Wayang Kulit Ahok-Djarot Dibanjiri Warga Jakarta

Wayang Kulit Ahok-Djarot Dibanjiri Warga Jakarta

"Kalau melihat animo warga yang datang saya sangat yakin dukungan warga Jakarta asal Jawa kepada pasangan Cagub dan Cawagub Ahok-Djarot, kian besar, berdasarkan statistik mayoritas warga Jakarta berasal dari Jawa"

Wayang Kulit Ahok-Djarot Dibanjiri Warga Jakarta


Jakarta, Telegraf – Ribuan warga masyarakat Jakarta menyemut ke lapangan Blok S, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu malam (07/1/2017). Mereka antusias untuk bisa bertatap muka dengan Calon Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat dan menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Warseno Slank.

Pagelaran wayang kulit yang digelar Ketua Tim Sukses Ahok-Djarot, Prasetio Edi Marsudi ini bertujuan untuk melestarikan budaya Indonesia dan menghibur warga Jakarta. Tak disangka, ribuan masyarakat terutama warga Jakarta yang berasal dari suku Jawa tumpah ruah membanjiri lapangan Blok S, di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat memaparkan pagelaran wayang kulit adalah upaya untuk nguri-uri (melestarikan,red) budaya Jawa. “Di Jakarta ini warga masyarakat asal Jawa sangat besar jumlahnya, mereka masih mencintai wayang kulit sebagai budaya yang harus dilestarikan,” tutur Djarot yang malam itu bersama ribuan warga masyarakat menonton wayang.

Selain itu, lanjut Djarot, wayang kulit adalah kesenian asal Hindu. Namun para wali menggunakan wayang kulit sebagai sarana dakwah di awal era penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Artinya, sebelum agama masuk, budaya menjadi media paling efektif dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan.

“Dalam cerita pewayangan itu ada pesan moral yang baik, yakni ada dharma atau kebaikan,” ujar Djarot.

Ketua Timses Ahok-Djarot Prasetio Edi Marsudi selaku penyelenggara pagelaran wayang mengatakan, pertunjukan wayang kulit ini sangat efektif untuk menarik simpatik kalangan warga Jakarta yang berasal dari Jawa.

“Kalau melihat animo warga yang datang saya sangat yakin dukungan warga Jakarta asal Jawa kepada pasangan Cagub dan Cawagub Ahok-Djarot, kian besar, berdasarkan statistik mayoritas warga Jakarta berasal dari Jawa, baru sisanya suku lain,” ujar Mas Pras, sapaan akrab Prasetio Edi Marsudi.

Bagaimana dengan tren elektabilitas Ahok yang konon kabarnya turun? tanya wartawan. “Saya tidak mau berspekulasi dengan katanya-katanya, Ahok ini masih mending ada survey yang menyebutkan persentase dukungan dia masih besar, dulu waktu jaman pak Jokowi (Presiden RI Joko Widodo,red) semua lembaga survey menunggulkan Foke (Gubernur petahana Fauzi Bowo,red), tapi hasil akhirnya? Pak Jokowi yang memenangkan hati rakyat Jakarta,” papar Mas Pras.

Rani, salah satu warga Jakarta yang malam itu ikut menonton wayang mengaku siap mendukung pasangan Ahok Djarot. “Kedua pasangan ini sudah teruji dan terbukti, jadi buat apa kami berspekulasi, karena Jakarta butuh figur pemimpin seperti pak Ahok, tegas dan cerdas” katanya.

Perempuan muda ini juga mengapresiasi cara kampanye timses Ahok-Djarot yang menggunakan pendekatan budaya sebagai media kampanye. “Acara menggelar wayang kulit ini sangat bagus mas, kami baru pertama kali ini menonton wayang kulit ternyata mengasyikkan ya, dialog dalangnya kadang-kadang banyak yang lucu dan menghibur,” kata Rani.

Sebagian besar warga yang membanjiri lapangan Blos S, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu ternyata siap mendukung dan memenangkan paslon Ahok-Djarot.

“Ya kemarin juga ada wayang kulit di lapangan Blok S ini yang digelar salah satu calon, tapi jumlah pengunjungnya tidak sebanyak malam ini, bahkan sempat membuat kecewa warga karena saat membagikan kaos tidak semua kebagian, kaos yang dibagikan hanya untuk orang-orang tertentu,” kata satu warga Kebayoran Baru ini.

Ia lebih mengapresiasi wayang kulit yang digelar Timses Ahok-Djarot karena yang datang justru banyak dari kalangan masyarakat bawah. “Kalau wayangan yang sekarang (digelar timses Ahok-Djarot,red) yang parkir motor membludak, dibanding yang kemarin kebanyakan yang parkir mobil tapi tidak seramai malam ini, jadi wayangan malam ini lebih merakyat,” kata Hermanto, warga Kebayoran Baru asal Purwodadi, Jawa Tengah ini. (Red)


Edo W.

close