Gelapkan Produk Tambang Perusahaan Buronan Ini Akhirnya Serahkan Diri

“Anton divonis 1 tahun kurungan penjara oleh Mahkamah Agung karena terbukti menggelapkan biji bauksit milik perusahaan PT. Gandasari Resources selama bertahun-tahun. Diketahui, ia kabur ke Cina dan kemudian Malaysia,”

Gelapkan Produk Tambang Perusahaan Buronan Ini Akhirnya Serahkan Diri

Telegraf, Batam – Setelah kabur selama sembilan bulan dari kejaran aparat, Yon Fredy alias Anton akhirnya menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Batam, Kepulauan Riau, Jumat (04/05/18).

Salah satu kawanan sindikat penggelapan biji bauksit ini sempat melarikan diri ke Cina setelah divonis Mahkamah Agung (MA) satu tahun penjara. Anton dilaporkan ke pihak berwajib dan divonis MA karena telah menggelapkan biji bauksit milik perusahaan PT. Gandasari Resources.

Penyerahan diri Anton ke Kejaksaan Negeri Batam sempat disaksikan Donald Pangaribuan selaku pengacara dari pihak PT. Gandasari Resources.

“Anton divonis 1 tahun kurungan penjara oleh Mahkamah Agung karena terbukti menggelapkan biji bauksit milik perusahaan PT. Gandasari Resources selama bertahun-tahun. Diketahui, ia kabur ke Cina dan kemudian Malaysia,” ujar Donald Pangaribuan dalam keterangannya, Minggu (06/05/18).

Direktur Utama PT Lobindo Nusa Persada itu tercatat sebagai buronan Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau (Kepri). Ia kabur ke luar negeri ketika akan dieksekusi aparat hukum.

Anton sendiri dikenal sebagai pribadi yang sering berurusan dengan masalah hukum dan pihak berwajib.

Sebelumnya, Hendrisin selaku direktur juga telah ditangkap Satreskrim Polres Tanjungpinang pada Jumat (9/2/2018) setelah ditetapkan sebagai tersangka pengembangan tindak pidana pencaplokan tambang milik perusahaan lain di Tanjung Moco, Dompak, Tanjungpinang.

Terakhir, Wiharto alias Lie Hwa selaku komisaris perusahaan yang sama, ditahan polisi pada Kamis (19/4/2018) sekira pukul 19.30 WIB. Ia ditangkap di sebuah kedai kopi bernama Morning Bakery di sebuah sudut kota Tanjungpinang.

Kini, 3 kawanan sindikat PT Lobindo Nusa Persada pada kasus pencaplokan tambang milik perusahaan lain yang telah diputuskan bersalah oleh Mahkamah Agung RI sama-sama meringkuk di hotel prodeo alias penjara.

Tim gabungan dipimpin Direskrimum Polda Kepri, Kombes Arif dan Kasipidum Kajari Tanjungpinang, Supardi SH sempat mendatangi rumah Anton. Namun yang bersangkutan tidak ada di tempat.

Baca Juga  Koperasi Madani, Menghidupkan Mayat Hidup

Tim yang menggeledah rumah Anton di Batam hanya bertemu dengan Christine, istrinya (45 tahun).

Informasi dari Supardi SH, jaksa selaku pelaksana eksekusi yang memimpin atas putusan Mahkamah Agung RI telah menggeledah 3 rumah di kota Batam. Penggeledahan dilakukan selama 2 hari Jumat – Sabtu (8-9/12). ”Tapi kami belum menemukan terpidana Yon Fredy,” kata Kasi Pidum.

Anton di vonis selama 1 tahun penjara karena terbukti melakukan penggelapan aset bauksit hasil tambang milik PT Gandasari. Karena tidak memenuhi surat panggilan eksekusi Kejari Tanjungpinang, Provinsi Kepri, Anton kemudian dinyatakan sebagai buron alias DPO (Daftar Pencarian Orang).

Setelah terbitnya DPO ini, pihak Kejaksaan langsung bergerak dengan meminta bantuan kepolisian untuk menangkap Anton yang terbukti dan dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung dalam kasus penggelapan. (Red)


Ilustrasi : File/Dok/Ist. Photo

 

Share