Kurangnya Kebermanfaatan dan Praktik Baik Merdeka Belajar dalam Pondok Pesantren Salafiyah

Oleh : Musa'adah Wiwit

Telegraf – Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu, setiap warga negara harus memiliki akses yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah melalui program merdeka belajar.

Namun, masih banyak masalah yang dihadapi dalam implementasi program merdeka belajar di Indonesia. Salah satu masalahnya adalah minimnya kesadaran lingkungan perguruan tinggi di pondok pesantren yang berbasis salafiyah tentang pentingnya merdeka belajar bagi santri. Sehingga, masih banyak pondok pesantren yang belum memanfaatkan program ini dengan optimal. Selain itu, masih banyak pihak yang terkendala dengan peralatan dan infrastruktur yang memadai untuk mendukung program merdeka belajar.

Santriwati asal Ogan Komering Ulu Timur, sebut saja Fifa. Kurang lebih sepuluh tahun ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Sumatra Selatan. Ia adalah gadis dengan tekad kuat yang terus haus akan ilmu. Meskipun dengan keluarga sederhana ia berusaha untuk terus melanjutkan perjalanan pendidikanya dengan menempuh Perguruan Tinggi di Pondoknya.

Saat diwawancarai ternyata Fifa adalah perempuan lantang yang terus menerus ingin mendobrak pintu konservatif pondok pesantren salafiyah di tempatnya. Beberapa kali Fifa yang notabenenya juga pengurus putri pada pondok tersebut meminta keringanan agar mahasiswa yang berkuliah untuk bisa terus mengakses perangkat perkuliahan dengan leluasa, diberikan fasilitas satu ruangan dan kamar khusus untuk mengerjakan tugas perkuliahan namun tawaran tersebut terus ditolak oleh pihak Pesantren.

Cerita lain dari Fifa yang lebih mengenaskan saat ia harus menjalankan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN), mereka (ada 7 santriwati yang menjadi mahasiswa di angkatan tersebut, 3 diataranya sekelompok dengan Fifa) tidak boleh membawa smartphone, jangankan membawa menyentuh saja akan terkena takzir. Parahnya mahasiswa disana hanya boleh melakukan perkuliahan hibrida dan lebih banyak daring (menggunakan laptop), pergi ke kampus saat ada pertemuan besar saja. Mereka benar-benar tertinggal informasi dari awal. Hingga di saat pertemuan kelompok saat KKN ia berteriak keras dengan mencari-cari teman sekelompoknya.

Fifa juga ingin melanjutkan perjuangannya menempuh S2 diluar dari Sumatera, ia ingin menambah wawasan seperti teman-temannya yang lain yang bisa merdeka belajar tanpa terhalang apapun. Namun orang-orang disekitarnya menghambat pemikirannya dengan menyatakan bahwa ia hanyalah perempuan yang tidak perlu berpendidikan tinggi.

Baca Juga :   Silahturahmi Idul Fitri: Kolaborasi Antara Lembaga Perbankan dan BNSP di Jakarta

Salah satu penyebab minimnya kesadaran pihak pondok pesantren tentang pentingnya merdeka belajar adalah kurangnya sosialisasi dari pemerintah dan lembaga-lembaga terkait. Selain itu, minimnya perhatian dan dukungan dari pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dan peralatan yang memadai untuk mendukung program ini juga menjadi faktor penyebab.

Seperti Fifa yang sebenarnya sadar akan hal tersebut namun karena tidak ada menguatkan argumentasiya selalu ditolak dengan dalih dunia luar dan kemewahan tidak bisa masuk dalam ruang lingkup pondok pesantren salafiyah.

Akibat dari minimnya kesadaran pihak pondok pesantren dan minimnya dukungan pemerintah, program merdeka belajar tidak terlaksana dengan optimal. Hal ini menyebabkan kurangnya akses dan keterbatasan dalam memperoleh pendidikan dan informasi bagi sebagian besar pondok pesantren yang berbasis salafi di Indonesia. Selain itu, ketidakmampuan dalam mengakses informasi dan pendidikan yang berkualitas juga berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Fifa menjadi salah satu bukti akibat dari kesadaran lingkungan pondok pesantren tersebut. Perkembangan, wawasan, ilmu pengetahuan yang seharusnya ia dapatkan karena kegigihannya lenyap karena tidak ada dukungan lingkungan yang ia tempati.

Untuk mengatasi masalah ini, perlu adanya upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak Pondok Pesantren secara bersama-sama. Pemerintah dapat meningkatkan sosialisasi dan promosi mengenai program merdeka belajar agar pihak pondok pesantren dapat memanfaatkannya dengan optimal. Selain itu, pemerintah juga harus memberikan dukungan infrastruktur dan peralatan yang memadai untuk mendukung program ini.

Sementara itu, pihak pondok pesantren harus meningkatkan kesadaran dan memanfaatkan program ini dengan optimal untuk mendapatkan akses yang lebih baik terhadap pendidikan dan informasi. Dengan cara ini, diharapkan program merdeka belajar dapat berjalan dengan baik dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di pondok pesantren yang berbasis salafiyah.

Lainnya Dari Telegraf


 

Copyright © 2024 Telegraf. KBI Media. All Rights Reserved. Telegraf may receive compensation for some links to products and services on this website. Offers may be subject to change without notice. 

Telenetwork

Kawat Berita Indonesia

close