Mencintai Tanah Air Dengan Lagu “Song Of Deliverance” dari Tanah Air Project Band

Oleh : Atti K.

Telegraf – Mencintai tanah air banyak dengan berbagai cara, Grup band yang menyebutnya Tanah Air Project menuangkan cintanya terhadap tanah air Indonesia dengan sebuah lantunan lantunan lagu yang mereka perdengarkan.

Song Of Deliverance adalah salah satu lagu yang ia dedikasikan kepada negerinya. Sebuah karya single kreatif yang sarat akan makna ajakan terhadap prilaku masyarakat pada masa ini, dimana pesan positif untuk membangun tanah kita dan menjadi tuan rumah atas kekayaan lokal kita menjadi bagian penting dari pesan lagu ini.

“Ide ini pemikiran bersama temen temen, butuh dua tahun untuk membuat ini, berawal tahun 2017 membuat sebuah konten dengan berfikiran sederhana, melalui hal hal positif dan terinspirasi dari berdirinya “Candi Borobudur”, warisan dunia yang di akui UNESCO keberadaan nya, dan dibangun pada sekitar kurang lebih abad ke 7 – 9 Masehi, tepatnya pada era kerajaan samaratungga dari dinasti Syailendra,” ungkap Ezekiel Rangga penulis lirik sekaligus Keyboard & Sequencer dalam band tersebut, di Jakarta, Sabtu (4/9).

Dikesempatan yang sama Gerard Laisina (Gitar) mengungkapkan bahwa mengingatkan sejarah melalui musik, dan berharap dengan lahirnya lagu lagu dari tanah Airr Project bisa mengingatkan kepada masyarakat sejarah Indonesia.

“Melalui musik kita bisa belajar sejarah.Karena kalau kita belajar kadang suka malas apalagi itu tentang sejarah. Tapi dengan sejarah kita coba presentasikan lewat musik, kita berharap bisa memberikan pengetahuan bagi para pendengar lagu kita tentang sejarah berdirinya nusantara ini selain ada unsur hiburannya,” kata Gerard.

Tanah Air Project beranggotakan : Vialinda (Vokal), Gerard Laisina (Gitar), Daniel Mantiri (Gitar), Ezekiel Rangga (Keyboard & Sequencer) dan Ardika Prayudha (Drum) dengan melahirkan karya sesuai dengan ideologi bermusik mereka yang mengacu pada cerita nusantara dan semangat kebangsaan.

Singgle yang melibatkan mantan bassist dari band legendaris rock Indonesia, Edane, yaitu Daeng Oktav. Bassist yang baru saja hengkang dari Edane tersebut mengisi seluruh part bass dari lagu ini, menjadikan warna lagu menjadi unik dan gahar. Selain itu point yang menarik dari single ini adalah video klip yang diproduksi dengan animasi yang sangat modern dan dinamis tanpa meninggalkan identitas genre music modern rock ala Tanah Air Project.

Penggabungan teknologi visual yg menarik, pembangunan asset – asset lingkungan dalam bentukan animasi, menjadikan cerita dan pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih mudah dicerna, yaitu bagaimana kemudian Borobudur menjadi tempat pencerahan bagi manusia dan berdirinya sebuah pusat peradaban.

Dalam Video clipnya juga berkolaborasi dengan elemen tradisional garapan Avadana Dance Studio, sekelompok seniman muda berbakat dari sanggar tari dan musik tradisional di daerah Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, semakin memperjelas ideologi bermusik Tanah Air Project.

Tanah Air Project berharap melalui musik ini menjadi inspirasi yang baik bagi bangsa Indonesia.

Lainnya Dari Telegraf


 

Copyright © 2024 Telegraf. KBI Media. All Rights Reserved. Telegraf may receive compensation for some links to products and services on this website. Offers may be subject to change without notice. 

Telenetwork

Kawat Berita Indonesia

close