Tatanan Baru

"Berbeda dengan di negara kita, rakyatnya susah diatur. Inginnya menang sendiri, paling benar sendiri dan paling merasa punya hak asasi tanpa menghormati dan menghargai hak orang lain. Itulah makna substansial yang ingin dibangun Presiden Joko Widodo dalam mengubah budaya dan pola pikir rakyat Indonesia di masa pandemi Corona yang kita belum tahu kapan ujungnya akan berakhir."

Tatanan Baru


Telegraf, Jakarta – Rakyat kini boleh berlega hati. Kekhawatiran bahwa Indonesia bakal mengalami stagnanisasi ekonomi akibat kebijakan sejumlah kepala daerah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa direduksi.

Ekonomi kini mulai menggeliat pada wilayah yang diklaim sudah masuk zona hijau dari penularan Pandemi Corona. Aktivitas masyarakat secara pelan-pelan sudah mulai bisa digerakkan kembali dengan tatanan baru atau new normal.

Hal tersebut semuanya berkat kebijakan wisdom dari seorang Joko Widodo. Sang pemimpin yang penuh inovasi, gagasan dan tidak pernah tidur untuk selalu memikirkan rakyat.

Jokowi dengan cerdas menelorkan gagasan baru dengan kebijakan jalan tengah yang ia beri nama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan tersebut dilakukan demi memutus mata rantai penularan virus Corona namun tidak mengorbankan aktivitas dan kebutuhan rakyat untuk mencari nafkah dan ekonomi.

Sebagai sosok yang teguh berpendirian mantan Walikota Solo ini harus mendapat hinaan dan kritikan dari oposan. Para kritikus memaksanya untuk melock down negeri ini tanpa mempedulikan apa yang terjadi dan dampaknya.

Bisa dibayangkan betapa kisruh dan caosnya rakyat negeri ini jika Presiden Jokowi menuruti teori para kritikus untuk me lock down Indonesia. Mereka kesulitan mencari nafkah dan kebutuhan pokok. Yang akibatnya akan menjarah toko demi bisa memenuhi kebutuhan hidup jika pemerintah benar-benar membatasi aktivitas rakyat dengan pola secara lockdown.

Kritikus yang “menjerumuskan” dengan idenya Lock Down pun hanya tinggal glanggang colong playu. Dalam peribahasa Jawa artinya suka lari dari tanggung jawab. Maksud penulis punya ide memaksa Jokowi menerapkan Lock down namun ketika ekonomi terpuruk akibat dampak Lockdown, si kritikus ini dengan santainya tinggal kembali menyalahkan pemerintah. Ini kan tidak fair.

Namun Presiden Jokowi tidak terpancing teriakan mereka. Hinaan, cercaan dan segala fitnah, coba Jokowi biarkan mereka sebarkan kemana-mana. Yang penting bagi Jokowi, sebagai penanggung jawab nasib 280 juta rakyatnya ia harus berbuat nyata bagi negeri ini. Bahkan belakangan fitnah kian kejam dan ngeri disebar para oposan dengan tuduhan Jokowi akan menerapkan Herd Immunity. Sungguh kejam. Mengkait-kaitan dan berbicara tanpa data.

Namun semua hal itu dijawab Jokowi dengan ide segarnya yang terkini. Sang Pesiden berinovasi lagi. Ia mendesain tatanan baru atau new normal sebagai upaya menggerakkan kembali rakyat Indonesia pada tatanan baru.

Dalam kebijakan tatanan baru atau new normal ini Presiden Jokowi akan mengedukasi dan lebih mendisiplinkan rakyat Indonesia yang dikenal suka melawan dan bandel. Jokowi ingin menata rakyat untuk punya keadaban, kesantunan, menjaga etika dan mematuhi aturan sebagaimana menjadi warga yang disiplin.

Salah satu contoh nyata masyarakat yang sudah sangat patuh, disiplin dan menghormati etika adalah warga negeri Singapura. Mereka sudah bertahun-tahun hidup dalam tata aturan dan disiplin yang bagus untuk menghormati antar manusia.

Berbeda dengan di negara kita, rakyatnya susah diatur. Inginnya menang sendiri, paling benar sendiri dan paling merasa punya hak asasi tanpa menghormati dan menghargai hak orang lain. Itulah makna substansial yang ingin dibangun Presiden Joko Widodo dalam mengubah budaya dan pola pikir rakyat Indonesia di masa pandemi Corona yang kita belum tahu kapan ujungnya akan berakhir.

Selain terus mengajak warga masyarakat taat aturan, Presiden Jokowi juga “terpaksa” mengerahkan TNI dan Polri sebagai deterent effect atau efek tekanan agar rakyat patuh. Rakyat kita ini seperti anak kecil kalau tidak dijaga dan dipaksa dengan kehadiran aparat, mereka susah untuk menjadi orang yang taat aturan, punya etika dan bisa menghormati orang lain.

Dimulai dengan kedisplinan menjaga jarak (social distancing), rajin mencuci tangan, menggunakan masker hingga menghindari kerumunan. Di sejumlah tempat telah disediakan tempat untuk mencuci tangan. Namun ternyata budaya ini hanya hangat-hangat tai ayam.

Begitu waktu berjalan, tempat cuci tangan seolah museum yang menjadi pajangan belaka. Jangankan bicara sabunnya, bahkan terkadang airnya pun sudah tak ada. Padahal tempat cuci tangan menjadi salah satu SOP Protokol WHO yang sangat penting.

Jika masyarakat sadar dan patuh dengan aturan Protokol dan mau berdisiplin, maka penularan virus Corona bisa diminimalisasi. Dan Kota Bekasi, Jawa Barat mampu membuktikan hal tersebut. Sejumlah lingkungan RT, RW hingga kecamatan di Kota Bekasi kini sudah masuk dalam zona hijau karena RO nya dibawah satu persen artinya penularan virus Corona setiap harinya dibawah satu.

Oleh karena itu Presiden Joko Widodo tidak ingin terus membebani kehidupan rakyat dengan “hukuman kurungan” atau Program Dirumah Saja, yang kini sudah berjalan tiga bulan.

Rakyat mulai diberikan kesempatan beraktivitas namun dalam tatanan baru atau new normal yakni menjadi warga negara yang patuh pada aturan. Tetap menjaga disiplin dan menjalankan Protokol WHO, maka Insya Allah kurva penularan viru

s Corona bisa semakin menurun dan negeri ini bisa kembali menjadi normal secara bertahap sesuai harapan hidup rakyat.

Mereka bisa beri

badah secara berjamaah kembali, bisa menuntut ilmu di bangku sekolah kembali, bisa bekerja kembali, dan segala kehidupan normal lainnya yang tentunya dengan konsep tatanan baru atau new normal. Selamat menjalankan hidup lebih displin. (*)


Oleh : Edi Winarto
Penulis adalah Staf Pengajar STIKOM Intertudi dan Praktisi Hukum

Tatanan Baru


Tanggapi Artikel