Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Di Blitar, Menko PMK Rubah Wasiat Soal Kematian Bung Karno
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Nasional

Di Blitar, Menko PMK Rubah Wasiat Soal Kematian Bung Karno

A. Chandra S. Sabtu, 27 Agustus 2022 | 15:09 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Effendy, pada saat acara Blitar Etnic Nasional (BEN) Carnival. FILE/IST/Telegraf
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Effendy, pada saat acara Blitar Etnic Nasional (BEN) Carnival. FILE/IST/Telegraf
Bagikan

Telegraf – Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Effendy, yang juga merupakan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, mengatakan bahwa, Bung Karno berwasiat ingin dimakamkan di Blitar. Muhadjir mengatakan hal itu dalam sambutannya, pada saat acara Blitar Etnic Nasional (BEN) Carnival.

Dalam statemennya itu, Muhadjir meyakini, bahwa Bung Karno tidak akan mewasiatkan untuk dimakamkan di Kota Blitar, seandainya Kota Blitar tidak mempunyai keistimewaan.

“Di Indonesia ini tidak ada yang sama dengan Kota Blitar. Di mana kota yang dipilih, yang diwasiatkan oleh almarhum Founding Father Indonesia, agar dimakamkan di Kota Blitar ini,” katanya, Sabtu (27/08/2022).

Diketahui, pada 21 Juni 1970 Presiden pertama RI itu wafat dalam usia 69 tahun. Diakhir usia senjanya dan menjalang wafatnya, sungguh tragis, orang yang sejak muda berjuang untuk kemerdekaan negaranya, meninggal dalam kesepian. Hanya tiga tahun, setelah Sidang Istimewa MPRS bulan Maret 1967 mencabut kekuasaannya sebagai Presiden. Padahal, saat itu majelis tertinggi negara ini juga yang telah mengangkatnya sebagai presiden seumur hidup pada 1963.

Sejak semakin bertambah parahnya kesehatan Bung Karno, banyak pihak mempersoalkan di manakah ia nanti akan dimakamkam. Apalagi, jauh sebelum ia meninggal, Bung Karno telah dari jauh hari mengatakan keinginannya atau semacam wasiat mengenai kematian dan pemakamannya suatu hari nanti.

Berikut ini adalah beberapa nukilan pernyataan dari Bung Karno seperti tertulis dalam buku: Sukarno an Autobiography as told to Cindy Adam, kepada penulis asal AS itu, Bung Karno menyatakan soal wasiatnya.

Dalam surat wasiatnya pada 6 Juni 1962 itu, Bung Karno mengatakan:

“Aku ingin meninggal cepat dan tenang di tempat tidur. Apabila tiba ajalku, aku ingin sekedar menutup mata dan menyerahkan diri kepada Tuhan.”

“Aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan”

“Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen” tambah Soekarno dalam tulisan Cindy.

“Selalu menjadi keinginanku agar peti matiku dibungkus dengan bendera Muhammadiyah. Aku tidak menghendaki gelar-gelarku semua dijejerkan di atas batu nisanku. Apabila hal itu terjadi maka rohku akan kembali ke muka bumi ini, karena aku pasti tidak akan tenang dalam keadaan itu. Maka janganlah buat monumen yang besar bagiku. Apabila aku meninggal dunia, kuburkan bapak sesuai dengan agama Islam dan di atas sebuah batu yang kecil dan sederhana ini, tulislah di sini berbaring Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.”

Selanjutnya Bung Karno juga menyatakan, “Kuperingatkan kawan-kawanku agar aku tidak dikuburkan seperti Mahatma Gandhi. Kawan baikku Nehru memperhias makam Gandhi dengan berbagai perhiasan. Itu terlampau mewah.” kata Bung Karno pada Cindy yang akhirnya ditulis dalam buku tersebut.

Baca Juga :  Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

Menurut literasi dan wasiat lainnya, yang ditulis pada 16 September 1964, oleh Bung Karno di Bogor, juga mengandung pesan serupa. Bahwa Bung Karno berwasiat ingin dimakamkan di Batutulis, Bogor.

Semua wasiatnya di atas adalah bentuk keinginan dari Bung Karno yang hanya ingin beristirahat dengan tenang dan tetap berada dalam pangkuan keindahan negara yang dicintainya, dengan kesederhanaan sebagaimana ia hadir dan berada di tengah-tengah rakyatnya.

Namun, pernyataan dari Muhadjir tersebut menjadi sesuatu hal baru yang perlu ditelusuri kembali kebenarannya. Pasalnya, tidak sesuai dengan literasi-literasi yang sudah dikatakan oleh Bung Karno.

Pesan surat wasiat yang ditulis Bung Karno pada 24 Mei 1965 lebih jelas lagi. Bung Karno menulis:

“Tempat kuburan bersama itu telah saya tentukan, yaitu di Kebun Raya Bogor dekat bekas kolam permandian yang membukit,”

Bung Karno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 dan jenazahnya gagal dimakamkan di tempat yang seperti disebutkan di dalam surat wasiatnya.

Memang akhirnya Bung Karno dimakamkan di Blitar, berdampingan dengan makam ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Sesuai Keputusan Presiden (Kepres) RI No 44 Tahun 1970, Presiden Soeharto menetapkan tempat makam jenazah almarhum Bung Karno di Blitar. Dimana keputusan itu dianggap untuk menjauhkan pengaruh Bung Karno ditengah rakyatnya seperti saat di isolir pada waktu-waktu terakhirnya.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit
Dokumen Digital Palsu
Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi
Waktu Baca 3 Menit
Bite Me Sweet
Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia
Waktu Baca 4 Menit
AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat
Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

KPI Social Media 2026: Strategi Baru Biar Konten Makin Naik

Waktu Baca 6 Menit

Aussie Beef Fair Hadir di Jakarta dengan Daging Sapi Premium New South Wales dan Kesempatan Terbang ke Sydney

Waktu Baca 6 Menit

SATSET Belanja Aman Tanpa Khawatir, Lazada Ajak Konsumen Lebih Waspada terhadap Penipuan

Waktu Baca 5 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Magang Nasional
Nasional

Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Sinergi Lintas Sektoral, Pemberantasan Narkoba Jadi Prioritas Nasional

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

GAMKI dan Lembaga Kristen Kompak Polisikan JK Terkait Isi Ceramah

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Pernyataan Jusuf Kalla Terkait Isu SARA Dianggap Berpotensi Sesatkan Publik

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Proses Hukum Andrie Yunus, Aktivis 98: Jangan Ada Yang “Memancing di Air Keruh”

Waktu Baca 4 Menit
Nasional

Generasi Muda Harus Diingatkan Tentang Bahaya Kepentingan Asing

Waktu Baca 4 Menit
Nasional

Proses Hukum Militer Kasus Air Keras Wajib Dihormati dan Dikawal Publik

Waktu Baca 5 Menit
Nasional

Kasus Air Keras dan Isu Destabilitas Keamanan Negara, Publik Harus Waspada Soal Perang Informasi

Waktu Baca 5 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?