Tolak Politik Uang dan Menangkan Kotak Kosong di Kabupaten Mamasa

"Kita harus berani melawan tirani kekuasaan parpol dan kekuatan politik uang yang memporak-porandakan kehidupan demokrasi dan melukai hati rakyat, mari kita menangkan kotak kosong dengan memilih tidak setuju dengan calon tunggal, Ini sebagai simbol ekspresi perjuangan rakyat dalam menegakkan demokrasi di Kabupaten Mamasa,"

Tolak Politik Uang dan Menangkan Kotak Kosong di Kabupaten Mamasa


Telegraf, Jakarta – Tokoh masyarakat Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Urbanisasi mengajak warga untuk memenangkan kotak kosong melawan calon tunggal Ramlan Badawi-Martinus Tiranda pada perhelatan Pilkada 2018. Hal tersebut untuk menunjukkan bahwa demokrasi di negeri ini masih tegak dan menjadi kedaulatan rakyat.

“Kita harus berani melawan tirani kekuasaan parpol dan kekuatan politik uang yang memporak-porandakan kehidupan demokrasi dan melukai hati rakyat, mari kita menangkan kotak kosong dengan memilih tidak setuju dengan calon tunggal, Ini sebagai simbol ekspresi perjuangan rakyat dalam menegakkan demokrasi di Kabupaten Mamasa,” ujar Urbanisasi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (27/1/2018)

Karena itu Urbanisasi mengajak kepada seluruh warga Mamasa untuk terus berjuang mempertahankan harkat dan martabat suara masyarakat Mamasa sebagai putra daerah ini dengan cara memenangkan kotak kosong pada Pilkada Mamasa Tanggal 27 Juni 2018 nanti.

“Mari kita selamatkan demokrasi di Mamasa. Ini adalah perjuangan rakyat. Karena menurut kami ini ada upaya pembungkaman hak-hak demokrasi rakyat Mamasa sehingga kami akan konsisten mendeklarasikan kotak kosong,” sambungnya.

Pasangan Ramlan Badawi-Martinus Tiranda menjadi calon tunggal setelah berkas pendaftaran lawannya, pasangan calon (Paslon) Obed Nego Dipparinding-Benyamin YD ditolak KPU Mamasa.

Pasalnya kedua pasangan itu tidak memenuhi syarat dukungan calon minimal didukung 20 persen suara partai politik di Pileg 2014 atau minimal didukung enam kursi dari 30 kursi di DPRD Mamasa. Pasangan Obed-Benyamin hanya mengantongi lima kursi di DPRD Mamasa, yakni Gerindra tiga kursi dan Hanura dua kursi.

Urbanisasi mengaku prihatin atas munculnya fenomena calon tunggal di Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Mamasa. Partai politik dinilai Urban telah menunjukkan arogansi dan monopolinya dengan hanya menampilkan satu calon di Kabupaten Mamasa.

Urbanisasi mengajak masyarakat Mamasa menolak keras upaya politik uang (money politik). “Kita jangan mau harga diri kita hanya dibayar 50 ribu atau 100 ribu tapi kita tidak menghasilkan seorang pemimpin yang tidak memiliki kredibilitas,” katanya.

Saatnya, lanjut Urban, rakyat di Kabupaten Mamasa melawan politik uang dan calon tunggal. “Kita menangkan kotak kosong agar mereka sadar bahwa demokrasi di Kabupaten Mamasa masih ada dan kita tidak bisa dibeli dengan uang,” kata putra daerah asal Kabupaten Mamasa yang kini hijrah ke Jakarta ini.

Pragmatisme parpol dengan mendukung petahana yang punya peluang menang besar maka distribusi dukungan kursi legislatif bagi parpol-parpol pendukung, akan semakin mudah didapatkan tanpa perlu bekerja keras. Dimana kandidat petahana, bebas melakukan sapu bersih rekomendasi parpol tanpa adanya kandidat penantang.

Menurut Urbanisasi, calon tunggal disebabkan sentralisasi kekuasaan parpol yang kini terjadi. Dimana rekomendasi harus di putuskan oleh orang-orang pusat. Hal ini menjadikan para calon kepala daerah, selain harus memiliki jejaring politik lokal untuk mendapatkan dukungan pemilih, harus pula punya jejaring elit pada tingkatan pusat untuk mendapatkan rekomendasi.

“Ini sangat tidak sehat bagi demokrasi di Kabupaten Mamasa yang diperjuangkan putra daerah saat memisahkan diri dari Polewali Mandar,” kata Urbanisasi.

“Karena pada dasarnya, keputusan calon kepala daerah bukan di putuskan oleh pengurus daerah. Namun oleh elit-elit Jakarta yang jangankan pernah datang, mengetahui kabupaten tersebut berada dimana, saya ragu mereka tau pasti,” sambungnya.

Faktor inilah yang menjadi kepercayaan mayoritas para calon petahana yang punya modal besar. Dari pada harus repot dan bersusah payah berebut simpati rakyat, kampanye, lebih baik bertarung didepan.

“Ini sangat buruk bagi kehidupan demokrasi kita dengan kekuatan uang bisa melakukan aksi borong semua rekom parpol, karena toh pada akhirnya hanya akan berhadapan dengan kotak kosong dan cukup menaklukan elit parpol orang-orang Jakarta. Karena itu, berarti setengah kemenangan sudah diperoleh, makanya rakyat Mamasa harus melawan kedzaliman seperti ini,” pungkas Urbanisasi.

Ketua KPU Kabupaten Mamasa, Suriani pada satu kesempatan mengatakan, meski hanya akan melawan kotak kosong, pasangan Ramlan-Marthinus belum tentu langsung menang. Jika 50 persen rakyat Mamasa tak setuju pasangan ini menjadi Bupati dan Wakil Bupati Mamasa, maka roda pemerintahan akan dijabat oleh Pj Bupati yang diangkat oleh Kemendagri.

“Yang menentukan menang nanti berdasarkan jumlah pilihan masyarakat dan melihat hasil suara. Jumlah yang dicapai harus 50 persen plus 1 dari suara yang sah, dan jika pasangan tersebut gagal di pilbup, maka roda pemerintahan dijalankan pejabat Bupati yang diangkat oleh Kemendagri,” ujar Suriani. (Tim)

Photo Credit : Dok/Ist. Photo


Edo W.

close