Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Tatanan Baru
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Nasional

Tatanan Baru

Edo W. Rabu, 27 Mei 2020 | 10:29 WIB Waktu Baca 6 Menit
Bagikan
Bagikan

Rakyat kini boleh berlega hati. Kekhawatiran bahwa Indonesia bakal mengalami stagnanisasi ekonomi akibat kebijakan sejumlah kepala daerah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa direduksi.

Ekonomi kini mulai menggeliat pada wilayah yang diklaim sudah masuk zona hijau dari penularan Pandemi Corona. Aktivitas masyarakat secara pelan-pelan sudah mulai bisa digerakkan kembali dengan tatanan baru atau new normal.

Hal tersebut semuanya berkat kebijakan wisdom dari seorang Joko Widodo. Sang pemimpin yang penuh inovasi, gagasan dan tidak pernah tidur untuk selalu memikirkan rakyat.

Jokowi dengan cerdas menelorkan gagasan baru dengan kebijakan jalan tengah yang ia beri nama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan tersebut dilakukan demi memutus mata rantai penularan virus Corona namun tidak mengorbankan aktivitas dan kebutuhan rakyat untuk mencari nafkah dan ekonomi.

Sebagai sosok yang teguh berpendirian mantan Walikota Solo ini harus mendapat hinaan dan kritikan dari oposan. Para kritikus memaksanya untuk melock down negeri ini tanpa mempedulikan apa yang terjadi dan dampaknya.

Bisa dibayangkan betapa kisruh dan caosnya rakyat negeri ini jika Presiden Jokowi menuruti teori para kritikus untuk me lock down Indonesia. Mereka kesulitan mencari nafkah dan kebutuhan pokok. Yang akibatnya akan menjarah toko demi bisa memenuhi kebutuhan hidup jika pemerintah benar-benar membatasi aktivitas rakyat dengan pola secara lockdown.

Kritikus yang “menjerumuskan” dengan idenya Lock Down pun hanya tinggal glanggang colong playu. Dalam peribahasa Jawa artinya suka lari dari tanggung jawab. Maksud penulis punya ide memaksa Jokowi menerapkan Lock down namun ketika ekonomi terpuruk akibat dampak Lockdown, si kritikus ini dengan santainya tinggal kembali menyalahkan pemerintah. Ini kan tidak fair.

Namun Presiden Jokowi tidak terpancing teriakan mereka. Hinaan, cercaan dan segala fitnah, coba Jokowi biarkan mereka sebarkan kemana-mana. Yang penting bagi Jokowi, sebagai penanggung jawab nasib 280 juta rakyatnya ia harus berbuat nyata bagi negeri ini. Bahkan belakangan fitnah kian kejam dan ngeri disebar para oposan dengan tuduhan Jokowi akan menerapkan Herd Immunity. Sungguh kejam. Mengkait-kaitan dan berbicara tanpa data.

Namun semua hal itu dijawab Jokowi dengan ide segarnya yang terkini. Sang Pesiden berinovasi lagi. Ia mendesain tatanan baru atau new normal sebagai upaya menggerakkan kembali rakyat Indonesia pada tatanan baru.

Dalam kebijakan tatanan baru atau new normal ini Presiden Jokowi akan mengedukasi dan lebih mendisiplinkan rakyat Indonesia yang dikenal suka melawan dan bandel. Jokowi ingin menata rakyat untuk punya keadaban, kesantunan, menjaga etika dan mematuhi aturan sebagaimana menjadi warga yang disiplin.

Salah satu contoh nyata masyarakat yang sudah sangat patuh, disiplin dan menghormati etika adalah warga negeri Singapura. Mereka sudah bertahun-tahun hidup dalam tata aturan dan disiplin yang bagus untuk menghormati antar manusia.

