Telegraf, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berada di deretan belakang penonton di tribun VVIP SUGBK ketika Jokowi berjalan untuk menyerahkan medali kepada skuad tim Persija usai menaklukkan Bali United 3-0 di stadion utama Gelora Bung Karno (SUGBK), kemarin malam, (17/02/2018).
Baru saja ia mau turun dari tribun VVIP untuk ikut mendampingi Jokowi, seorang lelaki berbaju safari menghentikan langkah Anies. Anies yang merupakan gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Sandiaga Uno yang telah berhasil mengalahkan duet Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat dalam kontestasi Pilkada DKI untuk memimpin Jakarta.

Dalam video yang diambil dari jarak jauh terlihat Anies dicegat oleh lelaki berbaju safari yang diduga adalah Paspampres, agar tidak ikut mendampingi Jokowi dan Anies pun terlibat percakapan dengannya. Setelah itu, Anies sendirian kembali melangkah ke tribun VVIP, sementara pejabat-pejabat yang lainnya yang tadinya bersamanya ikut mendampingi Jokowi.
Semestinya, Gubernur DKI Jakarta mendampingi Presiden dalam menyerahkan Piala Presiden 2018 dimana Persija yang keluar sebagai pemenang dalam turnamen tersebut. Terlebih jika mengingat perhelatan Piala Presiden 2015 lalu, dimana saat Persib menjadi juara, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil diundang naik ke panggung dalam penyerahan piala.
https://youtu.be/5lgid08dZBo
Hanya beberapa saat setelah video itu tersebar di media sosial, memancing reaksi publik. Kasus itu pun menjadi berita utama di sejumlah media online sepanjang sore ini.
https://twitter.com/NetizenTofa/status/965091167707660289
“Sebagai bagian dari masyarakat sipil Indonesia kami Prodem mengutuk keras tindakan panitia Piala Presiden. Ini bukanlah cara mendidik berdemokrasi yang diperjuangkan mahasiswa 98 reformasi,” kata Ketua Umum Majelis Prodem Syafti Hidayat Sitorus.
Menurut Syafti Perhelatan sepak bola Piala Presiden bukanlah sesuatu yang istimewa karena siapapun presidennya nanti akan melakukan hal yang sama pada pemberian gelar juara.
Baca Juga : Jokowi Berikan Selamat ke Persija Usai Kalahkan Bali United di Final Piala Presiden
“Kami melihat ini masih ada sisa intrik-intrik politik yang tidak bagus buat Presiden Jokowi jika ingin dihargai rakyat sebagai presiden. Kita ini bernegara dalam bingkai NKRI. Ini Piala Presiden, yang mesti dijaga wibawa perhelatannya. Sekali lagi kami Prodem mengutuk keras yang tidak mendidik dan anti demokrasi ini,” kata dia.
Menurut dia insiden ini melanggar UU Nomor 9 Tahun 2010 Pasal 9 dan 13 tentang Keprotokoleran. Menurus Syafti panitia harus minta maaf secara terbuka ke publik atas insiden itu.
“Kalau tidak mau dicap serta dicatat oleh sejarah bahwa perhelatan piala presiden 2018 ini paling jelek dan anti demokrasi,” kata dia. (Red)