Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca ‘Ngalap Berkah” Dari Madu Lebah
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.
Humaniora

‘Ngalap Berkah” Dari Madu Lebah

MSN Senin, 12 Agustus 2024 | 13:45 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Memanen Madu Lebah di Desa Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta
Bagikan

KULONPROGO, TELEGRAF.CO.ID — Sebuah pohon randu cukup besar berdiri kokoh ditengah hutan, tidak ada aktivitas apapun disekitar itu kala itu. Bersanding dengan batu, yang kerap dianggap keramat oleh orang – orang yang mempercayainya. Menurut cerita, pohon randu yang berdiameter 4 meter tersebut banyak di hinggapi koloni lebah madu. Saat pohon tersebut tumbang, lebah madu tersebut berpindah dan bersarang di bebatuan tersebut, dan hingga kini dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat sekitar baik sebagai penopang ekonomi masyarakat dari hasil madu, serta sebagai tatanan dan warisan leluhur karena banyak mengandung filosofi Jawa dan agama.

 

Heri Kurniawan (38), adalah salahsatu penggiat madu lebah di Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, DIY. Sudah empat tahun Heri menekuni perihal maduh Lebah. Awalnya Heri memang mengelutinya dengan tujuan untuk bisnis dan komersial, Sebulan bisa menghasilkan 100 botol madu lebah dari berbagai level. Tiap level dibedakan dengan tingkat kepahitannya. Ada tujuh level dalam madu yang dihasilkan menurut Heri, semakin pahit, semakin berada pada level tingkat yang tertinggi.

‘Glodokan’ dari potongan batang kelapa yang dibelah sebagai sarana panen madu lebah.

Dan kadang, madu berkualitas ini menjadi incaran para konsumen yang tersebar di berbagai daerah. “Biasanya yang datang kesini mencari yang kegunaannya untuk obat” ujar Heri.

Seiring dengan perjalananpun usaha heri carut marut dan diambang kebrangkrutan. Dari situlah titik terendah Heri  untuk instropeksi dan mengeveluasi bisnis madu lebahnya.

Berawal dari mimpi, Heri menerima petunjuk tentang apa yang harus dilakukan untuk bangkit dari keterpurukan. Berbagai pesan dan perintah dilakoninya sesuai isyarat, yang memang masih berpegang pada filosofi Jawa dan Islam sebagaimana kepercayaan yang Heri Ikuti. Walhasil, lambatlaun keterpurukan berangsur – angsur hilang dan cukup terbilang moncer.

 

Madu lebah yang tadinya untuk murni komersial, tidak lagi menjadi prioritas Heri. Karena memiliki beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan. Seperti menjual lebah, menjual tempat penampung madu, tidak berperilaku dan berkata kotor, dan beberapa pantangan lainnya.

Heri Kurniawan

“Legowo, adalah syarat terberat dari semua ini, karena legowo itu artinya ‘menerima’. Tetapi setingkat lebih tinggi dari makna ikhlas” imbuh Heri, ayah beranak satu ini.

Dari bangkitnya Heri yang cukup signifikan ini, kini mendirikan perkampungan madu lebah yang dinamai ‘Kampung Tawon Randu Alas’ yang lokasinya tak jauh dari Kantor Lurah Hargotirto.

Sistem pemanen madunya pun cukup klasik dan masih tradisional. Menggunakan ‘glondongan’, yaitu potongan batang pohon kelapa berukuran 50cm, dan dibelah sebagai tempat lebah unutk memproduksi madu secara alami. Ada lebah Klanceng yang sarangnya menempel pada batu yang tidak bisa dipindahkan dari tempat lain.

Memanennya pun memerlukan ‘lelaku’ yang harus dijalankan. Misalnya, saat berada di dekat sarang dan glodokan, tidak boleh memegang alat vital kita karena lebah akan menyerang dan menyengat. Dan menyematkan daun sebagai simbol pendingin dan ketenangan yang berasal dari alam. “Memang ini terlihat semacam mitos, tapi ini benar-benar terjadi, kalo tidak percaya silahkan coba” tandas Heri.

