Pasien COVID-19 Yang Memiliki Riwayat Komorbid Jantung Perawatannya Lebih Sulit

“Pasien COVID-19 dengan komorbid jantung dan hipertensi cukup tinggi. Pasien COVID-19 dengan komorbid jantung secara otomatis menciptakan problem tersistematis (systemic problem) yang perawatannya jauh lebih sulit daripada yang tanpa komorbid”

Pasien COVID-19 Yang Memiliki Riwayat Komorbid Jantung Perawatannya Lebih Sulit


Telegraf – dr. Erika, Sp,JP. FIHA, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah selaku tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam penanganan pasien COVID-19 menceritakan, pasien COVID-19 dengan komorbid jantung dalam penangannannya lebih sulit di banding dengan pasien yang tanpa komorbid, bukan saja jantung pasien yang memilikiriwayang hipertensipun sama.

“Pasien COVID-19 dengan komorbid jantung dan hipertensi cukup tinggi. Pasien COVID-19 dengan komorbid jantung secara otomatis menciptakan problem tersistematis (systemic problem) yang perawatannya jauh lebih sulit daripada yang tanpa komorbid”, ungkapnya dalam diskusi yang di lakukan secara webinar beberapa hari lalu, di Jakarta.

Ia mengungkapkan rasa takut terpapar Covid sampai saat ini masih menjadi boomerang, tetapi melihat pasien yang di rawat sembuh mengalahkan semua rasa tersebut. “Jujur, rasa takut terpapar COVID-19 masih ada sampai sekarang, namun pengalaman merawat pasien sampai melihat mereka sembuh mengalahkan rasa takut saya”, kata dr. Erika.

Dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA(K)., Msi, Anggota Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) mengatakan melihat kondisi pandemi akhir-akhir ini yang cukup sulit untuk dikendalikan oleh sejumlah negara di dunia, inisiatif melakukan intervensi kesehatan melalui vaksin pun dilakukan.

Lanjutnya vaksinasi merupakan langkah yang aman dan umum dilakukan di dunia, termasuk di Indonesia. Indonesia telah melakukan vaksinasi kepada jutaan jiwa sejak 1974 dan terbukti aman. Percepatan penemuan vaksin dengan tetap memperhatikan asas keamanan dan efektivitas sangat diperlukan saat ini, Dengan tujuan untuk menurunkan kematian dan kesakitan masyarakat.

“Tujuannya adalah untuk menurunkan kematian dan kesakitan masyarakat. Tetapi harus diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) juga ada yang Namanya Data Safety Monitoring Board (DSMB) dan ada Komite Etik juga di Unpad. Perkara vaksin mana yang dipakai itu nanti biar pemerintah yang menentukan, tapi salah satu vaksin yang mungkin akan dipakai di Indonesia adalah vaksin Sinovac yang sudah diuji klinik fase III di Bandung”, terang Prof. Soedjatmiko.

Prof. Soedjatmiko menambahkan penyakit ini tidak memandang bulu, hingga saat ini pasien meninggal 60,4 persen di rentang umur 19-59 tahun, karena mereka aktif di luar rumah. Dengan segala cara pemerintah terus berupaya untuk melakukan pencegahan pemutusan rantai penularan Covid tersebut dengan berbagai edukasi agar [atuh 3 m, serta 3 T (Testing, Tracing, dan Treatment) tetapi vaksin juga harus di lakukan.


Photo Credit : Ilustrasi Pasien Terpapar Covid-19/Doc/ist


 

Atti K.

close