Asosiasi Media Digital Payungi Media Yang Patuhi Kode Etik

Asosiasi Media Digital Payungi Media Yang Patuhi Kode Etik

Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) yang dirintis oleh sekitar 10 wartawan senior yang juga pemilik media. Organisasi ini berdiri dengan harapan bisa menjadi wadah bagi pebisnis media tradisional cetak yang "hijrah" atau menjadi penopang para start up di media digital. “Literasi media digital adalah cara yang terbaik." .

Asosiasi Media Digital Payungi Media Yang Patuhi Kode Etik


Jakarta, Telegraf, – Ketua Umum Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) S.S Budi Rahardjo mengatakan organisasinya siap menjadikan media online seluruh Indonesia yang tergabung dalam asosiasinya menjadi media terpercaya dan menolak pemberitaan berbau isu SARA.

“Kami siap dan punya program literasi media digital,” ujar S.S Budi Rahardjo dalam siaran persnya hari Sabtu (01/04/2017) di Jakarta

Pemilik Majalah Matra dan Eksekutif.com ini menyayangkan masih adanya sejumlah media yang secara sengaja menayangkan pemberitaan bersifat mengadu domba antar umat demi menjatuhkan satu tokoh atau sosok politisi yang bersaing dalam Pilkada. “Sangat tidak independen, apalagi media tersebut adalah media mainstream, ini sangat tidak mendidik dan tidak patuh dengan kode etik jurnalistik,” ujar wartawan bersertifikasi senior tersebut.

Melihat kondisi media digital yang memprihatinkan tersebut, Budi mengaku mengajak teman-temannya para pemilik media digital kelas menengah untuk mendirikan Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI).

Pada awal Oktober 2016 silam akhirnya lahirlah Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) yang dirintis oleh sekitar 10 wartawan senior yang juga pemilik media. Organisasi ini berdiri dengan harapan bisa menjadi wadah bagi pebisnis media tradisional cetak yang “hijrah” atau menjadi penopang para start up di media digital. “Literasi media digital adalah cara yang terbaik.” .

Jojo panggilan akrab S.S Budi Rahardjo lebih lanjut menyebut maraknya media abal-abal, penyebar berita hoax atau media penyebar berita kebencian tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan negara Amerika Serikat saja yang sudah modern dan maju bisa terkena simptom seperti itu. Ketika era Pilpres kemarin misalnya dan sampai sekarang menjadi polemik di sana.

Khususnya di Indonesia, Jojo menyebut sudah membuat dan merancang program literasi yang bisa diterapkan kepada para pemilik media digital juga kepada wartawan yang bekerja di media digital. “Selain memantau, Asosiasi Media Digital dalam tahap mengedukasi serta meyakini anggota kami bekerja profesional sesuai kode etik jurnalistik,” tegas Jojo.

Asosiasi Media Digital siap menjadi garda terdepan untuk meliterasi dan mengedukasi start up (media kecil) yang tengah dirintis hingga perusahaan media digital yang sudah bisa menggaji jurnalis serta karyawannya sesuai upah standart upah minimum. “Kami lindungi, karena bekerja profesional, mewacanakan aspirasi masyarakat, dengan kaidah jurnalistik yang benar,” ujarnya.

Yang ditekankan oleh Asosiasi Media Digital adalah, media konvensional di cetak, jangan merasa diri lebih tahu dan profesional. “Karena era digital terus berkembang dan punya hukum-hukum tersendiri, bahkan ada pihak yang menyebut dirinya profesional dengan label sebagai aktivis medsos sebagai profesi. Mereka adalah mantan wartawan, yang kadang membuat media-media mirip jaringan media konvensional,” tutur Jojo.

Asosiasi Media Digital memberi “pakem” media digital dalam konteks literasi kode etik jurnalistik. Termasuk menyarankan jurnalisnya untuk ikut uji kompetensi sesuai konteksnya. Membantu para startup untuk berkembang untuk mendapatkan angel investor. “Termasuk berupaya agar para pemain media digital dalam bisnisnya bisa dibantu oleh perbangkan,” ujar Jojo.

Bahwa media kecil yang tengah dirintis tapi komitmen bekerja profesional juga bisa berkembang diyakini oleh Asosiasi Media Digital. “Jika rekan-rekan media startup yang baru merintis tapi tidak punya komitmen bekerja profesional sesuai kode etik jurnalistik, ya silahkan berjalan sendiri. Asosiasi Media Digital punya aturan yang harus dipatuhi,” ungkap Jojo.

Senada dengan Ketua Umum AMDI, Sekjen AMDI Edi Winarto mengungkapkan, kelahiran AMDI diharapkan bisa menjadi media massa mitra pemerintah. “Kita ingin membangun Indonesia yang lebih punya daya saing di tingkat global, negara membutuhkan media untuk bisa menjadi mitra strategis dalam rangka membangun informasi yang kuat tentang Indonesia dan AMDI harus bisa memberikan peran tersebut,” katanya.

Sejak awal berdiri AMDI sendiri siap menjadi wadah organisasi bagi perkembangan media digital atau media online di Indonesia. Organisasinya saat ini telah membina lebih dari 150 media online atau media digital di seluruh Indonesia.

Sejumlah media kelas menengah bergabung dalam organisasi Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI). Diantaranya, halloapakabar.com, eksekutif.com, detak.co, moneter.co, eksplorasi.id, industry.co, BeritaEnam.com, Telegraf.co.id, Indonews.id, Editor.ID, ResourcesAsia.id. Di wilayah Jawa Timur ada SurabayaOnline.co, MaduraNews.id, Malangvoice.com, di Kalsel ada Batulicinnews.com, obsesirakyat.com, media88.com dan banyak lagi. (Red)


Edo W.

close