Klanceng

Kini, usaha Heri mulai stabil, bukan dari komersialisasi lebah madu dan Kampung Tawon Randu Alas, melainkan menjadi sarana “Ngalap Berkah” semata dengan menjaga keberadaan dan tatanan budaya serta kelestariannya.

Heri beserta istri memilih sebagai wiraswasta untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Kalopun dari hasil madu, kini hanya tinggal 3 buah glodokan yang dihasilkan, yang semula memiliki 40 buah glodokan.

Konsep menjaga tatanan budaya yang dilakukan Heri membuat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, datang ke Kampung Tawon Randu Alas untuk melihat langsung beberpa tahun silam.

Tukiyo, Lurah Hargotirto mengatakan cukup senang dengan munculnya Kampung Tawon Randu Alas yang dimotori Heri Kurniawan ini, dan berjanji akan dibuatkan Peraturan Kalurahan (Perkal) untuk mendukung kelestarian budaya Lebah Madu dan mendorong perekonomian warga setempat.

Konten Kreator Desa Hargotirto saat melakukan proses produksi Video Pembelajaran

Cerita dari potensi desa ini,  ditangkap dan dijadikan Video Pembelajaran oleh para Konten Kreator Desa setempat yang tergabung dalam Konten Kreator Akademi Desa saat melakukan produksi video dalam kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tingkat Dasar Produksi Video Pembelajaran yang diselenggarakan Kementerian Desa PDTT yang berlangsung 9-14 Agustus 2004, di Kecamatan Kokap, Kulonprogo. (Teks & Foto : Abdul Malik MSN)

 

 

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kupas Jaran Kepang Temanggung, Agus Gondrong Ditunggu Tropi Abyakta Pada Puncak HPN 2026.
Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional
Waktu Baca 4 Menit
DPP GMNI Dorong Hilirisasi Adil dan Berkelanjutan untuk Bangsa
Waktu Baca 5 Menit
Bank Jakarta Luncurkan Kartu Debit Visa, Gubernur Dorong Transformasi dan Persiapan IPO
Waktu Baca 3 Menit
Rock Ngisor Ringin Part #2 Jadi Ajang Kumpul Musisi Rock Tanah Air
Waktu Baca 4 Menit

Program FLPP Capai Rekor 263 Ribu Unit, BTN Dominasi Penyaluran Rumah Subsidi Nasional

Waktu Baca 4 Menit

BSN Resmi Beroperasi Usai Spin-Off dari BTN, Bidik Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional

Waktu Baca 3 Menit

Tradisi Warga Indonesia Dalam Merayakan Malam Tahun Baru di New York

Waktu Baca 6 Menit

OJK Bentuk Departemen UMKM dan Keuangan Syariah, Pengawasan Bank Digital Berlaku 2026

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Humaniora

Jejak Soeharto The Godfather of Orde Baru, Dari Militer, Kudeta Hingga Dilengserkan

Waktu Baca 12 Menit
Heroes and the Meaning of Sacrifice
Humaniora

Bangkitlah Dengan Nurani, Setiap Zaman Butuh Pahlawan Baru

Waktu Baca 2 Menit
Humaniora

Rumuskan Solusi Stunting dan Anemia, Ilmuwan Mesir dan Turki Berkumpul di UNU Yogyakarta

Waktu Baca 6 Menit
Humaniora

Merayakan Inisiatif Perdamaian Global, UNU Jogja – Indika Foundation Gelar “2R: Ruang Riung

Waktu Baca 6 Menit
Humaniora

Mayoritas Penyandang Disabilitas Tak Kuliah dan Tak Bekerja

Waktu Baca 5 Menit
Humaniora

Trah Sultan HB II Desak Pembentukan Komite Pengembalian Aset Kraton Yogyakarta

Waktu Baca 3 Menit
Peta fungsi lahan daerah Tamambaloh (data dari Sangga Bumi Lestari)
Humaniora

Masyarakat Tamambaloh Menolak Sawit: Ancaman di Hulu Sungai Embaloh Makin Nyata

Waktu Baca 6 Menit
Humaniora

Borobudur Butuh Revitalisasi Nilai Spiritual

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?