AS Resmi Tetapkan Pelarangan Impor Minyak Dari Rusia

Tanggal:


Telegraf – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan AS telah konsultasi intens dengan sekutunya di Eropa, yang lebih bergantung pada pasokan energi Rusia dan yang ia akui mungkin tidak dapat segera bergabung dengan keputusannya. Pengumuman tersebut menandai upaya Biden untuk memutuskan Rusia dari sebagian besar ekonomi global dan memastikan bahwa invasi Ukraina merupakan kerugian strategis bagi Putin, bahkan jika ia berhasil merebut wilayah.

“Ukraina tidak akan pernah menjadi kemenangan bagi Putin,” kata Biden.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam sebuah tweet memuji tindakan Biden: “Bersyukur atas kepemimpinan pribadi AS dan @POTUS yang menyerang jantung mesin perang Putin dan melarang minyak, gas, dan batu bara dari pasar AS. Dorong negara dan pemimpin lain untuk mengikuti.” kata Zelenskyy dalam cuitannya.

Uni Eropa minggu ini akan berkomitmen untuk menghapus ketergantungannya pada Rusia untuk kebutuhan energi sesegera mungkin, tetapi mengisi kekosongan tanpa melumpuhkan ekonomi UE kemungkinan akan memakan waktu. Inggris, yang tidak lagi menjadi bagian dari UE, Selasa mengumumkan bahwa minyak dan produk minyak dari Rusia akan dihapus secara bertahap pada akhir tahun.

Berbeda dengan AS, yang merupakan produsen minyak dan gas utama, Eropa bergantung pada impor untuk 90% gasnya dan 97% produk minyaknya. Rusia memasok 40% gas Eropa dan seperempat minyaknya. AS tidak mengimpor gas alam Rusia.

AS sendiri menyebut, bahwa masalah sanksi minyak telah menciptakan konflik baru bagi kepentingan politik di dalam negeri dan upaya AS untuk mengurangi biaya perang Rusia, meskipun minyak Rusia masuk kedalam impor AS.

Setelah ragu-ragu, Amerika Serikat akhirnya mengambil langkah berani untuk memutus total pasokan minyak dan gas dari Rusia sebagai sanksi atas invasi militer Rusia ke Ukraina.

Seorang pejabat di pemerintahan di Gedung Putih memerinci rangkaian kebijakan baru yang diambil oleh pemerintah AS terkait impor migas dari Rusia, seperti dilansir AP Selasa (08/03/2022) .

Pada intinya, semua kontrak baru atas pembelian minyak mentah, gas alam cair, batu bara, dan produk petroleum tertentu dari Rusia akan segera dilarang.

Sementara itu, kontrak-kontrak yang sudah terlanjur diteken harus diakhiri dalam jangka waktu 45 hari, kata pejabat yang tidak disebutkan namanya tersebut.

Kemudian, perusahan dan investor perorangan Amerika Serikat dilarang melakukan investasi di sektor energi Rusia.

“Amerika bersatu dalam tekad untuk melawan Rusia (Presiden Rusia Vladimir Putin) dan muncul dukungan meluas di seluruh penjuru negeri untuk menggerus ekonomi dan mesin perang Putin melalui ekspor energi,” katanya.

Amerika Serikat bersama para sekutunya di Eropa diketahui telah melakukan konsolidasi dan juga konsultasi terkait masalah pemberian sanksi itu, walaupun memang banyak yang berbeda pendapat juga.

“Tetapi kami tidak berharap atau meminta mereka untuk bergabung dengan kami,” terangnya.

Tidak seperti kebanyakan negara Eropa, AS relatif lebih mampu bertindak cepat karena memiliki kemandirian dalam pasokan energi dan tidak terlalu banyak mengimpor dari Rusia, kata pejabat tersebut.

Photo Credit: Presiden Joe Biden berjalan menuju Air Force One, Selasa, 8 Maret 2022, di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, Md., dikawal oleh Kolonel William "Chris" McDonald yang terkena dampak paparan lingkungan militer. AP/Patrick Semansky
A. Chandra S.

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya
Telegraf

Kemampuan Digital Harus Beradaptasi Dengan Pemanfaatannya

Telegraf - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Dewan...

Jokowi dan Ganjar Pranowo Takziah ke Kediaman Buya Syafii

Telegraf - Kabar duka menyelimuti tanah air. Cendekiawan muslim...

Sosok Panutan Itu Telah Pergi, Buya Syafii Wafat Hari Ini

Telegraf - Umat Islam bahkan bangsa Indonesia kehilangan sosok...

PLN Buka Program Tambah Daya, Bisa Lewat Aplikasi

Telegraf - PT PLN (Persero) mengajak masyarakat memanfaatkan program...