Baca Juga :  Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

Berbeda dengan di negara kita, rakyatnya susah diatur. Inginnya menang sendiri, paling benar sendiri dan paling merasa punya hak asasi tanpa menghormati dan menghargai hak orang lain. Itulah makna substansial yang ingin dibangun Presiden Joko Widodo dalam mengubah budaya dan pola pikir rakyat Indonesia di masa pandemi Corona yang kita belum tahu kapan ujungnya akan berakhir.

Selain terus mengajak warga masyarakat taat aturan, Presiden Jokowi juga “terpaksa” mengerahkan TNI dan Polri sebagai deterent effect atau efek tekanan agar rakyat patuh. Rakyat kita ini seperti anak kecil kalau tidak dijaga dan dipaksa dengan kehadiran aparat, mereka susah untuk menjadi orang yang taat aturan, punya etika dan bisa menghormati orang lain.

Dimulai dengan kedisplinan menjaga jarak (social distancing), rajin mencuci tangan, menggunakan masker hingga menghindari kerumunan. Di sejumlah tempat telah disediakan tempat untuk mencuci tangan. Namun ternyata budaya ini hanya hangat-hangat tai ayam.

Begitu waktu berjalan, tempat cuci tangan seolah museum yang menjadi pajangan belaka. Jangankan bicara sabunnya, bahkan terkadang airnya pun sudah tak ada. Padahal tempat cuci tangan menjadi salah satu SOP Protokol WHO yang sangat penting.

Jika masyarakat sadar dan patuh dengan aturan Protokol dan mau berdisiplin, maka penularan virus Corona bisa diminimalisasi. Dan Kota Bekasi, Jawa Barat mampu membuktikan hal tersebut. Sejumlah lingkungan RT, RW hingga kecamatan di Kota Bekasi kini sudah masuk dalam zona hijau karena RO nya dibawah satu persen artinya penularan virus Corona setiap harinya dibawah satu.

Oleh karena itu Presiden Joko Widodo tidak ingin terus membebani kehidupan rakyat dengan “hukuman kurungan” atau Program Dirumah Saja, yang kini sudah berjalan tiga bulan.

Rakyat mulai diberikan kesempatan beraktivitas namun dalam tatanan baru atau new normal yakni menjadi warga negara yang patuh pada aturan. Tetap menjaga disiplin dan menjalankan Protokol WHO, maka Insya Allah kurva penularan viru

s Corona bisa semakin menurun dan negeri ini bisa kembali menjadi normal secara bertahap sesuai harapan hidup rakyat.

Mereka bisa beri

badah secara berjamaah kembali, bisa menuntut ilmu di bangku sekolah kembali, bisa bekerja kembali, dan segala kehidupan normal lainnya yang tentunya dengan konsep tatanan baru atau new normal. Selamat menjalankan hidup lebih displin. (*)


Oleh : Edi Winarto
Penulis adalah Staf Pengajar STIKOM Intertudi dan Praktisi Hukum


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit
Dokumen Digital Palsu
Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi
Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

KPI Social Media 2026: Strategi Baru Biar Konten Makin Naik

Waktu Baca 6 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Magang Nasional
Nasional

Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Sinergi Lintas Sektoral, Pemberantasan Narkoba Jadi Prioritas Nasional

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

GAMKI dan Lembaga Kristen Kompak Polisikan JK Terkait Isi Ceramah

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Pernyataan Jusuf Kalla Terkait Isu SARA Dianggap Berpotensi Sesatkan Publik

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Proses Hukum Andrie Yunus, Aktivis 98: Jangan Ada Yang “Memancing di Air Keruh”

Waktu Baca 4 Menit
Nasional

Generasi Muda Harus Diingatkan Tentang Bahaya Kepentingan Asing

Waktu Baca 4 Menit
Nasional

Proses Hukum Militer Kasus Air Keras Wajib Dihormati dan Dikawal Publik

Waktu Baca 5 Menit
Nasional

Kasus Air Keras dan Isu Destabilitas Keamanan Negara, Publik Harus Waspada Soal Perang Informasi

Waktu Baca 5 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?