Efisiensi, Pertamina Cilacap Manfaatkan EBT

"Untuk itu, Pertamina berinisiatif menyalurkan kelebihan listrik tersebut kepada masyarakat terdekat agar bisa juga termanfaatkan,"

Efisiensi, Pertamina Cilacap Manfaatkan EBT

Telegraf – Kepeloporan PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap dalam pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan melaksanakan efisiensi energi untuk kategori gedung hijau besar telah diganjar Subroto Awards dua tahun lalu. Melalui konsep yang diterapkan Go Green, Energy Saving, dan Eco Building yang ramah lingkungan, perusahaan pengolahan minyak terbesar di Indonesia mendapat peringkat kedua se-Indonesia.

Tidak hanya itu, kilang milik Pertamina yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah, juga berhasil menorehkan prestasi sebagai pengguna Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar pada lingkup Rumah Dinas Perusahaan (RDP), yang dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kilang dengan rumah dinas terbanyak menggunakan PLTS di Indonesia.

“Dengan kapasitas 1 megawatt (MW) yang digunakan, tentu hal tersebut berdampak pada penurunan emisi gas CO2,” ujar Hatim Ilwan, Unit Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina RU IV Cilacap, Senin (26/10/2020).

Pertamina menerapkan teknologi tersebut untuk keperluan masyarakat luas. Hal itu merupakan kolaborasi bersama Politeknik Negeri Cilacap, energi hasil PLTS itu selanjutnya didistribusikan untuk kepentingan umum warga Kelurahan Tegalreja dan Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sebagai upaya memasyarakatkan PLTS dengan mempraktikkan langsung pada lingkungan sekitar. Tercatat sekitar 4.400 kwh disalurkan dari Pertamina sejak Juli 2020.

Tersalurkannya listrik tersebut tak lepas dari berlebihnya pasokan listrik di lingkungan Apartemen Patra Lomanis Residence yang dibangun dengan sistem off grid di mana sumber listrik PLTS hanya digunakan pada siang hari.

“Untuk itu, Pertamina berinisiatif menyalurkan kelebihan listrik tersebut kepada masyarakat terdekat agar bisa juga termanfaatkan,” ujarnya.

Metodenya, lanjut Hatim, melakukan pemasangan jaringan set panel surya dari apartemen ke kantor kelurahan dan PAUD, lalu dipasang charge controller dan baterai. Set panel surya itu akan mengubah sinar matahari menjadi listrik, atau sebagai pengalihan antara sumber daya.

Sedangkan charge controller untuk pengisian daya. Pengontrol itu sebagai pemutus sumber energi yang akan digunakan oleh sistem. “Baterainya untuk menyimpan kelebihan listrik agar bisa digunakan pada malam hari saat panel surya tidak beroperasi,” ungkapnya.

Diharapkan melalui langkah tersebut, misi Pertamina RU IV Cilacap sebagai pelopor EBT dapat sekaligus mengenalkan alternatif energi lain pada masyarakat, sehingga secara perlahan mereka beralih dan turut berperan mengurangi ketergantungan energi panas bumi.

“Upaya tersebut sekaligus bentuk tanggung jawab sosial lingkungan yang dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi warga yaitu berkurangnya tagihan listriknya,” pungkasnya.


Photo Credit: Pembangunan fasilitas pengolahan Residuel Fluid Catalytic Craker (RFCC) di area kompleks Pertamina RU IV Lomanis, Cilacap, Jateng, Senin (14/9). Antara/Idhad Zakaria

Fajri Setiawan