Pengamat Sebut Tempo Gagal Lakukan Pembusukan Pada PDIP

Pengamat Sebut Tempo Gagal Lakukan Pembusukan Pada PDIP

"Cover Pinokio Tempo menjadi contoh pembusukan terhadap Jokowi. Juga terkait KPK, Tempo berdiri di sisi Novel Baswedan sang penjaga Anies Baswedan,"

Pengamat Sebut Tempo Gagal Lakukan Pembusukan Pada PDIP


Telegraf – Hasil laporan jajak pendapat terkini dari empat lembaga survei menunjukkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berada pada urutan teratas dengan elektabilitas yang jauh diatas partai lainnya.

Meskipun sebelumnya Tempo dua kali menampilkan both cover story soal korupsi bansos dengan menyebut petinggi PDIP, namun tak memengaruhi elektabilitas partai itu.

Pengamat politik, Ninoy Karundeng, menyebutkan bahwa serangan Tempo dalam rangka upaya pembusukkan PDIP dengan menyeret para pentolannseperti Herman Hery dan istilah ‘Madam’ dalam kasus bansos adalah upaya sistematis untuk menghancurkan kredibilitas PDIP.

“Bukan hanya Herman Hery, Tempo pun secara jelas menyeret seolah ada keterlibatan petinggi PDIP yang disebut Tempo sebagai Madam yang jelas mengarah ke sosok tokoh sentral tokoh wanita di PDIP yang publik tahu,” kata Pengamat Politik Ninoy Karundeng, (23/02/2021).

“Tempo berusaha menggiring opini agar publik melihat PDIP sebagai partai yang tidak layak untuk didukung,” terangnya.

Menurutnya, seluruh strategi dan upaya dilakukan termasuk mengundang Herman Hery dan mewawancarai aparat hukum, namun semua narasumber disimpan oleh Tempo.

Terlihat publik dibodohi oleh Tempo yang membuat narasi sesuai dengan imajinasi Tempo sendiri yang dikemas dengan seolah sesuai azas-azas jurnalisme.

“Upaya Tempo melakukan pembusukan terhadap PDIP gagal total. Empat hasil survei terakhir dari lembaga lembaga kredibel tentang elektabilitas partai politik menunjukkan PDIP tetap sebagai parpol teratas,” ungkapnya.

Diketahui hasil survei Parameter menunjukkan bahwa PDIP tetap memiliki elektabilitas tertinggi dibanding partai politik lainnya yaitu 25,1 persen.

Sementara Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan elektabilitas PDIP sebagai partai teratas dengan 20,1%. Bahkan jika dilakukan semi terbuka, PDIP masih diposisi pertama 24,5%. Survey LSI juga menunjukkan PDIP paling dekat dengan rakyat sebesar 35,4%.

Hasil survei Lembaga Survei Indometer menunjukan elektabilitas PDIP masih teratas yakni 22,3%. Begitu pula dengan temuan dari survei Litbang Kompas yang dirilis pada Senin (22/02/2021) menunjukkan elektabilitas PDIP tetap nomor satu yakni 19,7%.

Hasil dari 4 Lembaga Survei yang dirilis awal minggu ini menunjukkan PDIP mendapat elektabilitas teratas dan lebih tinggi dari perolehan pemilu 2019 yang mencapai 18,3%.

“Ini yang membuat publik menyimpulkan bahwa pemberitaan Tempo yang membuat opini liar tak berdasar lewat pembusukan kader dan pimpinan PDIP telah gagal menurunkan elektabilitas PDIP, malah justru meningkat dibandingkan perolehan hasil pemilu 2019,” terangnya.

“Tempo justru di mata rakyat menjadi media pesanan. Tempo gagal membobongi rakyat yang telah paham dengan cara-cara culas Tempo dalam mengolah opini seolah fakta dan peristiwa. Hingga upaya pembusukan Tempo terhadap PDIP pun gagal total,” tegasnya.

Menurutnya, Tempo gencar menghantam PDIP dengan kemasan jurnalisme investigatif ciamik masa lalu, Tempo memainkan jurusnya itu.

Posisi Tempo yang selalu menyembunyikan sumber berita, dan mengolah imajinasi menjadi seolah data, membuatnya seolah memiliki sumber kredibel.

“Keterlibatan Juliari Batubara dalam kasus Bansos, dijadikan sebagai starting point untuk menyerang PDIP yang pada titik kulminasinya bertujuan untuk menjungkalkan Presiden Jokowi. Karena Tempo berpikir bahwa PDIP adalah kekuatan utama pendukung Jokowi,” paparnya.

Begitupun posisi Tempo sejak Pilpres 2019 telah menunjukkan kebencian sepenuhnya terhadap presiden Jokowi.

“Cover Pinokio Tempo menjadi contoh pembusukan terhadap Jokowi. Juga terkait KPK, Tempo berdiri di sisi Novel Baswedan sang penjaga Anies Baswedan,” ujarnya..

Menurutnya, keterkaitan posisi partisan Tempo menyebabkan Tempo tidak akan pernah mengusik Anies Baswedan, termasuk soal setoran duit ratusan miliar untuk Formula-E yang tidak jelas.

Belum lagi dugaan soal Bansos DKI Jakarta, bahkan penggunaan uang Covid-19 senilai Rp9 triliun oleh Anies tidak pernah jelas yang tidak diberitakan oleh Tempo.

“Sebaliknya, setitik noktah Jokowi akan dijadikan pintu untuk menyerang Pemerintahan Jokowi. Bahkan konflik internal Partai Demokrat pun Tempo giring seolah menjadi masalah Jokowi, caranya dengan membusukkan Moeldoko,” pungkasnya.


Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu

 

Edo W.

close