Menkes : Pandemi Covid-19 Mengubah Perilaku Masyarakat Lebih Higienis

"Perubahan prilaku tersebut gak bisa dilakukan oleh Kementrian Kesehatan tidak bisa dilakukan oleh TNI, Polri tapi harus dilakukan oleh masyarakat itu sendiri di kehidupan mereka, sehari hari di mana peran guru peran ibu akan menjadi sangat dominan"

Menkes : Pandemi Covid-19 Mengubah Perilaku Masyarakat Lebih Higienis


Telegraf – Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menyampaikan dalam webinar bertajuk “One Year Live With Covid-19 : What’s Next?” pandemi Covid-19 sudah satu tahun melanda di Indonesia dan merubah perilaku terkait dengan kesehatan, dan perilaku tersebut tidak bisa dilakukan sebagian kelompok saja, melainkan seluruh masyarakat.

“Perubahan perilaku tersebut gak bisa dilakukan oleh Kementrian Kesehatan tidak bisa dilakukan oleh TNI, Polri tapi harus dilakukan oleh masyarakat itu sendiri di kehidupan mereka sehari hari di mana peran guru peran ibu akan menjadi sangat dominan,” ungkap Budi, Minggu (14/3).

Budi menjelaskan dari pandemi pandemi sebelumnya kita belajar bahwa, pandemi ini akan bisa berakhir tetapi tidak dengan instan perlu proses dan bertahap. “Bagaimana kita mencuci tangan, sikat gigi kemudian membuang sampah semuanya berlaku dengan higienis atau kebersihan itu secara masif terjadi karena respon dari umat manusia terhadap pandemi tersebut dan perubahan prilaku,”ungkapnya.

Budi mencontohkan pandemi yang terjadi tiga belas ribuan di Eropa yang bisa membunuh ratusan juta orang itu bisa hilang “tetapi secara bertahap gak pernah cepet, pasti membutuhkan waktu yang lama berubah ke epidemi kemudian pelan pelan di eradikasi, tapi yang terjadi adalah perubahan perilaku,” tuturnya.

Ia menyebutkan bahwa apa yang di anjurkan dalam 4 pilar oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tersebut adalah karena dari pengalaman sebelumnya, seperti pada pilar pertama yang menyebutkan bahwa healt sistem musti di modifikasi merespon terhadap pandemi yang ada.

Pilar kedua adalah deteksi, cegah, dan obati Virus tidak akan dapat dilawan jika tak diketahui di mananya. Hal tersebut mengartikan perlu adanya pengawasan yang kuat untuk menemukan, mengisolasi, menguji, dan menangani setiap kasus dengan tujuan memutus rantai penularan. “Jangan sampai yang tertular itu lebih tinggi dari kapasitas layanan kesehatan kita,” kata Budi.

Lanjut Budi untuk pilar yang ke tiga adalah lakukan vaksinasi secepat mungkin agar manusia imunitasnya lebih sehat lebih kuat kalau jika kena tidak menjadi fatal, dan yang ke empat adalah mensasar orang orang yang sakit kalau sudah benar benar sakit “20 persen masuk Rumah Sakit (RS) dan 5 persen masuk ICU yang pertama yah harus ditangani dengan baik,” imbuh Budi.

Budi mengajak temen temen di RS membuat standar Clinical yang baik, serta jangan bosan melakukan Clinical Research supaya kita tau tretmen yang cocok. Budi juga berharap bahwa Fakultas kesehatan Masyarakat (FKM) UI dituntut untuk memimpin kita “saya tugasnya mensuport temen temen,” tutupnya.

Untuk di ketahui webinar digelar RS Premier Bintaro bekerjasama dengan IKAMARS, Kemenkes, IDI, RSCM, Pertamina IHC, Radio Heartline 100.6 FM dan ISS Indonesia tersebut menampilkan sejumlah narasumber yang sangat kompeten yakni Direktur Utama RSCM Dr. Lies Dina Liastuti, Sp.Jp (K) MARS, Direktur Utama PT. Pertamina Bina Medika IHC DR. dr. Fathema Djan Rachmat, sp.B, Sp.BTKV (K) MPH, Ketua IDI Banten Dr. Budi Suhendar, DFM, Sp.FM (K), Ketua Komite Medik RS Premier Bintaro dan Ketua Keselamatan Pasien RI Dr. Bambang Tutuko, Sp.An KIC dan Commercial Director ISS Indonesia Muhammad Sofyan.

Dari webinar tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang komprehensif dan optimal mengenai pelaksanaan hidup pada masa pandemi.


Photo credit : Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin /Doc/Ist


 

Atti K.

close