Kreatif dan Terus Berkarya di Era New Normal ini Contoh dari GSUI

"GSUI itukan dinamis dan ingin menenjadi bagian semangat itu, bentuknya adalah kita akan berpartisipasi dengan terus berkarya, tetapi dengan mematuhi protokol kesehatan mengunakan masker, menjaga jarak terapi terus berkarya seperri yang kita lakukan hari ini, terus lakukan oengalangan dana dengan sinergitas berbagai penggiat seni"

Kreatif dan Terus Berkarya di Era New Normal ini Contoh dari GSUI

Telegraf, Jakarta – Setelah kurang lebih tiga bulan (pertengahan Maret hingga pertengahan Juni) dengan anjuran pemerintah di rumah saja, kini pemerintah mengajak masyarakat dengan new normal untuk mengerakkan roda perekonomian, serta kehidupan sosial, walaupun pandemi masih mengintai.

Pemerintah mengajak agar masyarakat Indonesia berani berdampingan dengan covid-19 bentuknya apa. Berani nomor satu, yang kedua sesuai dengan protokol kesehatan. Kita di Gerakan seribu Untuk Indonesia (GSUI) mengajak masyarakat untuk bangkit dan terus berkarya. Hal itu diungkapkan Herry Koko Santoso pendiri GSUI di Jakarta.

“GSUI itukan dinamis dan ingin menenjadi bagian semangat itu, bentuknya adalah kita akan berpartisipasi dengan terus berkarya, tetapi dengan mematuhi protokol kesehatan mengunakan masker, menjaga jarak terapi terus berkarya seperri yang kita lakukan hari ini, terus lakukan pengalangan dana dengan sinergitas berbagai penggiat seni,” ungkap Koko  sapaan akrap Herry Koko Santoso saat melakukan sinergisitas antara maestro kaligrafi Goes Noeg dengan penyanyi dan pencipta lagu Ote, Kamis (18/6).

Kreatif dan Terus Berkarya di Era New Normal ini Contoh dari GSUI

Koko menyebutkan di new normal ini kita harus berani berdampingan dengan Covid -19, tetapi harus terus memperhatikan protokol kesehatan, masyarakat yang memiliki penyakit bawaan harus lebih berhati hati, dan masyarakat yang memiliki umur dibawah 45 tahun harus terus berkarya seperti biasa.

Seperti halnya yang di lakukan oleh GSUI adalah sinergitas antara GSUI dan Goes Noeg serta Ote Abadi dengan hasil kolase yang menyatukan potongan potongan kertas beraneka bentuk dan corak yang di tempel dalam sebuah kanvas dalam frame tetapi masih dalam batas.

“Nggladrah, dalam dalam bahasa Jawa artinya, kondisi yang tidak tau aturan dan semau ‘gue’ tetapi masih ada Tuhan yang membatasi,” tutur Goes Noeg sesaat sebelum membuat kolase.

Baca Juga :   Keikhlasan Adalah Ruh DD Hingga Memasuki Umur Duapuluh Tujuh Tahun

Ia juga mengungkapkan apa yang di ceritakan hasilnya menjadi visualisasi cerita, untuk itu jangan mati dengan konsep tetapi harus menghidupkan dengan tidak meninggalkan benang merah.

Dalam membuat kolase Ote Abadi mengiringi Goes Noeg melalui musik dengan berbagai genre musik’ sinergitas tidak hanya di lakukan oleh kedua pencinta seni tersebut tetapi melibatkan seluruh yang hadir dalam agenda tersebut, seperti seluruh pengurus GSUI, pecinta seni yang hadir dan tidak ketinggalan para awak media ikut andil dalam kolase “nggladrah” tersebut. (AK)


Credit photo:  Goes Noeg dan Ote Abadi usai sinergitas membuat kolase di Jakarta, Kamis (18/6)/ telegraf

Tanggapi Artikel