Embargo US dan UE terhadap Rusia, Terjadi Inflasi dan Stagnasi Permintaan Minyak

Tanggal:


Telegraf – Ketika Rusia disanksi embargo oleh beberapa negara yakni United State of America (USA) maupun beberapa negara terafiliasi oleh Uni Eropa (UE), terjadi stagnasi permintaan minyak sejak Rabu (20/4/2022). Hal tersebut menjadi kekhawatiran lebih luas bagi beberapa negara yang menjalin hubungan diplomasi minyak dengan Rusia.

Hingga saat ini, berdasarkan laporan dari Media Internasional, Reuters, Minyak mentah berjangka Brent turun 45 sen, atau 0,4%, menjadi menetap di $106,80 per barel. Kontrak berjangka minyak mentah WTI bulan depan. Sejak per 20 April 2022, harga minyak naik 19 sen menjadi menetap di $102,75.

Sejak embargo US dan UE terhadap Rusia, harga minyak didukung oleh prospek pasokan dengan pengawasan yang lebih ketat. Diketahui, berdasarkan laporan dari Reuters, bahwa Rusia merupakan negara dengan pengekspor minyak terbesar kedua di dunia. Kendati demikian, bahwa Rusia juga menjadi negara pemasok negara UE.

“Dengan perang Ukraina yang meningkat, kemungkinan durasi konflik yang diperpanjang meningkat dan potensi hilangnya pasokan Rusia ke pasar meningkat,” Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.
Berdasarkan laporan yang diterima oleh Reuters, menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS turun 8 juta barel pada pekan lalu karena karena lonjakan ekspor ke level tertinggi lebih dari dua tahun, data Administrasi Informasi Energi menunjukkan.

Namun, kedua tolok ukur turun sekitar 5% pada hari Selasa, (19/4/2022), setelah Dana Moneter Internasional memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya, hampir satu poin persentase penuh, mengutip dampak ekonomi dari perang Rusia di Ukraina. Serta memperingatkan bahwa inflasi telah menjadi “bahaya yang jelas dan sekarang” bagi beberapa negara.

“Melemahnya pertumbuhan dan meningkatnya tekanan inflasi hanya bisa berarti satu hal: momok stagflasi menggantung di atas ekonomi global,” kata analis P.M Stephen Greenock.

Ditambah, dengan isu penyebaran virus corona di China, juga telah merusak permintaan importir negara minyak mentah utama dunia, sehingga dapat membebani harga minyak tersebut. Oleh karena itu, saat ini Komisi Erpoa sedang bekerja untuk mempercepat ketersediaan pasokan energi alternatif, dalam rangka untuk mencoba memotong biaya pelarangan minyak Rusia dan membujuk Jerman dan negara-negara Uni Eropa lainnya yang enggan untuk menerima tindakan tersebut, sebuah sumber Uni Eropa mengatakan kepada Reuters.

Sementara itu, berbagai pemadaman menambah kekhawatiran tentang pasokan. Anggota OPEC Libya telah dipaksa untuk menutup produksi 550.000 barel per hari karena gelombang blokade di ladang minyak utama dan terminal ekspor, kata National Oil Corporation (NOC) negara itu.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC+, memproduksi 1,45 juta barel per hari di bawah target produksinya pada Maret 2022, karena produksi Rusia mulai menurun setelah sanksi yang diberlakukan oleh Barat, sebuah laporan dari aliansi produsen menunjukkan.


Photo Credit: Seorang karyawan memegang sampel minyak mentah di ladang minyak Yarakta, milik Irkutsk Oil Co, di wilayah Irkutsk, Rusia pada 11 Maret 2019. REUTERS/Vasily Fedosenko.


 

Aji Cahyono

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya
Telegraf

Kemampuan Digital Harus Beradaptasi Dengan Pemanfaatannya

Telegraf - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Dewan...

Jokowi dan Ganjar Pranowo Takziah ke Kediaman Buya Syafii

Telegraf - Kabar duka menyelimuti tanah air. Cendekiawan muslim...

Sosok Panutan Itu Telah Pergi, Buya Syafii Wafat Hari Ini

Telegraf - Umat Islam bahkan bangsa Indonesia kehilangan sosok...

PLN Buka Program Tambah Daya, Bisa Lewat Aplikasi

Telegraf - PT PLN (Persero) mengajak masyarakat memanfaatkan program...