Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Bicara Soal Bhinneka Tunggal Ika, Paus Juga Kritik ke Penguasa
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Nasional

Bicara Soal Bhinneka Tunggal Ika, Paus Juga Kritik ke Penguasa

A. Chandra S. Rabu, 4 September 2024 | 23:19 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan resmi Kenegaraan Paus Fransiskus, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (04/09/2024) pagi. BPMI/Rahmat
Bagikan

TELEGRAF – Paus Fransiskus mengkritik kebijakan penguasa yang berupaya memberantas keberagaman dengan memaksakan keseragaman pada hidup masyarakat. Hal ini disampaikan Paus bernama asli Jorge Maria Bergoglio ini saat dia memberikan pidato di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi), presiden terpilih 2024-2029, Prabowo Subianto dan para pejabat Kabinet Indonesia Maju.

“Kadang-kadang, ketegangan-ketegangan dengan unsur kekerasan timbul di dalam negara-negara karena mereka yang berkuasa ingin menyeragamkan segala sesuatu dengan memaksakan visi mereka,” kata Paus dalam sambutannya di Istana Negara, Rabu (04/09/2024)

“Bahkan dalam hal-hal yang seharusnya diserahkan kepada otonomi individu-individu atau kelompok-kelompok yang berkaitan.” ujarnya.

Dia menilai, banyak kebijakan-kebijakan penguasa yang berupaya membuat seragam segala sesuatu sesuai dengan visi pribadinya. Selain itu, kebijakan tersebut biasanya juga tak berorientasi pada masa depan dan prinsip-prinsip sosial.

“Akibatnya, sebagian besar umat manusia terpinggirkan, tanpa sarana untuk menjalani hidup yang bermartabat dan tanpa perlindungan dari ketimpangan sosial yang serius dan bertumbuh, yang memicu konflik-konflik yang parah,” ucapnya.

Meski disampaikan secara umum, pidato paus tersebut dinilai bisa menjadi otokritik bagi pemerintah dan kelompok elit di Indonesia yang mencoba menerapkan sistem pemerintahan tanpa keberagaman. Meski kerap digadang demi tujuan yang baik, tak ada keberagaman berpotensi menekan ruang kritik.

Presiden Joko Widodo (kanan) memperkenalkan Menteri Pertahanan sekaligus presiden terpilih untuk masa bakti 2024-2029 Prabowo Subianto (kiri) Paus Fransiskus (tengah) sebelum upacara penyambutan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/9/2024). ANTARA/Muhammad Adimaja
Presiden Joko Widodo (kanan) memperkenalkan Menteri Pertahanan sekaligus presiden terpilih untuk masa bakti 2024-2029 Prabowo Subianto (kiri) Paus Fransiskus (tengah) sebelum upacara penyambutan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/9/2024). ANTARA/Muhammad Adimaja

Tak hanya soal kritik tersebut, Paus Fransiskus pun memuji semboyan Indonesia ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dalam pidato sambutannya itu.

“Semboyan negara anda Bhinneka Tunggal Ika bersatu dalam keberagaman secara harfiah berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua, mengungkapkan sisi realitas sisi dari berbagai orang yang disatukan dengan teguh dalam satu bangsa,” bebernya.

“Semboyan ini juga menunjukkan bahwa sebagai keragaman hayati yang ada dalam negara kepulauan ini adalah sumber kekayaan dan keindahan,” ungkapnya.

Demikian, Paus menilai pula perbedaan secara khusus berkontribusi bagi pembentukan mosaik yang sangat besar yang mana masing-masing adalah unsur tak tergantikan, mampu menciptakan karya besar otentik berharga.

“Kerukunan di dalam perbedaan dicapai ketika perspektif-perspektif tertentu mempertimbangkan kebutuhan kebutuhan bersama dari semua kurang dan ketika setiap kelompok suku dan demonasi keagamaan bertindak dalam semangat persaudaraan seraya mengejar tujuan luhur dengan melayani kebaikan bersama,” kata Paus.

