BI: 2020 Tidak Akan Terjadi Resesi

"Sejalan dengan hal tersebut BI mempertahankan ratio Countercyclical Capital Buffer sebesar 0 persen dan ratio penyangga liquiditas makro prudetial (PLM) sebesar 4 persen dengaan fleksibilitasrepo sebesar 4 persen"

BI: 2020 Tidak Akan Terjadi Resesi

Telegraf, Jakarta – Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu Bank Indonesia (BI) terus menambah ketersediaan liquiditas perbankan dalam meningkatkan pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui menurunkan giro  wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank umum konvensional dan bank umum  syariah/unit Syariah sebesar 50 bps.

“Yang masing masing menjadi 5,5 persen dan 4,0 persen dengan GWM rerata masing masih tetap 3,0 persen dan berlaku efektif pada 2 Januari 2020,” ungkap Endy Dwi Tjahjono, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI saat mengisi pelatihan Jurnalistik di Manggarai Utara  Labuan Bajo, Nusa tenggara Timur (NTT), Senin (9/12).

Endy mengungkapkan hingga  November kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran target ( ​3,5±1),
stabilitas eksternal yang terjaga serta upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Lanjut Endy kebijakan makro prudential tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperkuas pembiayaan bagi perekonomian dengan tetap mempertahankan terjaganya  stabilitas sistem keuangan.

“Sejalan dengan hal tersebut BI mempertahankan ratio Countercyclical Capital Buffer sebesar 0 persen dan ratio penyangga liquiditas makro prudetial (PLM) sebesar 4 persen dengaan fleksibilitasrepo sebesar 4 persen,” kata Endy.
Endy menambahkan kedepan BI akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas  eksternal serta terus medukung momentum  pertumbuhan.

Ditemui di tempt yang sama Ryan Kiryanto, SVP Kepala Ekonom BNI mengatakan  pada tahun 2020 tidak akan terjadi resesi, beberapa negara akan recoveri kecuali China, karena china akan rebalanching cukup lama, ini disebabkan berpuluh puluh taun dinina bobokan terhadap ekspor.

“Negara negara yang mengandalkan ekspor  ketika pertumbuhan ekonomi dunia bagus itu tidak menjadi maslah tetapi ketika ekonomi dunia melemah  negara negara mendrrita ekspor orientednya dominan,” tuturnya.

Baca Juga :   Presiden Joko Widodo Memerintahkan Menteri BUMN Memberikan Proyek ke Pengusaha Muda Bukan Anak Cucu Perusahaan BUMN

Ryan mencontohkan Jepang, Korea Selatan dan tentunya Tiongkok  karena juara juara eksportir terbesar adalah Tiongkok, ia bisa bikin KW 1-KE 5, dan bisa membuat segalanya.

Ryan melanjutkan negara negara yang terlibat global velue chain, dan Indonesia relatif tidak banyak terelibat dalam ekapor, dan Indonesia maaih terisolasi morelest 5 persen.


Photo Credit : Ryan Kiryanto, SVP Kepala Ekonom BNI (ka) dan Endy Dwi Tjahjono, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI (tengah) saat mengisi pelatihan Jurnalistik di Manggarai Utara  Labuan Bajo, Nusa tenggara Timur (NTT), Senin (9/12). TELEGRAF/Kawat Berita Indonesia

Tanggapi Artikel