Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Politika

Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup

Didik Fitrianto Rabu, 15 April 2026 | 18:19 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Bendera partai dari salah satu Parpol yang ada di Indonesia berkibar di jembatan-jembatan kota. FILE/IST. Photo
Bagikan

Telegraf – Hari ini masyarakat telah menyadari bahwa keberadan partai-partai politik hanya menambah barisan oligarki yang menjadi parasit dalam negara, jauh dari kepentingan rakyat. Para politisi hanya menjadikan partai dan lembaga legislatif dan eksekutif sebagai jenjang karir politik untuk mengejar keuntungan pribadi. Oleh karena itu partai-partai baru jangan menjadi atomisasi politik yang hanya mereproduksi koruptor. Hal ini disampaikan oleh Sosilog UGM, Arie Sudjito seusai Focus Group Discussion (FGD) di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (14/04/2026).

“Rakyat sudah muak dan tidak membutuhkan partai-partai baru yang berorientasi masuk parlemen dan menjadi rent-seeker menyasar subsidi pemerintah. Mereka bukan memperjuangkan kepentingan rakyat tapi menjadi barisan oligarki koruptor baru,” tegas sosiolog UGM ini.

Wakil Rektor Universitas Gadjahmada (UGM) ini menjelaskan bahwa partai politik tidak pernah memberdayakan masyarakat bahkan memproduksi masalah baru menjadi beban rakyat.

“Tidak ada korelasi positif dalam program-program kapasitas building dan jaringan partai. Rakyat lebih sering menjadi barang dagangan proyek-proyek politik, tidak pernah menjadi pemberdayaan politik dan ekonomi yang seharus menjadi tugas partai-partai,” ujarnya.

Dalam FGD yang dihadiri aktivis, anggota partai, akademisi, wartawan dan kaum profesional itu Ari Sudjito menegaskan telah terjadi kemerosotan kualitas demokrasi akibat penyimpangan dalam sistim demokrasi itu sendiri.

“Berapa biaya sosial yang harus kita bayarkan pada saat demokrasi mengalami perapuhan luar biasa. Sebagai peristiwa politik, ini tidak bisa dianggap ringan karena mempunyai implikasi pada cara kita merumuskan strategi Indonesia ke depan. Suka tidak suka, kita harus mengatakan bahwa demokrasi sekarang ini mengalami kemerosotan. Di tengah krisis politik ekonomi global dengan resiko di tingkat nasional dan lokal, kita harus bisa mencegah agar demokrasi tidak semakin memburuk,” ujarnya.

Focus Group Discussion (FGD) di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (14/04). FILE/Telegraf

Mendesak Politik Masyarakat Sipil

Arie Sudjito mendesak agar politik masyarakat sipil harus segera melakukan evaluasi besar dan segera mengkonsolidasikan diri.

Gerakan masyarakat sipil Indonesia pasca reformasi memang harus diakui berhasil mendorong pembangunan demokrasi. namun mengalami kesulitan manakala institusi politik terbangun dan ketika lembaga representasi mengalami formalisasi.

Capaian-capaian saat ini menurutnya terlalu mentolerir hal-hal yang transaksional dan tidak keras menghadapi beberapa agenda yang memang harus didisiplinkan.

“Hari ini kita menyaksikan reproduksi militerisasi. Dua dekade berlangsung telah menghadirkan perangkat tata kelola pemerintahan, instrumentalisasi politik bercorak liberal, yang tidak berkorelasi positif dengan bangunan masyarakat sipil yang berorientasi citizenship,” paparnya.

Kemerosotan kualitas demokrasi menurutnya juga menjadi tanggung jawab masyarakat sipil yang juga semakin rapuh, persis ketika energi kekuatan demokrasi terkesima menyaksikan negara berdandan yang tidak berkesudahan kembali memangsa rakyatnya.

“Kita dipaksa untuk memaklumi situasi hingar bingar merayakan demokrasi semu dan secara sistematik demokrasi digrerogoti olh Oligarki dan dinasti, dimana-mana. Gelaran ironi, paradoks demokrasi saat ada teror, penangkaan aktifis, ragam penyumbatan saluran kritik.

“Saya masih lega, ketika rakyat masih punya ruang untuk melawan lewat Tiktok. Walaupun individual, namun masif dan menggedor institusi formal yang selalu berusaha menutupi kebenaran,” ujarnya.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Program CKG bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia dan mengurangi beban penyakit yang bisa dicegah. FILE/IST Photo
DPR RI dan Komdigi Tekankan Pentingnya Preventif Kesehatan Nasional
Waktu Baca 2 Menit
Perkuat Pertahanan Semesta, Kominfo dan DPR Dorong Percepatan Transformasi Digital
Waktu Baca 2 Menit
BTN Salurkan 6 Juta KPR, Perkuat Akses Hunian bagi 24 Juta Masyarakat Indonesia
Waktu Baca 2 Menit
Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup
Waktu Baca 3 Menit
PGN Perkuat Ekosistem BBG, Dorong Penggunaan Gas untuk Kendaraan Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan
Waktu Baca 3 Menit

Kominfo dan DPR RI Dorong Ruang Aman Digital Demi Kesehatan Mental Anak

Waktu Baca 2 Menit

BTN Genjot Penyaluran Kredit, Tembus Rp400,63 Triliun di Kuartal I/2026

Waktu Baca 2 Menit

Kominfo dan DPR RI Dorong Literasi Digital Guna Ciptakan Ruang Siber Ramah Anak

Waktu Baca 3 Menit

BTN Jakarta International Marathon 2026 Diproyeksi Putar Ekonomi di Atas Rp200 Miliar

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Politika

Ultah Megawati Dari ‘My Way’ Merawat Pertiwi dan Berkumpulnya Trah Soekarno

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Politika

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, PDIP Ajak Rawat Bumi Pertiwi

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Puan Apresiasi Penghargaan Pekerja Migran Indonesia Dari Korsel

Waktu Baca 5 Menit
Politika

Agusrin Najamudin Mantan Gubernur Bengkulu DPO, Karena Kotak Pandora. Benarkah?

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Prabowo Disebut Sudah Kantongi Info Terkait Illegal Logging

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Sekjen Muhammadiyah Minta Hindari Konflik Internal dan Korupsi

Waktu Baca 2 Menit
Politika

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU

Waktu Baca 2 Menit
Politika

PSI Buka Suara Terkait Peresmian Bandara di Morowali Oleh Jokowi

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?