Hari Pahlawan, Generasi Millennial Hadapi Tantangan Berbeda

"Berbagai isu yaitu hoax, ujaran kebencian, SARA terutama menjelang konstetasi pemilu ini isu-isu tersebut banyak berseliweran di sosial media sehingga jika terus dibiarkan seperti itu akan terciptanya perpecahan antar bangsa."

Hari Pahlawan, Generasi Millennial Hadapi Tantangan Berbeda

Telegraf, Jakarta – Tanggal 10 November sudah ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Tentu ini menjadi momentum untuk mengenang secara kolektif semangat patriotisme dan nasionalisme para pejuang bangsa ini. Memang memaknai nilai-nilai kepahlawanan saat ini tidak harus dengan mengangkat senjata dan tidak harus turun di medan perang. Namun, dengan menjaga negara Indonesia tetap utuh pun salah satu bentuk menghargai atas hasil perjuangan pahlawan.

Untuk itu, setiap generasi dapat menampilkan sifat-sifat umum dan unik. Latar belakang ekonomi, politik, dan sosial yang memengaruhi budaya dan menciptakan dampak yang langgeng. Perubahan tentu tidak dapat sepenuhnya dipahami untuk beberapa waktu, biasanya butuh waktu agar karakteristik unik dari generasi berikutnya menjadi diakui.

Pandangan itu diucapkan oleh motivator nasional di bidang leadership dan happiness, Arvan Pradiansyah, kepada tim telegraf.co.id, di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Menurutnya, tantangan di dada generasi milenial ini berbeda dengan era sebelum kemerdekaan. Era milenial tidak lagi berjuang secara fisik untuk melepaskan diri dari Penjajahan Belanda. Namun tantangannya adalah menjaga keutuhan NKRI yang mulai menjadi sebuah ancaman jika kita sebagai warga negara Indonesia tidak saling menjaga.

“Berbagai isu yaitu hoax, ujaran kebencian, SARA terutama menjelang konstetasi pemilu ini isu-isu tersebut banyak berseliweran di sosial media sehingga jika terus dibiarkan seperti itu akan terciptanya perpecahan antar bangsa.” ungkap Arvan.

Lebih lanjut, Arvan memaparkan bahwa untuk menjadi pahlawan di era milenial,  ada tiga kriteria yang harus dimiliki. Yaitu; pertama, Memiliki wawasan kebangsaan, Kedua, memiliki karakter berani, peduli, dan mau berkorban dan ketiga Menguasai media sosial.

“harus memiliki wawasan kebangsaan. Karena, sejarah bangsa kita dimulai pada tahun 1945, yang menyepakati bahwa Pancasila dan NKRI sebagai harga yang tidak bisa ditawar. dan karakter berani, peduli, dan mau berkorban pun semakin langka. Serta menguasai media sosial. Dengan media sosial, kita bisa memperluas cakupan kebaikan yang kita lakukan.” paparnya. (Red)

Baca Juga  HUT RI Ke-74, Gledex Logistics Kembali Menggelar Program CSR

 

Photo Credit : Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional

 

Share



Komentar Anda