Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Proyek Konservasi di Parai Ditingkatkan Pada Wilayah Lain
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Proyek Konservasi di Parai Ditingkatkan Pada Wilayah Lain

Atti K. Minggu, 20 November 2016 | 07:53 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Foto:Istimewa
Bagikan

Telegraf, Jakarta – The United Nations (UN) Global Compact (GC) Indonesia akan extend kegiatan konservasi laut, dan pemberdayaan masyarakat pesisir di Parai Sungailiat Bangka termasuk pembekalan pengetahuan yang dibutuhkan nelayan. Pengelolaan kawasan konservasi perairan dan keberlanjutan sumber daya ikan (SDI) mutlak harus melibatkan nelayan, masyarakat pesisir. “Kita akan bicara (pembekalan pengetahuan) dengan nelayan terkait konservasi, SDI dan pengetahuan dasar kegiatan wisata bahari. Hasil kerja kami yang di Parai sudah memberi hasil. Kami mau extend pada wilayah (perairan) lainnya,” Johnnie Sugiarto dari UNGC Indonesia mengatakan kepada Redaksi Telegraf.

Pengelolaan kawasan konservasi perairan terpadu dan komprehensif selalu dibarengi dengan pengetahuan ilmiah. Selain ekosistem, dinamika masyarakat terutama yang tinggal di pesisir harus menuju pada aspek keberlanjutan (sustainability). Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat juga menjadi semakin signifikan. “Kebetulan saya anggota Global Compact terutama urusan terkait konservasi. Saya juga masih terus belajar setelah dan sebelum mengerjakan proyek (konservasi), investasi pariwisata (pantai) Parai. UNGC sering menyelenggarakan kursus singkat. Saya ikut, belajar seharian (mengenai konservasi).”

Pantai Parai sebagai salah satu destinasi wisata bahari di Bangka tidak ada habisnya dijelajahi. Pengunjung juga semakin banyak pilihan untuk bersenang-senang, termasuk snorkeling dan diving (selam). Kerajaan bawah laut Parai sangat luar biasa, kendatipun masih ada beberapa kapal isap timah yang cenderung merusak karang laut. Proyek Johnnie melibatkan beberapa perkumpulan diving dari berbagai daerah. “Yang punya fasilitasnya, orang asli Sungailiat (Bangka). Kami punya SDM termasuk divers (penyelam) dan kerjasama pembiayaan juga.”

Kendatipun demikian, penjajakan UNGC untuk kerjasama bukan perkara mudah. Masyarakat Bangka dan rekan Johnnie sempat menertawakan ide konservasi laut dan SDI. “Usulan saya sebagai kegiatan (konservasi), orang asli Sungailiatnya antara percaya dan tidak. Mereka sempat anggap saya bermimpi.”

Ide awalnya yakni memberi makan ikan di pesisir pantai Parai. Nelayan dan anggota UNGC menentukan spot terlebih dahulu, yakni satu pulau karang. Kondisi pasang surut air menentukan kegiatan UNGC pada saat itu. Kalau surut, permukaan air hanya satu meter dari dasar laut. Sebaliknya, ketika air pasang bisa mencapai dua meter lebih. UNGC setiap hari, yakni pagi pukul 09.00 dan sore pukul 15.00 mendatangi pulau karang tersebut. “Kami bawa makanan seperti roti. Begitu ikan dengar suara motor boat, ikan ngumpet. Kami tebar (makanan), dan kami pergi. Bulan pertama, tidak ada ikan keluar. Tetapi bulan kedua, ikan sudah tunggu ketika mendengar suara boat. Bulan ketiga, ikan semakin kerubuti boat. Akhirnya kami terjun ke air, berenang. Ikan bisa dijinakan dengan konsistensi kita. Para diver juga bisa melihat ikan-ikan dari dekat, dan biota laut. Kerja kita ada hasilnya, karena dilandasi konsistensi.”

Baca Juga :  Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

Pekerjaan tidak berhenti sampai disitu. UNGC masih melihat perlunya pembekalan pengetahuan mengenai alat-alat tangkap nelayan yang membahayakan. Beberapa nelayan di Bangka menggunakan bahan peledak, racun dan sejenisnya yang mengancam kelestarian SDI. Lingkungan perairan akan semakin rusak, kalau nelayan tidak mengubah tradisi tersebut. Tetapi keakraban divers dan pecinta snorkeling dengan habitat ikan justru bisa memberi penghidupan buat nelayan, masyarakat pesisir. “Mereka bisa punya mata pencaharian yang tidak putus. Hal ini parallel dengan pelestarian laut dan sumber daya ikan kita. Wisata bahari harus bertumpu pada sustainability (kelestarian). Kalau tidak, investasi juga hilang.”

Pengelolaan sumberdaya ikan sangat erat kaitannya dengan pengelolaan operasi penangkapan ikan dan sasaran penangkapan ikan yang dilakukan. Usaha-usaha untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan dari ancaman kepunahan, sebenarnya telah dilakukan sejak lama oleh berbagai ahli penangkapan ikan di seluruh dunia. “Kami harus mengedukasi orang yang tidak mengerti. Sehingga kami juga selenggarakan kegiatan seperti Miss Marine Tourism untuk memperkaya pengetahuan para stakeholders (konservasi laut, SDI).”

Pengetahuan untuk para divers juga terkait dengan bahaya pada racun karang di laut. Banyak para divers yang lengah dengan memegang karang. Padahal karang mengandung racun. Resikonya, badan si diver bisa langsung panas dingin. “Kami bekali pengetahuan, bahwa apa saja di laut tidak boleh dipegang. Karena kondisi air terus goyang. Kalau ada gesekan, akhirnya iritasi. Kita bisa sesak karena kena racunnya.”

Biota untuk makanan ikan yang baru lahir. Terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya. Makanan untuk terumbu karang berpengaruh pada bleaching (pemutihan). Selain, kegiatan penambangan ilegal bisa berpengaruh pada bleaching. “Waktu cuci (hasil tambang), tailing ikut gelombang air. Pori-pori karang akhirnya tertutup. Anggota kami (UNGC) semproti. Kami turun ke dasar laut, semproti karang-karangnya. Kalau tidak, kondisi bleaching semakin parah. Banyak penyebab lainnya. Kalau air terlalu dangkal, kena sinar matahari, (karang) tidak kuat. Akhirnya mati.” (S.Liu)


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit
Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara

Waktu Baca 11 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Aktivitas pelayanan di Kantor Regional 2 Jawa Barat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Bandung, Jawa Barat. JIBI/Rachman
Ekonomika

Lawan Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Masyarakat Melek Literasi Keuangan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?