Panen Telur Bareng Peternak Magetan, Ganjar Ingat Masa Susah Saat Kecil

“Hari ini harga jagung cukup tinggi menjadi keluhan peternak. Rasa-rasanya petani yang punya kompetensi bisa membantu,”

Oleh : Didik Fitrianto

Telegraf – Ganjar Pranowo panen telur bareng komunitas peternak ayam petelur di Desa Kuwongaro, Kecamatan Takeran, Magetan, Jumat (19/01/2024). Capres nomor urut 3 itu malah ingat masa susahnya waktu kecil.

Awalnya, Ganjar tiba di lokasi disambut meriah peternak dan warga setempat. Mereka berjajar di sepanjang jalan menuju kandang ayam, bersorak dan meminta salaman juga berfoto bareng.

Lalu, Ganjar diajak Suwondo, salah seorang peternak untuk panen telur. Tanpa ragu, Ganjar pun masuk ke dalam kandang berbau tak sedap itu. Mengenakan kaos putih bertuliskan “sat set” dan tiga jari, Ganjar memungut telur satu per satu dan menaruhnya di wadah plastik.

Momen itulah yang membuat mantan Gubernur Jawa Tengah dua periode itu teringat susahnya masa kecil yang penuh dengan perjuangan.

“Wah, saya malah teringat masa kecil dulu, kalau panen telur begini,” ujar Ganjar.

Ia mengisahkan, dulu dia punya tetangga yang punya usaha ternak ayam petelur. Jadi, tiap panen, Ganjar dan suadara-saudaranya ikut membantu.

Di saat panen itulah, Ganjar bisa menikmati makan telur yang jarang dilakukan. Itu pun, satu telur matang harus dibagi menjadi empat bagian, dan dipotong menggunakan benang.

“Jadi kalau pas panen itu kita bisa makan enak, ya makan telur itu. Tapi satu telur itu dibagi jadi empat. Cara potongnya pakai benang,” kenang Ganjar.

Usai panen, Capres nomor urut 3 yang berpasangan dengan Mahfud MD itu berdialog dengan para peternak. Dari situ, peternak mengeluhkan susahnya mencari jagung, pakan utama untuk ayam.

“Hari ini harga jagung cukup tinggi menjadi keluhan peternak. Rasa-rasanya petani yang punya kompetensi bisa membantu,” kata Ganjar.

Tak kalah penting, pemerintah segera turun tangan untuk mencari solusi atas keluhan peternak. Jika itu tidak dilakukan, maka peternak akan merugi.

“Kalau di Jawa Tengah dulu pernah kita lakukan untuk kerjasama dengan petani. Kalau mahal kita subsidi. Jadi, pemerintah harus bisa membantu, mereka hanya butuh jagung, bekatul dan konsentrat. Konsentrat mereka juga bisa buat sendiri,” tandasnya.

Lainnya Dari Telegraf


 

Copyright © 2024 Telegraf. KBI Media. All Rights Reserved. Telegraf may receive compensation for some links to products and services on this website. Offers may be subject to change without notice. 

Telenetwork

Kawat Berita Indonesia

close