Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Disinyalir 40 Persen Perguruan Tinggi Tak Punya Akreditasi
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

Disinyalir 40 Persen Perguruan Tinggi Tak Punya Akreditasi

Edo W. Rabu, 20 September 2017 | 02:43 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Marlinda Irawati
Bagikan

Telegraf, Jakarta – Dari 4.500 jumlah perguruan tinggi (PT) di Indonesia yang ada sekarang, disinyalir 40 persen tidak punya akreditasi. Oleh karena itu Anggota Komisi X DPR-RI Dr. Marlinda Irwanti Poernomo menyarankan kepada Yayasan pemilik PT punya kemauan melakukan merger dengan PT lain agar bisa memberikan layanan pendidikan kepada mahasiswa secara maksimal.

“Komisi X DPR RI berharap Perguruan Tinggi swasta yang akreditasinya tidak jelas bagaimana agar Yayasannya punya kemauan untuk merger atau yang lainnya, karena apa? Itu merusak citra PT kita, khususnya Perguruan Tinggi Swasta dan disinyalir ada 40 persen tidak punya akreditasi,” ujar Marinda di Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Dengan melakukan merger, lanjut Politisi senior Partai Golkar ini, Dikti tidak bisa semena-mena menutup PT tersebut. “Nanti jadi ribut lagi tapi kalau inginnya ada aliansi sesama Perguruan Tinggi swasta, yok secara internal diberesin dulu deh, jadi jangan cuma lihat pemerintah saja yang disalahkan, pemerintah kurang ini, pemerintah kurang itu,” kata Marlinda yang juga Ketua STIKOM Interstudi ini.

Pada akhirnya pemilik Yayasan mempertanyakan kenapa mereka tidak dibantu atau menuntut bantuan subsidi dari pemerintah dengan nilai yang lebih besar. “Pemilik Yayasan inginnya kenapa punya saya kok nggak dibantu, kenapa punya ini kok nggak dibantu. saya harusnya lebih besar,” katanya.

Pemerintah sebenarnya sudah punya mapping untuk memberikan bantuan ke PT melalui persyaratan yang ada. “Nanti kalau dibilang wah persyaratannya berat, lah… bagaimana kalau nggak punya akreditasi harus langsung mendapatkan bantuan, nanti jadi repot, berarti kan kita mendorong juga akhirnya kualitas yang buruk buat anak-anak kita,” ujar Marlinda.

Politisi Dapil Jawa Tengah X ini mendukung dan setuju dibentuknya aliansi Perguruan Tinggi sebagaimana dideklarasikan oleh Apperti beberapa waktu lalu. “Jadi memang saya setuju kalau ada aliansi, misalnya kalau perguruan tinggi swasta punya aliansi sendiri, negeri juga punya aliansi sendiri, kemudian bergabung dan saling intropeksi ke dalam saya kira bagus, tutur Marlinda.

Kehadiran aliansi tersebut kemudian baru bisa menjadi wadah untuk berbicara dengan pemerintah. Marlinda juga menawarkan kepada kalangan perguruan tinggi yang ingin menyampaikan permasalahan dengan pemerintah maka Komisi X siap menjembatani.

“Komisi X pokoknya siap menjembatani permasalahan yang dihadapi Perguruan Tinggi swasta kepada pemerintah untuk perbaikan-perbaikan di tubuh perguruan tinggi, karena kami prihatin dengan kondisi yang ada wong PT yang sudah nyata2 jelas sudah melakukan kebohongan publik,” katanya. (Edo)


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat
Waktu Baca 7 Menit
Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama
Waktu Baca 9 Menit
Fina Asriani
KPI Social Media 2026: Strategi Baru Biar Konten Makin Naik
Waktu Baca 6 Menit
Meat & Livestock Australia (MLA), bersama pemerintah New South Wales (NSW) serta didukung Qantas Airways dan Ranch Market, menghadirkan Aussie Beef Fair: Discover the Finest Flavors of New South Wales, program promosi yang menampilkan produk unggulan NSW, termasuk daging sapi premium Australia, yang berlangsung mulai 16 April hingga 15 Mei 2026 di 18 gerai Ranch Market Jakarta dan secara resmi dibuka melalui acara kick-off di Ranch Market Lotte Shopping Avenue, Jakarta (16/04).
Aussie Beef Fair Hadir di Jakarta dengan Daging Sapi Premium New South Wales dan Kesempatan Terbang ke Sydney
Waktu Baca 6 Menit
LAZADA SATSET Belanja Aman
SATSET Belanja Aman Tanpa Khawatir, Lazada Ajak Konsumen Lebih Waspada terhadap Penipuan
Waktu Baca 5 Menit

5 Rekomendasi Baju Padel Wanita Terbaik Dengan Harga Di Bawah Rp. 300.000

Waktu Baca 4 Menit

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Waktu Baca 4 Menit

Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

Waktu Baca 3 Menit

vivo Y31d Pro Resmi Masuk Indonesia, Andalkan Baterai 7000mAh dan Fast Charging 90W

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?