Ingin Hindari Impor Pangan, Mentan Dinilai Realistis dan Logis

"Sehingga perlu impor supaya pangan aman dan kebutuhan masyarakat terpenuhi kan. Asal sesuai syarat dan untuk tujuan memenuhi kebutuhan saja,"

Ingin Hindari Impor Pangan, Mentan Dinilai Realistis dan Logis

Telegraf, Jakarta – Tekad Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo yang ingin menghindari impor pangan menuai tanggapan positif, khususnya dari kalangan akademisi.

Pengamat pertanian dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Yunus Musa, mengungkapkan bahwa pernyataan Syahrul Yasin Limpo merupakan sikap yang logis dan realistis dalam sistem pengelolaan pangan nasional.

“Saya kira begitu yang obyektf ya. Jangan terlalu kaku menolak impor pangan. Saya kira lebih tepat menghindari impor pangan. Mentan sekarang memahami itu,” ungkapnya dalam keterangan resminya, di Jakarta, Sabtu (09/11/19).

Yunus menilai, kadang dalam kebutuhan pangan sebuah negara, termasuk Indonesia, ada stok mendesak demi stabilisasi. Namun, komoditas itu sedang tidak ada atau jarang.

“Sehingga perlu impor supaya pangan aman dan kebutuhan masyarakat terpenuhi kan. Asal sesuai syarat dan untuk tujuan memenuhi kebutuhan saja,” ujarnya yang juga mantan Dekan Fakultas Pertanian Unhas.

Sedangkan menghindari, Yunus mengatakan, cenderung mengoptimalkan kemampuan produksi pangan sendiri untuk kebutuhan domestik. Namun tak anti-impor demi hajat kesejahteraan masyarakat.

Sebagai informasi, pasca-baru dilantik menjadi Mentan Syahrul Yasin Limpo menyampaikan jika dirinya akan berusaha maksimal menghindari dilakukannya kebijakan impor pangan untuk stok dalam negeri.

Syahrul Yasin Limpo bertekad soal ketersediaan pangan Indonesia berasal dari hasil produksi lokal yang telah berhasil melaksanakan swasembada.

Kendati begitu, Syahrul Yasin Limpo menyebutkan, jika memang keadaan terdesak, maka dapat saja impor pangan diterapkan. Tujuannya agar stabilitas pangan terjaga dan harga terjangkau oleh masyarakat. (Red)


Photo Credit : Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam peringatan ke-39 Hari Pangan Sedunia (HPS) di Sulawesi Tenggara, Sabtu (2/11). JPNN/Rama Sakti



Komentar Anda