Telegraf – PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah) mencatat kinerja keuangan yang terus tumbuh positif hingga kuartal III 2025. Di tengah dinamika ekonomi nasional, total aset BCA Syariah naik 20,3% secara tahunan (YoY) menjadi Rp18,1 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 24,2% YoY menjadi Rp14,2 triliun, serta peningkatan pembiayaan 17% YoY yang mencapai Rp12,2 triliun.
Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan, capaian tersebut tak lepas dari kepercayaan nasabah dan fokus perusahaan terhadap inovasi berbasis maqasid syariah.
“Kami berupaya menghadirkan layanan perbankan syariah yang tidak hanya modern, tetapi juga membawa nilai keberkahan bagi nasabah,” ujarnya dalam kegiatan BCA Syariah Media Workshop: Mewujudkan Keberlanjutan Penuh Berkah di Bogor, Jumat (31/10).
Melalui aplikasi BSya by BCA Syariah, nasabah kini bisa melakukan berbagai transaksi dalam satu platform, mulai dari investasi emas, tabungan haji, hingga pembayaran zakat. Inovasi digital ini diharapkan memperluas inklusi keuangan syariah sekaligus memperkuat koneksi antara transaksi finansial dan ibadah.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap keuangan berkelanjutan, BCA Syariah terus meningkatkan porsi pembiayaan hijau. Hingga September 2025, total pembiayaan hijau mencapai Rp3 triliun atau 24,8% dari total portofolio pembiayaan.
Pembiayaan ini mencakup enam kategori Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) seperti efisiensi energi, transportasi ramah lingkungan, eco efficiency, pengelolaan sumber daya alam hayati berkelanjutan, serta pengolahan air dan limbah.
Selain itu, BCA Syariah memperkenalkan konsep zero waste dengan mengolah kembali seragam lama karyawan menjadi kain bermotif baru melalui kolaborasi bersama kelompok perempuan binaan di Bogor yang dikelola oleh Workshop Adrie Basuki, seorang circular designer. Inisiatif ini menjadi wujud nyata pemberdayaan masyarakat dan ekonomi sirkular.
Dalam kesempatan yang sama, BCA Syariah juga menggelar Journalist Writing Competition (JWC) 2025 yang telah memasuki tahun ketiga. Dengan tema “BSya by BCA Syariah Menemani Langkah Penuh Berkah”, kompetisi ini diikuti 158 artikel dari berbagai media nasional, baik cetak maupun daring.
“Peran media sangat penting dalam memperluas pemahaman publik terhadap keuangan syariah. Melalui karya jurnalistik, nilai dan manfaat perbankan syariah bisa tersampaikan lebih luas,” tutur Yuli.
Dalam sesi yang sama, Direktur Infrastruktur Ekosistem Ekonomi Syariah KNEKS, Dr. Sutan Emir Hidayat, M.B.A., menegaskan bahwa ekonomi syariah kini menjadi bagian dari arah kebijakan pembangunan nasional.
“Untuk pertama kalinya, ekonomi syariah tercantum dalam RPJPN 2025–2045, menjadikannya pilar utama pembangunan Indonesia 20 tahun ke depan,” ujar Emir.
Menurutnya, target kontribusi ekonomi syariah terhadap PDB ditetapkan sebesar 56,11% pada tahun 2029, dengan proyeksi pertumbuhan aset keuangan syariah meningkat dari 42,67% menjadi 51,42% terhadap PDB.
Meski pertumbuhan industri syariah meningkat signifikan—dengan aset keuangan syariah tumbuh 19,8% pada 2025, melampaui pertumbuhan sektor keuangan nasional sebesar 7,6%—tingkat literasi keuangan syariah masih tertinggal.
“Berdasarkan data OJK, literasi keuangan nasional baru mencapai 43%, sementara literasi syariah masih rendah. Tantangan terbesar kita adalah edukasi publik,” jelas Emir.
Ia menambahkan, peningkatan penyaluran gaji ASN melalui bank syariah juga menjadi indikator positif, yang kini telah mencapai Rp1,37 triliun, naik 15,7% dibanding tahun sebelumnya.
Emir optimistis, kolaborasi antara pemerintah, industri perbankan, akademisi, dan media akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.
“Kalau Malaysia bisa mencapai 50% aset perbankan syariah dari total perbankan nasional, Indonesia pun bisa menyainginya. Kuncinya ada pada literasi, digitalisasi, dan kolaborasi,” pungkasnya.