Pro dan Kontra Skema Burden Sharing Pemulihan Ekonomi, Apa Saja Itu?

Pro dan Kontra Skema Burden Sharing Pemulihan Ekonomi, Apa Saja Itu?

"Terkait keputusan BI untuk kembali memangkas bunga kebijakan, Budi menilai cukup beralasan mengingat laju penyaluran kredit terbukti sangat lemah sementara suku bunga saat ini masih melebihi proyeksi inflasi yang ditaksir sekitar 3,35% pada tahun 2020."

Pro dan Kontra Skema Burden Sharing Pemulihan Ekonomi, Apa Saja Itu?


Selama bulan Juli, para pelaku pasar disuguhkan dengan dua langkah kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Pertama, pada awal bulan, keduanya menyepakati skema berbagi beban (burden sharing) untuk pembiayaan dana penanganan dan pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Kedua, BI memutuskan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 4%.

PT Bahana TCW Investment Management menilai skema burden sharing antara pemerintah dan BI memiliki pro dan kontra dari market.

“Kita memang menghadapi situasi darurat dan pelik. Posisi neraca berjalan yang defisit dan terbatasnya dana dalam perbankan Indonesia, memunculkan tantangan berat untuk pembiayaan defisit ABPN 6,3% GDP untuk bertahan menghadapi pandemi. Tidak hanya terkait kepada keterbatasan kapasitas investor domestik menyerap emisi SBN, tetapi juga daya tahan fiskal yang penting untuk memacu pertumbuhan di kemudian hari,” papar Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat

Ia melanjutkan, sebelum wabah COVID-19, sekitar 12% belanja negara dialokasikan untuk pembayaran bunga dan cicilan pokok. Kini angka itu berisiko melonjak menjadi 17% belanja negara.

Budi menilai burden sharing mengurangi supply risk SBN terutama di pasar obligasi domestik. Memang betul, investor asing kini sedang menyikapi dampak pembelian SBN oleh BI terhadap rupiah, terutama setelah BI kembali memangkas bunga.

SSebagai info, BI akan sepenuhnya menyerap SBN yang dikeluarkan pemerintah yang ditujukan untuk belanja publik. Belanja untuk manfaat publik ini sebesar Rp 397,56 triliun, meliputi belanja kesehatan Rp 87,55 triliun, perlindungan sosial Rp 203,9 triliun, dan sektoral kementerian, lembaga dan pemda Rp 106,11 triliun.

Sementara untuk belanja barang non publik, BI akan bertindak sebagai stand by buyer melalui penerbitan SBN dengan mekanisme pasar sesuai kesepakatan pada UU nomor 2/2020. BI akan memperoleh bunga sebesar reverse repo rate dikurangi 1%. Belanja non publik ini meliputi bantuan UMKM sebesar Rp 123,46 triliun dan pembiayaan korporasi non-UMKM Rp 53,57 triliun.

Budi menilai tekanan terhadap rupiah sebulan terakhir bersifat temporer bila mencermati lonjakan harga emas yang berlawanan dengan pelemahan indeks dollar global (DXY) sementara penurunan suku bunga global LIBOR pada batas terendah dalam sejarah jelas menunjukkan terjadi kelebihan likuiditas.

Selain faktor eksternal pelemahan US$, potensi penguatan Rupiah hingga ke level 13.930 pada akhir tahun dimungkinkan oleh faktor internal penurunan defisit neraca berjalan yang selaras dengan perlambatan ekonomi.

Isyarat perlambatan ekonomi Indonesia diperlihatkan oleh surplus neraca dagang Indonesia dua bulan berturut-turut, yakni US$ 2,1 miliar (Mei 2020) dan US$ 1,27 miliar (Juni 2020). BI dilansir memproyeksikan defisit neraca berjalan (current account deficit, CAD) pada kisaran 1,5% GDP pada akhir tahun 2020.

Budi menyakini pada akhirnya investor asing akan kembali melirik SBN mengingat imbal hasil yang ditawarkan lebih tinggi dibanding negara lain.

Terkait keputusan BI untuk kembali memangkas bunga kebijakan, Budi menilai cukup beralasan mengingat laju penyaluran kredit terbukti sangat lemah sementara suku bunga saat ini masih melebihi proyeksi inflasi yang ditaksir sekitar 3,35% pada tahun 2020.

Dia berharap pemerintah pada semester kedua 2020 ini mempercepat realisasi penyerapan stimulus baik untuk sektor kesehatan, bantuan sosial, penguatan UMKM dan korporasi agar roda perekonomian mulai bergerak. Percepatan stimulus ini sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan dan kemauan perbankan untuk kembali menyalurkan kredit.

“Kami memantau laju pertumbuhan M1 (uang kartal dan uang giral) berbagai negara. Secara historis, pertumbuhan M1 pada Mei 2020 yang sebesar 9,65% memang terbilang tinggi. Namun, bila dibandingkan negara berkembang lainnya terbilang kurang impresif. Percepatan stimulus yang memperkuat daya beli dan penurunan yield SBN meningkatkan valuasi dan, dengan demikian, peluang kenaikan harga saham,” katanya mengakhiri.


Photo Credit: Suasana kemacetan di Jakarta, Indonesia. Para ahli transportasi telah memperingatkan bahwa Jakarta mengalami kemacetan ketika jumlah mobil di jalan melebihi jumlah ruang jalan yang tersedia. GETTY IMAGES/Ed Wray

Shan Santi

close