Hampir 70% Defisit Ditutup Oleh Perdagangan Antara Indonesia dan China

“Jika kita melihat Indonesia dan China dalam segi kemitraan strategis, artinya kita tadinya adalah teman dan sekarang kita adalah sahabat,”

Hampir 70% Defisit Ditutup Oleh Perdagangan Antara Indonesia dan China

Telegraf – Perdagangan Indonesia dan China berhasil menutup defisit hampir 70 persen di tengah pandemi Covid-19.

Volume perdagangan kedua negara pada 2020 mencapai USD78,5 miliar atau sekitar Rp1.141 triliun, dan total ekspor Indonesia mencapai USD37,4 miliar atau sekitar Rp543 triliun.

Hal tersebut disampaikan oleh Duta Besar (Dubes) RI untuk China Djauhari Oratmangun, usai diskusi terkait kesempatan kemitraan bisnis di Tiongkok pada masa pandemi Covid-19 yang digelar oleh Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) atau Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia, melalui keterangan tertulisnya, Kamis (o1/04/2021).

“China merupakan salah satu mitra perdagangan Indonesia yang terdepan,” katanya.

Hubungan kedua negara juga berkembang dengan cepat dalam tatanan antar-pemerintah dan antar-masyarakat. Demikian pula dalam konteks perdagangan dua arah, investasi, kebudayaan dan sosial, serta kerja sama pariwisata.

Ia menuturkan, sejak 2016, investasi China ke Indonesia terus meningkat. Dan dalam tiga tahun terakhir, negara ini menempati posisi sebagai penanam modal asing terbesar kedua di Indonesia.

Pada 2020, realisasi investasi China di Indonesia mencapai USD4,8 miliar atau sekitar Rp69,7 triliun.

Selain itu, Dubes juga mendorong kedua negara terus memperkuat kerja sama, mengingat masih luas potensi yang dapat digali dalam hubungan kedua negara, yang telah mencapai tujuh dekade.

“Jika kita melihat Indonesia dan China dalam segi kemitraan strategis, artinya kita tadinya adalah teman dan sekarang kita adalah sahabat,” terangnya.

Baca Juga :   Industri Halal Diyakini Mampu Dongkrak Pemulihan Ekonomi Nasional Saat Pandemi

Photo Credit: Aktifitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (29/03). Bank Indonesia menilai penguatan nilai tukar rupiah secara global belum menggangu daya saing produk ekspor Indonesia. MI/RAMDANI

 

Shan Santi

close