Telegraf – Dalam debat capres semalam, Ganjar Pranowo menaruh keprihatinan yang dalam pada prajurit TNI yang gugur saat sedang operasi, seperti di Papua beberapa waktu lalu. Pada salah satu bagian, Ganjar antara lain mengatakan, jangan ada lagi prajurit yang mati sia-sia. Dalam pandangan Ganjar, perlu ada perencanaan operasi yang matang dan alutsista memadai, untuk menghindari peristiwa dimaksud berulang.
“Mas Ganjar sebagai anak anggota Brimob, bisa merasakan bagaimana beratnya tugas seorang prajurit TNI atau polisi, bila tiba-tiba gugur dalam tugas, bukan negara saja yang merasa kehilangan, adalah keluarga yang sejatinya lebih berat, karena prajurit yang gugur adalah tiang keluarga. Itu sebabnya Mas Ganjar menegaskan tentang arti penting pengadaan alutsista baru, bukan pesawat Mirage bekas, yang ujung-ujungnya bisa membahayakan awaknya,” kata Wakil Ketua TPN Ammarsjah Purba, (08/01/2023).
Pembelian alutsista yang benar-benar baru adalah bagian dari perencanaan strategis dan prinsip zero accident, yang sebenarnya sudah dimulai sejak era Soekarno dalam rangka Operasi Trikora awal 1960-an.
“Bila ada capres yang mengatakan pesawat dan kapal di era Soekarno adalah juga bekas, perlu dipertanyakan datanya, dan terlebih capres tersebut paham sejarah tidak. Pesawat tempur Indonesia di masa itu, adalah yang terkuat di belahan Bumi selatan, bagaimana mungkin memakai pesawat bekas,” imbuhnya.
Pasangan Ganjar-Mahfud memiliki konsep kemandirian dalam alutsista, agar Indonesia tetap berdaulat secara politik, berdasarkan pengalaman Indonesia yang pernah merasakan embargo suku cadang, khususnya pesawat tempur. Indonesia tidak bisa terlalu tergantung pada produk luar dan serba impor, itu sangat riskan, sanksi embargo sewaktu-waktu dapat ditimpakan kepada suatu negara.
“Mas Ganjar akan memperkuat sinergi industri alutsista yang sudah ada, seperti PT Pindad, PT PAL, dan untuk perangkat elektronika ada PT Len Industri, termasuk sudah tersedianya SDM kita yang kompeten,” ujar Ammar.
Guna memperkuat pertahanan dan keamanan, Indonesia akan membentuk satuan siber yang padat teknologi digital, yang memiliki efek penguatan daya gentar (deterrent effect).
“Ganjar-Mahfud berkomitmen memordenisasi pertahanan SAKTI. Ganjar-Mahfud menginginkan transformasi pertahanan berdasarkan doktrin Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (SISHANRATA) untuk membentuk Kekuatan Pertahanan Indonesia yang berdaya gentar dan dilengkapi dengan alutsista SAKTI (Perkasa dengan Keunggulan Teknologi 5.0),” bebernya.
Perang yang akan datang adalah perang siber, bukan lagi prajurit yang turun ke lapangan, dan itu sudah masuk 21 program prioritas Capres Ganjar.
“Seperti disampaikan Mas Ganjar semalam, harus ada perencanaan yang konsisten dan bottom-up dalam mengelola pertahanan, termasuk pembelian pesawat tempur. Berdasar masukan perwira matra udara senior, Mas Ganjar bilang, bila pesawat bekas tidak dibutuhkan, ya untuk apa pula dibeli, yang mungkin lebih pantas masuk museum,” tegas Ammar.
Ganjar yang berlatar belakang anak seorang anggota polisi berpangkat rendah, tidak melupakan aspek pendidikan anak prajurit dan perumahan.
“Perumahan prajurit harus diprioritaskan, agar mereka bisa bekerja dengan tenang. Juga ada keringanan biaya kuliah, bila perlu digratiskan, bagi anak-anak prajurit berpangkat rendah. Dari segi pendanaan, kiranya lebih bermanfaat membiayai pendidikan anak prajurit, ketimbang program makan siang gratis,” pungkasnya.