Di World Press Freedom 2017 AMDI Serukan Perang Lawan Berita Hoax

"Salah satu tantangan kebebasan pers, kata alumnus Master of Arts di Australia University ini, yaitu munculnya berita bohong alias hoax. Karena itu, dia mengajak praktisi media, jurnalis dan masyarakat untuk memerangi berita hoax tersebut. “Karena itu, media harus melakukan cross check (verifikasi, red.) terhadap peristitwa yang akan diberitakan untuk menghindari berita hoax."

Di World Press Freedom 2017 AMDI Serukan Perang Lawan Berita Hoax


Telegraf, Jakarta – Praktisi media dan pers Asri Hadi mengajak dan menyerukan kepada kalangan jurnalis untuk memerangi berita hoax. Pernyataan salah satu pengurus Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) ini disampaikan kepada wartawan saat menghadiri peringatan Hari Pers Sedunia 2017, di Balai Sidang Jakarta (JCC), Senayan, Rabu (3/4/2017)

Acara pertemuan jurnalis yang bertajuk World Press Freedom Day 2017 itu diselenggarakan Badan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO). Sebelumnya acara dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Asri juga memberikan apresiasi atas terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah peringatan Hari Pers Sedunia. Hal ini lanjut Asri Hadi yang juga pengajar di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat dan IPDN Cilandak, Jakarta Selatan, menunjukkan pengakuan sekaligus pengukuhan terhadap kebebasan pers di negeri ini.

“Selamat kepada kita semua atas peringatan Hari Pers Sedunia. Terpilihnya Indonesia sekaligus mengukuhkan negara kita sebagai salah satu penjaga kebebasan pers,” ujar Bang Buyung, panggilan Asri Hadi, di sela-sela acara World Press Freedom Day 2017 di JCC.

Namun, peringatan tersebut, kata Bang Buyung, sekaligus menjadi tantangan bagi kebebesan pers di Indonesia di masa datang. “Kita harus tetap menjaga kebebasan pers sehingga bisa mendatangkan kesejahteraan bagi bangsa dan negara kita,” ujar Pemimpin Redaksi Indonews.id ini.

Salah satu tantangan kebebasan pers, kata alumnus Master of Arts di Australia University ini, yaitu munculnya berita bohong alias hoax. Karena itu, dia mengajak praktisi media, jurnalis dan masyarakat untuk memerangi berita hoax tersebut. “Karena itu, media harus melakukan cross check (verifikasi, red.) terhadap peristitwa yang akan diberitakan untuk menghindari berita hoax,” imbuh Alumnus FISIP UI Angkatan 1978 itu.

Panutan Dunia

Sebelumnya, dalam sambutannya, Wapres menggarisbawahi pentingnya menjaga kebebasan pers yang bertanggung jawab.

“Kebebasan pers menimbulkan konsekuensi bahwa tanggung jawab bukan lagi pada censorship, tapi pada kredibilitas internal media dan masyarakat,” ujar Kalla, seperti dikutip Antara.

Baca Juga :   Asia School of Business Meluncurkan Ajang Perdana "ASB101K Entrepreneurship Competition"

Wapres juga menyoroti pentingnya media sebagai pilar ketiga demokrasi yang dapat memberikan kritik dan bersikap kritis kepada pemerintah.

“Negara tanpa pandangan kritis tidak dapat menjalankan misi untuk menyejahterakan rakyat, dan menjalankan negara yang baik dan adil,” kata Kalla.

Sementera itu, Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova mengucapkan terima kasih kepada Indonesia yang bersedia menjadi tuan rumah rangkaian acara peringatan Hari Pers Sedunia, 1-4 Mei 2017.

Bokova juga memuji kebebasan pers di Indonesia pasca-Reformasi 1998, dan kini menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia.

“UNESCO telah bekerja sama dengan Indonesia ketika mulai membangun Dewan Pers pada 1997, dan sejak itu kebebasan pers terus berkembang dan link menjadi salah satu panutan dunia,” ujarnya.

Hadir mendampingi Wapres Jusuf Kalla dalam pembukaan tersebut, yakni Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Telekomunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Acara ini juga dihadiri para praktisi dan pengamat media. Di antaranya, Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Prof. Dr. Billy K Sarwono, MA. (edo)


Edo W.

close