“Saya harus bersaksi bahwa para pemimpin global semakin diakui atas Indonesia, terutama setelah mengendalikan penyebaran COVID-19, musuh tak kasat mata secara global,” jelasnya.
Ia menyoroti, di satu sisi peningkatan pengakuan itu perlu jadi dorongan bagi Indonesia untuk menghadapi masalah lainnya. Keberhasilan disiplin dan kolaborasi jadi poin penting dalam mengendalikan COVID-19 di Indonesia.
“Melalui disiplin dan kolaborasi, seharusnya tidak ada yang tidak bisa kita selesaikan bersama. Di sisi lain, kita juga harus menyadari bahwa potensi-potensi tersebut akan tetap statis hingga diarahkan pada tujuan-tujuan tertentu,” katanya.
Presidensi G20 di Indonesia dapat memainkan peran penting dalam pemulihan pascapandemi di tanah air. Menko Marves Luhut meminta untuk memanfaatkan momentum ini guna membuka potensi Indonesia.
“Pertama, sektor pariwisata kita sangat terpukul oleh pandemi yang perlu kita genjot selama KTT G20 dan acara sampingannya. Kedua, kita harus mendorong usaha mikro-kecil-menengah untuk menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi yang dapat kita fasilitasi promosinya,” imbuhnya.
Ketiga, Indonesia juga harus mempromosikan inisiatif menuju pembangunan berkelanjutan, seperti transisi energi dan kendaraan listrik. Hal ini diharapkan, dapat menurunkan risiko keberlanjutan yang dinilai oleh kelompok investor, mengurangi premi risiko yang mereka harapkan saat berinvestasi di Indonesia.
Di sisi lain, Indonesia juga harus menyadari bahwa potensi-potensi tersebut akan tetap statis hingga diarahkan pada tujuan-tujuan tertentu.
Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 21 Tahun 2021, nantinya terdapat sejumlah kegiatan dari presidensi G20, mulai dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, persiapan pertemuan multitier, G20 side events. Diinformasikan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, G20 akan diadakan di 19 kota dengan 150 pertemuan dan diperkirakan dihadiri oleh 20.988 delegasi.
Menurut Luhut, walaupun hanya diikuti oleh 20 negara, tapi negara-negara ini telah menyumbang 80 persen dari total Gross Domestic Bruto di dunia. G20 dinilai akan menguatkan sektor perekonomian, seperti melalui bidang perdagangan, investasi, ketenagakerjaan, agrikultur, kesehatan, pendidikan, human capital dan Sustainable Development Goals.
Tujuan utama diadakannya side events adalah untuk memastikan bahwa anggota G20 dapat memperoleh pemahaman yang jelas dan komprehensif tentang agenda prioritas KTT G20. Acara sampingan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan multiplier effects dari perekonomian Indonesia, baik melalui promosi, investasi, maupun perdagangan.
“Menjadi negara tuan rumah bagi Presidensi G20 pada 2022 dapat memainkan peran penting dalam pemulihan pasca pandemi kita. Kita harus memanfaatkan momentum untuk membuka potensi Indonesia dan mempromosikan kemajuan pembangunan kita ke dunia,” pungkasnya.
Photo Credit : Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan. ANTARA