementan) lakukan rapat terpadu panen jagung dengan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), Bulog, Kementerian Desa dan PDT, Asosiasi Peternak Layer Nasional dan TNI dalam rangka sinergi penanganan pasca panen Jagung.

Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Gatot Sumarjo Irianto usai rapat menegaskan kepada GPMT agar memberikan informasi terkait pemetaan berapa Silo yang akan dibangun,dan kapasitasnya untuk menampung stok jagung saat masa panen. “Pihak GPMT akan melaporkan ke kami tiap bulan mengenai pemetaan beberapa silo dan dryer yang akan di bangun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gatot mengatakan bahwa Kementan fokus pada perluasan areal tanam agar areal tanam jagung di Sulawesi Utara karena daerah tersebut adalah daerah yang cukup banyak kebun-kebun yang kosong dan tegatan kelapa yang akan di gunakan untuk penanaman jagung.

“Karena disana berpotensi memperluas area tanam baru, dimana di Sulawesi Utara banyak kebon kebon yang kosong terus kebun dibawah tegatan kelapa akan di gunakaa untuk tanam jagung,” jelasnya.

Menurut Gatot target perluasan lahan tanam untuk tahun 2017 adalah 500 ribu hektar (H) dimana sampai saat ini sudah mencapai 350 ribu H “kami inginnya 500 ribu h dan sudah mencapai 350 ribu H,” Ungkapnya

Di temui di tempat yang sama Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan diminta untuk aktif memetakan dimana silo dan dryer dibangun serta kapasitanya yang rencana akan di bangun silo 2 dan dryer 2 antara lain di daerah sentra produksi jagung seperti di Sulawesi Utara dan pembangunan dryer di Gorontalo.

Baca Juga :   Ini Kata Presiden FSPPB Terkait Penanganan Kebakaran Kilang Minyak Cilacap

“Kita diminta kita aktif memetakan dimana silo yang sedang dibangun dan berapa kapasitasnya sehingga kita diminta untuk mengupdate seperti Sulawesi Utara dan Gorontalo,” paparnya.

Budi menerangkan pemerintah harus membangun silo dan dryer di sentra produksi jagung khususnya yang berada di Sulawesi Utara dan Gorontalo dikarenakan dikedua daerah tersebut sebagai sentra produksi tetapi tidak ada pabrik pengolahan pakan, budi menyampaikan bottlenecknya adalah harus dikeringkan terlebih dahulu karena proses distribusi yang memperlukan cukup waktu sehingga harus dikeringkan hingga 13 persen.

“Contohnya itu Sulawesi Utara, sentra produksi jagung baru tapi disana tidak ada pabrik pengolahan pakan ataupun Gorontalo akhirnya terpaksa saya informasikan bahwa neksnya adalah di dryer dan silonya, klopun nanti produksi banyak mau di ekpor harus dikeringkan dulu maksimal harus 13 persen,” lanjutnya. (Red)

Photo credit : Ist. Photo


Atti Kurnia

close