Selain itu, Paus mengatakan untuk berpatisipasi dalam sejarah bersama yang di dalamnya solidaritas adalah unsur hakiki dan semua orang memberikan sumbangsihnya membantu mengidentifikasi solusi-solusi yang tepat untuk menghindari kejengkelan yang muncul dari perbedaaan dan untuk mengubah perlawanan kepada kerja sama yang efektif.

“Keseimbangan yang bijaksana namun rentang ini di antara kemajemukan budaya yang besar dan ideologi-ideologi yang berbeda dan cita-cita yang mempererat persatuan haruslah dibela terus-menerus dari berbagai ketimpangan ini adalah karya keterampilan yang dipercayakan kepada semua orang tetapi secara khusus kepada mereka yang terlibat dalam kehidupan politik yang harus memperjuangkan kerukunan persamaan,” imbuhnya.

Paus Fransiskus (depan, kedua kanan) dan Presiden Joko Widodo (depan, kanan) menghadiri pertemuan dengan pihak berwenang Indonesia, masyarakat sipil, dan korps diplomatik dalam kunjungan apostoliknya ke Asia di Istana Merdeka, Jakarta, 4 September 2024. REUTERS/Guglielmo Mangiapane
Paus Fransiskus (depan, kedua kanan) dan Presiden Joko Widodo (depan, kanan) menghadiri pertemuan dengan pihak berwenang Indonesia, masyarakat sipil, dan korps diplomatik dalam kunjungan apostoliknya ke Asia di Istana Merdeka, Jakarta, 4 September 2024. REUTERS/Guglielmo Mangiapane

Paus mengaku berbicara dengan mengutip Paus Yohanes Paulus II yang juga berbicara di Istana pada tiga setengah dekade yang lalu.

“Saya ingin menjadikan kata-kata dari Santo Yohanes Paulus II dalam kunjungannya tahun 1989 di istana ini, sebagai perkataan saya,” bebernya.

Di penghujung akhir pernyataan, ia mengaku dengan keanekaragaman yang sah dengan menghargai manusia dan politik dari semua warga dan mendorong pertumbuhan persatuan nasional berlandaskan toleransi dan sikap saling menghargai terhadap orang lain ada di Indonesia.

Paus Fransiskus, kiri, menyampaikan pidatonya saat Presiden Indonesia Joko Widodo mendengarkan dalam pertemuan dengan pihak berwenang Indonesia, masyarakat sipil, dan korps diplomatik, dalam kunjungan apostoliknya ke Asia, di Istana Kepresidenan di Jakarta, Rabu, 4 September 2024. (Willy Kurniawan/Pool Photo via AP)

“Indonesia meletakkan fungsi masyarakat yang ada dan damai yang diinginkan bukan untuk diri sendiri dan rindu untuk diwariskan kepada anak-anak setelahnya,” tandasnya.

“Masyarakat percaya bahwa mereka dapat memohon berkat Allah mendengar bahwa keluarga mau memiliki 3-4 anak ini sebuah yang baik berkata bahwa keluarga ini sebuah contoh yang bagus untuk negara, karena banyak negara tidak mau lagi memiliki anak tetapi memiliki binatang,” pungkasnya.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Magang Nasional
Nasional

Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Sinergi Lintas Sektoral, Pemberantasan Narkoba Jadi Prioritas Nasional

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

GAMKI dan Lembaga Kristen Kompak Polisikan JK Terkait Isi Ceramah

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Pernyataan Jusuf Kalla Terkait Isu SARA Dianggap Berpotensi Sesatkan Publik

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Proses Hukum Andrie Yunus, Aktivis 98: Jangan Ada Yang “Memancing di Air Keruh”

Waktu Baca 4 Menit
Nasional

Generasi Muda Harus Diingatkan Tentang Bahaya Kepentingan Asing

Waktu Baca 4 Menit
Nasional

Proses Hukum Militer Kasus Air Keras Wajib Dihormati dan Dikawal Publik

Waktu Baca 5 Menit
Nasional

Kasus Air Keras dan Isu Destabilitas Keamanan Negara, Publik Harus Waspada Soal Perang Informasi

Waktu Baca 5 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?