Aksi Hijau dari Astra Untuk Masyarakat Pulau Pramuka

"kita selalu melakukan sosial maping kita lihat masyarakat apakah ada local championnya/tokoh pengeraknya atau tidak kalau ada baru kita masuk,"

Aksi Hijau dari Astra Untuk Masyarakat Pulau Pramuka

 


Telegraf, Jakarta – Sampah merupakan persoalan yang cukup besar dalam masyarakat khususnya di kepulauan, PT Astra Internasional Tbk andil dalam pengeloan sampah yang terdapat di Pulau Pramuka, dalam program “Aksi Hijau” di kampung berseri Astra.

Tokoh pengerak lokal adalah modal utama suatu daerah yang akan dipilih oleh Astra dalam programnya, “kita selalu melakukan sosial maping kita lihat masyarakat apakah ada local championnya/tokoh pengeraknya atau tidak kalau ada baru kita masuk,” ungkap Boy Kelana Subroto Head of Corporate Communication PT Astra Internasional Tbk, usai workshop lingkungan Astra di Pulau Pramuka,Jakarta.

Mahariah, seorang guru sekolah dasar berusia 49 tahun kelahiran Pulau Panggang, Kepulauan Seribu yang merupakan tokoh masyarakat yang berpengaruh dan dipercaya dapat mendorong warga lainnya untuk mengatasi berbagai persoalan sampah dan masalah lingkungan, ekonomi dan sosial lainnya.

Seiring dengan kegiatan positif Mahariah dan kelompoknya, Astra memfasilitasi berbagai kegiatan pembinaan yang mengacu pada empat pilar kontribusi sosial Astra yang berkelanjutan, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan yang kemudiane dicanangkan menjadi Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka pada tahun 2015.

Boy menjelaskan Astra tidak memberikan dana terhadap daerah daerah yang terpilih, Astra hanya memberikan pelatihan pelatihan, memberikan alat seperti biogas, “karena sekali kami tidak memberikan dana disini, kami memberikan pelatihan , kami memberikan alat alat untuk mereka,” tuturnya kamis (27/9).

Pada bidang lingkungan, kegiatan berfokus pada pengolahan sampah dan ketersediaan air bersih. Kegiatan yang dilakukan antara lain, pengelolaan bank sampah, pengumpulan sampah organik yang dimasukkan ke dalam alat biodigester, sehingga menghasilkan biogas untuk keperluan memasak, pemanfaatan ulang botol plastik agar menjadi bata ramah lingkungan (ecobrick), pembuatan karya seni dari limbah styrofoam, serta penampungan air hujan dan pertanian sayur organik yang dapat dilakukan di halaman rumah.

Telegraf berkesempatan menemui Mahyudin Hafsyah (49) salah satu penerima alat percontohan Biodegester ia mengatakan, dengan adanya alat tersebut dapat meghemat gas elpigi yang selama ini ia pakai untuk memasak, dari 5 kilo limbah organik sayur mayur yang dikumpulkan dalam 1 hari, Mahyudin bisa mengunakan 2 jam gas yang dihasilkan tersebut.

“Manfaatnya lebih baik karena saya di rumah saya coba yang seharusnya kita gunakan tabung Elpigi 3 kilo seminggu, dengan adanya biogas ini bisa memanjang sampai 10 hari, secara ekonomis saya sudah terbantu dari sini,” kata Mahyudin.

Mahyudin berharap Astra mensupor kembali untuk pengadaan terminal penyimpanan gasnya, agar pemakaian tidak sekali pakai habis.” kalau ada terminal penyimpanan, nanti bisa disalurkan ke rumah rumah lain, ungkapnya. (Red)


Credit Photo: Mahyudin Hafsyah penerima manfaat Biodegester sedang menunjukan cara kerja sampah limbah sayuran yang diolah menjadi gas/telegraf


Share



Komentar Anda