Telegraf– Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada awal 2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah mencatat lonjakan signifikan pada penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan, yang menjadi penopang utama penguatan fiskal tahun ini.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kinerja APBN 2026 mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang tetap terjaga di tengah dinamika global.
“Pendapatan negara telah mencapai Rp172,7 triliun atau sekitar 45 persen dari target, tumbuh 9,5 persen year on year dibandingkan tahun lalu. Ini menunjukkan fondasi fiskal kita tetap kuat,” ujar Purbaya dalam konferensi pers, Senin (23/2).
Dari sisi perpajakan, pertumbuhan tercatat jauh lebih tinggi. Penerimaan pajak secara neto mencapai Rp159,1 triliun atau tumbuh 30,7 persen secara tahunan (year on year).
“Penerimaan pajak tumbuh sangat solid, netonya 30,7 persen. Ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus membaik dan kepatuhan yang meningkat,” tegasnya.
Kontribusi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan sebesar 29,4 persen, disusul perdagangan dan pertambangan yang masing-masing menyumbang 25,5 persen dan 11,2 persen terhadap total penerimaan pajak.
Di sisi belanja negara, realisasi mencapai Rp227,3 triliun atau sekitar 59 persen dari pagu awal tahun, tumbuh 25,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah memastikan belanja tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menjaga daya beli, serta memperkuat sektor produktif.
Meski belanja meningkat, pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal. Defisit APBN tercatat tetap terkendali di level 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Dengan pertumbuhan penerimaan yang kuat dan belanja yang terjaga, defisit tetap rendah. Ini membuktikan pengelolaan fiskal kita prudent namun tetap ekspansif untuk mendukung pertumbuhan,” kata Purbaya.
Pemerintah optimistis momentum ini akan berlanjut sepanjang 2026. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I diproyeksikan berada di kisaran 5,5 hingga 6 persen, dengan target pertumbuhan tahunan didorong menuju 6 persen.
“Kita akan pertahankan momentum ini. Fondasi ekonomi kita kuat, sehingga APBN bisa terus menjadi instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkasnya.