Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Kongkow Bareng Anak Muda Madiun, Ganjar Dengarkan Kisah Mantan Preman Yang Jadi Pendeta
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Humaniora

Kongkow Bareng Anak Muda Madiun, Ganjar Dengarkan Kisah Mantan Preman Yang Jadi Pendeta

Indra Christianto Kamis, 18 Januari 2024 | 19:58 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Kongkow bareng anak muda Madiun, Ganjar bertemu Rudi Elkel Kei anak muda yang menjadi pendeta. FILE/Telegraf
Bagikan

Telegraf – Nongkrong dengan anak muda menjadi rutinitas Ganjar Pranowo setiap berkeliling ke berbagai daerah. Tak melulu memberi motivasi, Ganjar juga kerap mendapat kisah dari anak muda yang penuh inspirasi.

Seperti saat kongkow bareng anak muda Madiun di Kafe Kopi Kakak, Kamis (18/01/2024). Di sana Ganjar bertemu dengan anak muda yang menjadi pendeta. Namanya Rudi Elkel Kei.

Namun siapa sangka, pendeta Rudi dulu adalah orang yang hidup dalam lembah hitam. Memilih jadi anak punk yang hidup di jalan, Rudi mengatakan jika berkelahi, mencuri, merampok dan mabuk-mabukan hingga konsumsi obat terlarang adalah kebiasaan sehari-hari.

“Dulu itu saya nakal pak, tiap hari mabuk, berkelahi. Karena nggak punya uang, ya mencuri, merampok buat beli minuman dan obat-obatan terlarang. Saya bahkan pernah mencuri uang di gereja buat beli minuman keras,” cerita Rudi pada Ganjar.

Bertahun-tahun ia hidup di dunia hitam. Hingga saat pulang ke Papua, Rudi mendapatkan hidayah. Tanpa sebab, ia menangis saat masuk ke gereja. Dan tiba-tiba, seorang pendeta menghampirinya dan mengatakan bahwa ia akan dipakai Tuhan.

“Saya heran, kenapa saya bisa menangis saat masuk gereja itu, dan pak pendeta bilang saya mau dipakai Tuhan, kok bisa orang sejahat saya mau dipakai Tuhan untuk apa?” ceritanya.

Dan mulai saat itu, ia memutuskan bertobat. Ia memutuskan menjadi pendeta dan mengajak teman-temannya sesama anak jalanan untuk kembali ke jalan yang benar.

“Sejak saat itu saya mengajak teman-teman yang dulu nakal agar tobat. Saya membina mereka dan saya membangun rumah singgah,” jelasnya.

Cerita Rudi itu membuat Ganjar terpana. Ia mengacungi jempol dan mengajak ratusan anak muda yang hadir ke tempat itu untuk tepuk tangan.

“Kamu hebat lho, kisahmu sangat menginspirasi. Meski pernah salah, tapi segera sadar dan sekarang mengabdikan diri untuk masyarakat,” ucap Ganjar.

Selain kisah Rudi, ada juga kisah Pipit, anak muda lain yang juga penyandang disabilitas. Meski memiliki kebutuhan khusus, namun Pipit tetap berjuang untuk mandiri. Bersama teman-teman komunitas difabel, Pipit membuat program UMKM. Ia berjualan sambel pecel, puding hingga telur asin.

“Kami tidak mau menyerah dengan kehidupan dan terus berusaha mandiri. Kami buat sambel pecel, puding dan telur asin untuk dijual. Sekarang penjualan lumayan dan omset saya Rp2 juta sampai Rp2,5 juta perbulan,” ucapnya.

Ganjar pun kembali dibuat tersenyum bangga. Pertemuan dengan anak muda Madiun ini, membuatnya mendapat banyak ilmu.

“Ini keren-keren, kisah mas Rudi dan mbak Pipit sangat menginspirasi kita semua. Anak muda harus seperti ini, tidak boleh menyerah dengan kondisi apapun. Harus berjuang mengejar mimpi. Tugas pemerintah adalah mendampingi dan memfasilitasi,” ucap Ganjar.

Sejumlah program khusus anak muda memang menjadi prioritas Ganjar. Program internet super cepat, gratis dan merata, pembangunan creative hub di seluruh Indonesia serta program pendampingan anak muda lain akan digalakkan.

“Termasuk kita harus siapkan SDM nya, yang miskin kita jamin pendidikannya sampai sarjana. Ada program SMK Gratis lulus langsung kerja untuk keluarga miskin dan juga satu keluarga miskin satu sarjana. Kita yakin, pembangunan SDM adalah kunci bagi negara maju,” pungkasnya.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

PGN Bentuk Satgas RAFI 2026, Amankan Pasokan Gas Selama Ramadhan dan Idul Fitri
Waktu Baca 3 Menit
Lonjakan Aktivitas Migas Picu Tantangan Baru bagi Industri Asuransi Energi
Waktu Baca 5 Menit
Budi Rahardjo
Presiden Prabowo Mendengar, Indonesia Melangkah: Bebas Aktif di Tengah Pusaran Dunia
Waktu Baca 5 Menit
OJK: Ekonomi Februari 2026 Tumbuh Solid, Waspadai Tekanan Geopolitik dan Volatilitas Pasar
Waktu Baca 4 Menit
Pemerintah Gelontorkan Rp55 Triliun untuk THR ASN 2026, Swasta Wajib Bayar Penuh H-7 Lebaran
Waktu Baca 4 Menit

Strategi OJK Kelola Risiko Iklim: Perkuat Pengawasan, Wajibkan CRMS, dan Bentuk Kemitraan Internasional

Waktu Baca 4 Menit

Pernyataan Lama Ketua DPD Kembali Viral, Densus Digital Soroti “Politik Daur Ulang”

Waktu Baca 3 Menit

LPS Bayar 88 Persen Rekening Nasabah BPR Prima Master Bank, Proses Klaim Dilanjutkan Bertahap

Waktu Baca 2 Menit

BSN Ekspansi ke Ekosistem Muhammadiyah, Dongkrak Pangsa Pasar Perbankan Syariah

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Humaniora

Tradisi Warga Indonesia Dalam Merayakan Malam Tahun Baru di New York

Waktu Baca 6 Menit
Humaniora

Jejak Soeharto The Godfather of Orde Baru, Dari Militer, Kudeta Hingga Dilengserkan

Waktu Baca 12 Menit
Heroes and the Meaning of Sacrifice
Humaniora

Bangkitlah Dengan Nurani, Setiap Zaman Butuh Pahlawan Baru

Waktu Baca 2 Menit
Humaniora

Rumuskan Solusi Stunting dan Anemia, Ilmuwan Mesir dan Turki Berkumpul di UNU Yogyakarta

Waktu Baca 6 Menit
Humaniora

Merayakan Inisiatif Perdamaian Global, UNU Jogja – Indika Foundation Gelar “2R: Ruang Riung

Waktu Baca 6 Menit
Humaniora

Mayoritas Penyandang Disabilitas Tak Kuliah dan Tak Bekerja

Waktu Baca 5 Menit
Humaniora

Trah Sultan HB II Desak Pembentukan Komite Pengembalian Aset Kraton Yogyakarta

Waktu Baca 3 Menit
Peta fungsi lahan daerah Tamambaloh (data dari Sangga Bumi Lestari)
Humaniora

Masyarakat Tamambaloh Menolak Sawit: Ancaman di Hulu Sungai Embaloh Makin Nyata

Waktu Baca 6 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?