Firdaus Djaelani: Nelayan, Pelaku UMKM dan Daerah Tertinggal Harus Tersentuh

Firdaus Djaelani: Nelayan, Pelaku UMKM dan Daerah Tertinggal Harus Tersentuh

"Kita terus mulai terjun langsung kelapangan membuktikan dedikasi dan mendorog seluruh lapisan masyarakat untuk mengenal dan memahami pentingnya asuransi, kita harus menyentuh kalangan masyarakat, nelayan dan masyarakat pesisir, pelaku usaha umkm dan masyarakat di daerah tertinggal. Pada intinya industri asuransi harus berani melakukan penetrasi pasar yang baru agar seluruh lapisan masyarakat kita dapat memperoleh perlindungan terhadap jiwa dan harta bendanya"

Firdaus Djaelani: Nelayan, Pelaku UMKM dan Daerah Tertinggal Harus Tersentuh

Telegraf, Jakarta – Untuk membuktikan dedikasi dan mendorong seluruh lapisan masyarakat industri Asuransi harus menyentuh kalangan masyarakat nelayan, masarakat pesisir, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah dan daerah daerah tertinggal, dan berani melakukan penetrasi pasar baru agar seluruh masyarakat pemperoleh perlindungan jiwa, dan harta bendanya.

Hal itu disampaikan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Firdaus Djaelani saat sambutan dalam acara Insurance Award 2017 yang di selenggarakan oleh Media Asuransi di Jakarta, (7/6/17).

“Kita terus mulai terjun langsung kelapangan membuktikan dedikasi dan mendorog seluruh lapisan masyarakat untuk mengenal dan memahami pentingnya asuransi, kita harus menyentuh kalangan masyarakat, nelayan dan masyarakat pesisir, pelaku usaha umkm dan masyarakat di daerah tertinggal. Pada intinya industri asuransi harus berani melakukan penetrasi pasar yang baru agar seluruh lapisan masyarakat kita dapat memperoleh perlindungan terhadap jiwa dan harta bendanya,” tuturnya.

Firdaus menjelaskan Indonesia adalah negara yang berpotensi untuk mengembangkan industri asuransi karena populasi masyarakatnya sangat besar, serta pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil ini merupakan daya tarik tersendiri bagi pasar indonesia, firdaus menambahkan Eropa dan Amerika merupakannegara yang tertarik untuk mengembangkan Industri Asuransi.

Selain pengembangan pasar yang menyentuh kalangan bawah Firdaus mengatakan pelaku industri Asuransi uga harus memiliki konsen terhadap perkembangan Sumber daya manusia (SDM), mengingat perkembangan industri asuransi banyak tantangann yang harus diimbangi dengan perkembangan SDM yang full skile, seperti Aktuaria, dan Rist managemen serta Teknologi Informasi Sistem (IT).

Sementara Pemimpin Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil mengatakan asuransi umum masih terpengaruh oleh kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih di tahun lalu. Hal ini terlihat dari nilai aset 75 perusahaan asuransi umum di tahun 2016 tercatat sebesar Rp125,39 triliun. Naik dua persen jika dibandingkan aset 2015 sebesar Rp122,85 triliun.Adapun total premi langsung di tahun 2016 tercatat sebesar Rp53,67 triliun, turun satu persen dibandingkan premi langsung 2015 yang sebesar Rp54,39 triliun.

Baca Juga :   BTN Umumkan Pertumbuhan Laba Bersih Kuartal III 2021 Naik 35,32 Persen

“Pertumbuhan ekonomi di tahun 2016 sebesar 5,02 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2015 yang tercatat sebesar 4,76 persen, tidak langsung mendongkrak pertumbuhan premi langsung asuransi umum,” tandasnya.

Walau pertumbuhan premi langsung memang negatif, menurut Mucharor Djalil, premi neto asuransi umum masih mencatatkan pertumbuhan positif yakni sebesar empat persen. Jika di tahun 2015 premi neto asuransi umum tercatat sebesar Rp28,58 triliun, di tahun 2016 nilainya naik menjadi Rp29,86 triliun. Pertumbuhan yang positif juga terjadi pada nilai ekuitas dan investasi. Untuk ekuitas, pertumbuhannya mencapai tujuh persen, dari Rp44,87 triliun di tahun 2015 menjadi Rp48,22 triliun di tahun 2016. Sedangkan investasi tumbuh empat persen, yakni dari Rp59,45 triliun di tahun 2015 menjadi Rp61,58 triliun di tahun 2016.

Sayangnya, walau nilai klaim bruto turun sekitar tiga persen, nilai klaim neto justru melonjak sebesar 17 persen. Klaim bruto 2015 sebesar Rp28,5 triliun, turun menjadi Rp27,76 triliun di tahun 2016. Sedangkan klaim neto naik dari Rp16,96 triliun di tahun 2015, menjadi Rp19,9 triliun di tahun 2016. Jumlah beban juga tumbuh tinggi, yakni sebesar 14 persen, dari Rp9,25 triliun di tahun 2015 menjadi Rp10,51 di tahun 2016. (Red)

Credit Foto : Atti Kurnia


 

Atti Kurnia

close