Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Stabil Ditengah Gejolak Ekonomi Dunia

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Stabil Ditengah Gejolak Ekonomi Dunia

Pernyataan Presiden Trump untuk kembali melakukan kenaikan tarif impor barang dari Tiongkok, serta pernyataannya terkait the FED, memberi sentimen negatif di pasar global. Hal ini tergambar pada kenaikan indeks volatilitas secara signifikan"

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Stabil Ditengah Gejolak Ekonomi Dunia


Telegraf, Jakarta – Pemerintah melalui Kementrian Keuangan mengumumkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester 1-2019 tumbuh 5,06 persen year on year (yoy) walaupun pertumbuhan ekonomi dunia sedang bergejolak.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh kuatnya konsumsi dan kebijakan countercyclical belanja pemerintah, stabilitas ekonomi yang terjaga dengan inflasi yang menunjukan 3,32 persen, dan stabilnya nilai tukar rupiah, kondisi ini diyakini akan menjaga tingkat konsumsi masyarakat dan mendukung stabilitas ekonomi.

“Pernyataan Presiden Trump untuk kembali melakukan kenaikan tarif impor barang dari Tiongkok, serta pernyataannya terkait the FED, memberi sentimen negatif di pasar global.

Kebijakan Dovish

Hal ini tergambar pada kenaikan indeks volatilitas secara signifikan,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam publikasi APBN Kita edisi Agustus 2019, di kantornya.

Lanjut Sri di sisi lain, kebijakan dovish dari the Fed serta kebijakan pemberian stimulus ekonomi dari ECB, telah membuka ruang untuk mengalirnya modal ke emerging market, termasuk Indonesia. Kondisi ini memberi dukungan untuk penguatan nilai Rupiah.

Sri Mulyani juga mengatakan saat ini kondisi perekonomian dunia sedang tidak stabil dimana kondisi global tersebut di pengaruhi oleh munculnya pusat krisis baru dan adanya tekanan perdagangan internasional. Pusat krisis baru yang muncul antara lain, akibat naiknya tensi politik di Jepang-Korea, Argentina, dan Hong Kong, pembalikan kurva imbal hasil Amerika Serikat (AS), serta perang dagang AS-Tiongkok yang berkembang menjadi Currency War. Kondisi-kondisi ini menyebabkan sumber risiko global makin meluas dan meningkat.

Pengaruh Global

Untuk menghadapi tekanan diperdagangan Internasional Bank Indonesia merespon dengan menurunkan BI 7-Days (Reverse) Repo Rate sebanyak 2 kali. Langkah ini diharapkan efektif untuk menekan pengaruh global kepada ekonomi domestik.

Sri menambahkan realisasi penerimaan pajak sampai dengan akhir Juli 2019 telah mencapai Rp705,59 triliun atau 44,73 persen dari target APBN 2019 dan tumbuh positif sebesar 2,68 persen (yoy).

Realisasi penerimaan pajak utamanya ditopang oleh penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Nonmigas yang didominasi oleh penerimaan PPh 25/29 Badan, PPh 21, PPh Final, dan PPh Pasal 22 Impor. Kinerja pertumbuhan komponen PPh 21 dipengaruhi oleh faktor kinerja utilisasi tenaga kerja pada sektor usaha Industri Pengolahan, Jasa Keuangan, dan Pertambangan.

Baca Juga :   Zipmex Umumkan Investornya Setelah Mendapat Pendanaan 41 Juta Dolar AS

Sementara itu pendapatan Negara dan Hibah Menunjukkan Kinerja Positif, Tumbuh 5,88 persen (yoy) pada akhir Juli 2019 Hingga akhir bulan Juli 2019, realisasi penerimaan pendapatan negara dan hibah telah mencapai Rp1.052,83 triliun atau 48,63 persen terhadap target APBN 2019. Capaian tersebut tercatat masih mampu tumbuh positif sebesar 5,88 persen (yoy). (Red)


Photo Credit : Menteri Keuangan RI Sri Mulyani. IST/Jay

Atti K.

close