Garap Pemilih Jawa, Ahok-Djarot Kembali Gelar Wayang Kulit

Setelah tiga kali sukses menggelar kesenian yang paling digemari warga Jawa, Ahok Djarot kembali menggelar Wayang Kulit semalam suntuk dengan lakon "Gatotkoco Winisudo" pada Sabtu Malam 21 Januari 2017.

Garap Pemilih Jawa, Ahok-Djarot Kembali Gelar Wayang Kulit


Jakarta, Telegraf,- Para relawan pendukungan pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat kian serius menggarap warga Jakarta asal Jawa. Berdasarkan statistik, warga Jawa yang tinggal di ibukota jumlahnya memang mayoritas dibandingkan suku lain. Kedekatan pemilih Jawa inilah yang kini tengah digarap tim Ahok-Djarot.

Untuk menarik simpatik mereka, pasangan calon ini menggelar Wayang Kulit di sejumlah lokasi di Jakarta. Setelah tiga kali sukses menggelar kesenian yang paling digemari warga Jawa, Ahok Djarot kembali menggelar Wayang Kulit semalam suntuk dengan lakon “Gatotkoco Winisudo” pada Sabtu Malam 21 Januari 2017.

Acara yang akan digelar di Lapangan Arcici, Rawasari, Jakarta Pusat tersebut akan menghadirkan dalang kondang Ki Warseno Slank.

Rencananya acara wayang kulit itu selain akan dihadiri Djarot Saiful Hidayat juga akan dihadiri Basuki Tjahaja Purnama.

Cara kampanye dengan menampilkan budaya wayang kulit ini dinilai cukup efektif. Karena dalam tiga kali pagelaran wayang kulit yang dilakukan para relawan Ahok-Djarot selalu dibanjiri warga Jawa yang kangen dengan budaya wayang kulit. Tim pendukung Ahok-Djarot sebelumnya menggelar Wayang Kulit di lapangan Blok S, Kebayoran Baru Jakarta Selatan dan dipadati pengunjung.

Selama ini Cawagub Djarot Saiful Hidayat memang dikenal sebagai sosok pecinta dan pelestari budaya Wayang Kulit. Djarot mengakui penyebaran agama Islam di Indonesia dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya lewat budaya, seperti wayang kulit.

“Pada masyarakat Jawa, wayang itu digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam,” tutur mantan Walikota Blitar yang dikenal kalem ini.

Djarot menuturkan, lakon-lakon wayang itu berasal dari peninggalan Hindu. Namun, para wali songo memanfaatkan lakon tersebut untuk menyebarkan agama Islam di Jawa.

“Itu kan peninggalan Hindu, tapi melalui budaya, para wali itu memanfaatkan wayang untuk menyadarkan dan mengajak pada saat itu warga Jawa yang beragama Hindu, Budha, masuk Islam,” kata dia.

Menurut Djarot, dalam cerita pewayangan, ada istilah-istilah yang identik dengan agama Islam, seperti jimat kalimosodo dan ponconoko.

“Jimat kalimosodo untuk melawan keangkaramurkaan, jimat kalimosodo itu kan identik mengucapkan dua kalimat syahadat untuk masuk Islam,” ucap Djarot.

Sementara ponconoko, lanjut dia, menandakan bahwa rukun Islam ada lima dan shalat wajib juga ada lima waktu.

“Jadi sebetulnya wayang itu adalah media tontonan sekaligus tuntunan dakwah,” tutur Djarot.

Islam yang masuk melalui berbagai cara, lanjut Djarot, menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kedamaian. Islam juga penuh rahmat.


Edo W.

close