Mempertahankan Sanggar Barongsai Sejak Era Reformasi sampai Sekarang

Mempertahankan Sanggar Barongsai Sejak Era Reformasi sampai Sekarang

Mempertahankan Sanggar Barongsai Sejak Era Reformasi sampai Sekarang


Telegraf, Jakarta – Memasuki jalan kecil pas bersebrangan dengan RPTRA Kalijodo, Pejagalan Jakarta Utara, tepatnya di lantai III Gedung Sekolah Buddhis Tridharma Budhi Daya, Eddy Lie (68) terlihat sibuk menyelesaikan Barongsai. Eddy adalah pengrajin dan pemain Liong dan Barongsai. Ia mendirikan Sanggar Shantung Wushu sejak 1999, dan masih aktif tampil di berbagai event terutama di Jakarta. Ia baru beberapa bulan menempati beberapa ruangan di lantai III untuk bengkel kerja pembuatan Barongsai dan berbagai pernak-perniknya.

Eddy mengaku proses pembuatan Barongsai tidak ada high season atau low season. Kendatipun jelang Imlek, Cap Go Meh, Barongsai buatan Eddy sudah siap digunakan. “Sebelum pindah kesini (gedung sekolah Tridharma Budhi Daya), saya kerja di sebuah kontrakan di daerah Pademangan (Jakarta Utara). Tapi kontrakan habis, kebetulan ada yang menawarkan tempat disini, saya pindah,” Eddy mengatakan kepada Telegraf.

Barongsai memang lebih pas dimainkan pada suasana Imlek, Cap Go Meh. Tetapi ada beberapa acara misalkan peresmian pabrik, acara kesenian, gala dinner bahkan seminar, Barongsai diundang untuk tampil. “Tidak harus suasana Imlek. Bahkan saya pernah tampil pada pertunjukan Tatung (atraksi menusuk-nusuk anggota tubuh dengan benda tajam, semacam debus). Tapi kekhasan Imlek dan Barongsai terlihat dari warna merah, kuning. Angpao khas Imlek, beludru Barongsai juga dominan warna merahnya,” kata Eddy yang juga aktif pada Persatuan Liong dan Barongsai Seluruh Indonesia (PLBSI).

Ia mengaku, kebangkitan kembali Barongsai pada pertengahan tahun 1999. Barongsai sempat dilarang untuk tampil semasa pemerintahan Orde Baru (1966 – 1998). Seiring dengan frekuensi penampilan, beberapa pengrajin di berbagai daerah terutama Semarang (Jawa Tengah), Bogor (Jawa Barat) juga terdorong membuat Barongsai. “Kalau di Jakarta, setahu saya, hanya sanggar Shantung Wushu yang bisa menyediakan Barongsai, termasuk service (perbaikan). Saya kenal beberapa pengrajin di Semarang. Karena masa kecil saya dihabiskan di Semarang. Sebagian besar (pengrajin) juga se-umur saja. Anak-anaknya tidak terlalu antusias untuk meneruskan hobi para orang tuanya.”

Hal yang menarik dari pengalaman membuat Barongsai, Eddy mengaku belajar otodidak. Ia hanya yakin, bahwa kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dengan semangat, optimis. “Saya tidak mengenal istilah ‘tidak bisa’ setiap kali bekerja. Prinsip ini yang diajarkan guru saya sejak di bangku sekolah. Saya juga bisa bikin (boneka) Sun Go Kong, Dewa Uang.” Baginya, pembuatan Barongsai tidak lepas dari kreativitas dan ketekunan. “Tingkat kesulitannya hampir tidak ada. Bahan-bahan juga sederhana, terutama kertas singkong, bamboo, lem, kawat, beludru. Biaya tidak terlalu mahal, asal kita bisa kreatif. Ada beberapa limbah plastic seperti botol minuman yang bisa dimanfaatkan untuk elemen-elemen tertentu Barongsai. Misalkan mata Barongsai yang berukuran besar dibuat dari bekas botol plastic.”

Baca Juga :   Zipmex Umumkan Investornya Setelah Mendapat Pendanaan 41 Juta Dolar AS

Eddy biasanya mencari kertas singkong, beludru di Pasar Pagi Jakarta Kota. Sikap telaten diuji, terutama ketika sedang pada tahap pekerjaan finishing. Karena beberapa sambungan bamboo dilem dengan kertas singkong. Sementara simpul tertentu pada rangka Barongsai, terutama untuk penguatan harus dengan kawat. “Saya pakai lem basah. Kawat diikat pada simpul rangka kepala Barongsai. Karena simpul tersebut harus kuat, supaya nggak rusak waktu dimainkan.”

Kilas balik aktivitas Barongsainya, yakni ketika bergulirnya gerakan reformasi pada 1998 yang lalu. Kehidupan politik, social budaya dan ekonomi etnis Tionghoa juga tidak lepas dari perguliran era reformasi. Pertengahan 1999, sanggar Shandung Wushu pertama kali diundang tampil di Hailai International Executive Club di bilangan Ancol Jakarta Utara. Pada waktu itu, Eddy baru ditemani beberapa pemain saja. Rasa waswas untuk main Barongsai masih muncul, karena pengaruh pengekangan berbagai bentuk budaya Tionghoa selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru. “Saya diminta tampil di Hailai selama lima hari berturut-turut. Pak Andreas (manager Hailai) sempat bayar Rp 1,5 juta per tampil. Sejak itu pula, dana terkumpul untuk membesarkan sanggar kami. Pemain muda juga sudah mulai minat gabung latihan di sanggar. Pada waktu itu, kami belum punya tambur. Kondisi barongsainya juga tidak se-bagus seperti sekarang ini.”

Selain tampil di Hailai, pengalaman yang lebih berkesan yakni tampil pada pawai PDI-P (pimpinan mantan presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri). Suasana perpolitikan pada saat itu sedang eforia. Panitia pawai PDI-P sengaja mengundang pemain Barongsai. “Hanya ada 20 orang pemain yang ikut pawai. Itupun, kami ajak (pemain) dari anak-anak (atlit) wushu.”
Setelah itu, tawaran tampil terus bergulir. Panitia Pekan Raya Jakarta (PRJ) Fair pada tahun 1999 juga mengundang Sanggar Shandung. Selama tahun 2002, Barongsai masih diundang. Tetapi setelah itu, panitia PRJ tidak lagi mengundang. “Bayarannya (PRJ) juga sama dengan yang saya dapat dari Hailai. Tapi sekarang, setiap kali tampil rata-rata (pembayaran) Rp 3 juta. Lama tampil sekitar satu jam. Tapi kami juga tidak perhitungan. Yang penting, tamu dan penonton senang dan terhibur dengan atraksi Barongsai kami.” (S.Liu)

Foto : Yuan Adriles/Telegraf


Atti K.

close