Warga Bengkulu Tunggu Presiden Pembawa Kemajuan

Oleh : Edo W.

Telegraf – Bengkulu belum merasakan manfaat pembangunan. Perekonomiannya belum berkembang. Kepada Wakil Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Amarsyah Purba, warga menyampaikan harapannya.

Pemilihan umum selalu membuka harapan akan hadirnya kepemimpinan nasional yang peduli akan persoalan-persoalan bangsa. Sebagian wilayah Indonesia sudah berkembang jauh, sebagian lain masih tertinggal. Bengkulu adalah salah satu wilayah yang tak terlalu banyak diperhatikan sejak mulai bergulirnya pembangunan.

Menempati urutan posisi termiskin kedua di Pulau Sumatera, membuat warga Bengkulu tak nyaman. Pasalnya alam tempat mereka lahir kaya raya. Mereka berharap pembenahan infrastruktur dan kebijakan negara atas kelompok-kelompok profesi yang membutuhkan bila pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD memenangi Pipres 2024. Saat ini kondisi perekonomian belum berkembang karena keterbatasan akses sehingga distribusi barang hasil pertanian dan perkebunan terkendala.

Saat Amarsyah dan rombongan berkunjung, warga pun berdatangan untuk mengadu, pertengahan November 2023. Macam-macam hal mereka sampaikan, mulai dari jalan antar desa yang buruk hingga soal gaji guru.

Tugas besar menanti siapapun kelak bagi yang menjadi presiden. Kekayaan alam Bengkulu sebenarnya melimpah, lebih dari cukup untuk membuat wilayah yang dihuni 2 juta jiwa itu menjadi makmur. Perairan luasnya kaya akan ikan, sedang lahan pertanian, perkebunan dan tambang menyimpan potensi amat besar.

Keluhan warga utamanya soal keterbatasan sarana kapal dan modal membuat nelayan tradisional terus kesulitan. Dengan kapal bertonase kurang dari 30 ton mereka tak berdaya di lumbung ikan. Sedangkan di darat, bumi Bengkulu subur membuat panen hasil pertanian dan perkebunan selalu melimpah. Namun nilai tambah hasil bumi masih rendah karena kurangnya upaya untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen.

Hambatan atau ketertinggalan di luar sektor perikanan dan perkebunan pun ada. Di sektor pendidikan misalnya, jumlah sekolah tak kurang dibanding warganya, namun banyak pelajar kesulitan menempuh perjalanan dari rumah. Banyak sekolah beroperasi dengan kualitas dan kondisi yang kurang baik. Di desa pasokan listrik pun tak memadai sehingga pelajar sulit belajar menggunakan computer.

Para petani pemilik kebun pun mengeluh saat panen tiba. Cakin N Utomo, salah seorang relawan datang bertutur tentang lemahnya petani saat menjual hasil panen. Posisi tengkulak amat kuat.

“Praktis tak berjalan proses jual-beli yang seharusnya,” katanya, Jum’at (17/11/2023).

Banyak beban yang mesti dibayar oleh para petani kebun dalam bekerja. Soal pupuk misalnya selain harganya mahal bagi petani, pupuk yang kerap tak teratur datangnya. Beban biaya berkebun juga timbul dari keharusan membuat pagar pelindung dari gangguan hewan.

Baginya kehidupan petani Bengkulu masih belum sejahtera karena fasilitas pendidikan dan kesehatan masih jauh dari yang diimpikan.

“Kalau bisa sih pemerintah menanggung biaya pendidikan dan kesehatan,” imbuhnya.

Menurut dia saat ini berbagai pungutan masih sering dibebankan ke orangtua siswa di sana. Dalam Pemilihan Presiden 2024 sendiri bagi Yusak para calon mesti pintar mendekati warga. Apa yang harus dihindarkan adalah perpecahan akibat perbedaan pilihan dan sikap warga. Yusak yakin pasangan Ganjar-Mahfud mengerti apa yang harus dilakukan. Perubahan karena kemampuan pasangan ini dalam hal tata kelola pemerintahan.

“Selain itu tentu saja kesejahteraan orang-orang honorer,” ujar Yusak seorang relawan pendukung Pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang berprofesi sebagai guru.

Berbicara kepada wartawan saat hadir dalam acara peresmian Rumah Bersama Pelayan Rakyat oleh Wakil Ketua TPN Amarsyah Purba, Yusak menekankan soal kemiskinan sebagai soal yang penting .

Mendengar soal itu Amarsyah Purba memahami seluruh keluhan dan harapan-harapan di atas.

“Saya rasa perlu segera dibuat road map pengembangan industri dan perekonomian di Bengkulu,” ujarnya mengingatkan, Sabtu (18/11/2023).

Kondisi geografis selama ini membuat perekonomian Bengkulu terkendala untuk berkembang. Sarana jalan tol, akses ke pelabuhan mesti menjangka warga yang berada di tempat-tempat terpencil di sana. Tanpa melakukan perubahan itu sulit membayangkan mereka akan maju.
Ditekanannya bahwa infrastruktur menjadi sesuatu yang vital bagi kebangkitan ekonommi. Bila diujudkan, Bengkulu bisa menjadi kluster ekonomi sendiri.

“Percuma saja menggenjot produktivitas tapi hasilnya sulit dipasarkan,” ujarnya.

Upaya-upaya meningkatkan nilai tambah menjadi hal lain yang mesti dipertimbangkan sebagai langkah hilirasi produk. Hasil bumi jangan lain dibawa keluar Bengkulu dalam bentuk mentah semata. Menurut dia pengolah kopi menjadi produk dengan brand premium, minyak asiri, minuman jahe cukup terbuka.

Lebih dari itu, bila menang dalam Pilpres, Ganjar Pranowo, sebagai presiden kelak pun mesti memikirkan soal hilirisasi.

“Jangan sampai hasil kebun sawit Bengkulu hanya sekedar jadi CPO saja, mesti lebih dari itu, minyak goreng atau prodok-produk turunannya,” imbuhnya lagi.

Pengalaman Ganjar mengembangkan UMKM serta industri skala menengah dan besar di Jawa Tengah akan berguna untuk dijadikan acuan bagi daerah-daerah lain termasuk Bengkulu.

Lainnya Dari Telegraf


 

Copyright © 2024 Telegraf. KBI Media. All Rights Reserved. Telegraf may receive compensation for some links to products and services on this website. Offers may be subject to change without notice. 

Telenetwork

Kawat Berita Indonesia

close