Mendag Meminta CEO Sawit Samakan HET

Mendag Meminta CEO Sawit Samakan HET

"Mengenai gula semua sama yaitu Rp12.500/kg, dibawah itu boleh diatas itu tidak boleh seperti yang sudah saya sampaikan ada satu toko menjual dengan kemasan yang bagus tetapi harganya tinggi saya minta untuk tidak dijual, silahkan saja tetapi sejauh harganya Rp12 500/kg, kalau mau kemasan bagus sekali nantilah jualnya tahun 2019"

Mendag Meminta CEO Sawit Samakan HET


Telegraf, Jakarta – Menteri Perdagangan ( Mendag) Enggartiasto Lukita, hadirkan sejumlah CEO perusahaan perkebunan sawit dan produsen minyak goreng untuk memastikan dan diminta menjaga stok dan harga minyak goreng sesuai harga eceran tertinggi (HET) serta sesuai dengan kemasan, di kantornya Jakarta pusat, senin, 17/4/17.

Dalam pertemuan itu para CEO seperti Franky Widjaja dari Sinar Mas, Fransiskus Welirang dari Indofood, Peter Sondakh dari Rajawali, dan perwakilan perusahaan sawit lainnya seperti Asian Agri, Wilmar, Astra Agro Lestari, serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit, mendukung langkah langkah yang di gagas pemerintah dengan harga yang sudah di tentukan dan mendorong dalam penyediaan stock untuk kebutuhan masyarakat khususnya.

Enggar menjelaskan harga eceran tertinggi (HET) yang sudah disepakati adalah untuk gula Rp12.500/kilogram (kg), untuk daging beku Rp80.000/kg, untuk minyak curah seharga Rp10.500/liter, dan untuk minyak dengan kwalitas sama dengan curah dengan mengunakan pacaging sederhana Rp11.000/liter, sedangkan untuk kemasan yang premium pemerintah tidak ikut intervensi berapapun pengusaha jual dipasaran, pemerintah khususnya kemendag fokus pada harga kwalitas curah.

“Mengenai gula semua sama yaitu Rp12.500/kg, dibawah itu boleh diatas itu tidak boleh seperti yang sudah saya sampaikan ada satu toko menjual dengan kemasan yang bagus tetapi harganya tinggi saya minta untuk tidak dijual, silahkan saja tetapi sejauh harganya Rp12 500/kg, kalau mau kemasan bagus sekali nantilah jualnya tahun 2019,” ujarnya.

Enggar menuturkan harga tersebut diatas disepakati dan sudah efektif berjalan mulai tangal 10 april yang lalu di seluruh retail modern untuk 3 komoditi tersebut, di seluruh indonesia seperti di Jayapura, Ambon, Bangkabelitung, serta bali, menurutnya fokus di retail modern karena lebih mudah mengendalikan harga dimana harga di retail modern ini adalah price leader.

“Kenapa kita masuk ke pasar retail modern lebih fokus dan merata megendalikannya lebih mudah dan mereka price leader misalkan kalau di pasar retail modern harga gula Rp12.500 tidak mungkin di pasar tradisional diatas itu, yang menjadi soal adalah laba yang semula lebih dari Rp1000-1500 maka mereka harus kembali ke laba yang normal dan semua berlaku umum,” tutupnya. (Red)

Credit foto : Atti kurnia


 

Atti Kurnia

close