Telegraf — Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara, menegaskan industri asuransi nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat ketidakpastian global, namun tetap menunjukkan ketahanan dan peluang pertumbuhan.
Dalam acara apresiasi insan industri asuransi di Hotel Grand Sahid Jaya, Selasa (21/4/2026), Julius menyebut kondisi global yang diwarnai konflik geopolitik dan gejolak ekonomi berdampak langsung terhadap kapasitas industri, termasuk di sektor asuransi maritim.
“Industri dunia saat ini sangat volatil dan tidak mudah diprediksi. Bahkan kapasitas di sektor tertentu seperti asuransi kapal bisa tiba-tiba hilang,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi pelaku industri yang tetap mampu mencatatkan kinerja positif di tengah tekanan tersebut. Menurutnya, perusahaan yang mampu bertahan dan beradaptasi dalam situasi saat ini layak disebut sebagai pemenang.
“Dalam kondisi seperti ini, para pemimpin perusahaan menghadapi tantangan luar biasa. Jadi mereka yang bisa bertahan dan menang hari ini adalah pemenang yang sesungguhnya,” katanya.
Julius juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik, terutama di tengah meningkatnya sorotan terhadap produk unitlink. Ia mengakui adanya keluhan nasabah, namun menilai hal tersebut perlu dilihat secara proporsional.
“Jumlah pemegang polis sudah mencapai jutaan, sementara yang menyampaikan keluhan relatif kecil. Namun ini tetap menjadi perhatian untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pengelolaan,” jelasnya.
Selain itu, ia mengingatkan pengelola dana industri untuk tetap disiplin di tengah dorongan peningkatan investasi domestik.
“Investasi di pasar dalam negeri memang didorong, tetapi pengelola harus tetap berhati-hati. Yang paling penting adalah memastikan kewajiban kepada nasabah dapat dipenuhi,” tegas Julius.
Ia menambahkan, industri asuransi memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional melalui investasi jangka panjang bernilai ratusan triliun rupiah, sehingga tata kelola yang baik menjadi kunci menjaga keberlanjutan sektor ini.
“Asuransi itu hadir ketika orang lain mengalami kesulitan. Ini bukan sekadar produk, tapi komitmen untuk masa depan,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, ajang Unitlink Award 2026 yang digelar Media Asuransi mencerminkan ketahanan industri di tengah tekanan global.
Sebanyak 468 produk unitlink dari 35 perusahaan asuransi jiwa lolos seleksi tahun ini, meningkat dibandingkan 438 produk dari 33 perusahaan pada tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 58 produk meraih predikat unitlink dengan kinerja investasi terbaik, sementara penghargaan diberikan kepada 21 perusahaan asuransi jiwa, baik konvensional maupun syariah.
Ketua Dewan Juri Unitlink Award 2026, Tri Djoko, mengatakan peningkatan jumlah produk yang lolos pemeringkatan menunjukkan daya tahan industri dalam menjaga kinerja investasi.
“Peningkatan ini mencerminkan bahwa industri tetap mampu bertahan dan mencatatkan kinerja yang baik sepanjang 2025,” ujarnya.
Penilaian dilakukan dengan kriteria ketat, yakni produk telah dipasarkan minimal dua tahun, tidak mengalami anomali nilai aktiva bersih (NAB), serta perusahaan tidak tersangkut kasus hukum atau sanksi dari Otoritas Jasa Keuangan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur PT Media Asuransi Indonesia, S. Edi Santosa, mengakui unitlink menghadapi tantangan akibat perubahan preferensi masyarakat.
“Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat cenderung beralih ke produk proteksi tradisional. Namun unitlink tetap diminati karena menggabungkan proteksi dan investasi,” ujarnya.
Dengan fundamental yang masih kuat serta peningkatan jumlah produk berkinerja baik, industri asuransi jiwa dinilai tetap memiliki prospek positif, meski harus terus beradaptasi menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.