Calon Tunggal Pilkada Mamasa Hanya Membungkam Demokrasi, Rakyat Harus Melawan

"Pada kenyataannya, partai politik sering mengabaikan ideologi dan platform partai sehingga sikap partai politik yang dominan adalah transaksional dan pragmatis dalam memilih calon kepala daerah. Pragmatisme partai pada akhirnya menutup peluang munculnya calon alternatif yang memiliki integritas yang baik, kejujuran dan dicintai rakyat,"

Calon Tunggal Pilkada Mamasa Hanya Membungkam Demokrasi, Rakyat Harus Melawan

Telegraf, Jakarta – Tokoh pemuda Mamasa Urbanisasi mengajak masyarakat Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat menolak calon tunggal Bupati daerah tersebut. Pilkada yang hanya diikuti calon tunggal akan memunculkan kekuasaan tanpa kontrol dan membungkam kehidupan demokrasi di daerah yang kaya akan sumber daya alam ini.

Untuk itu Urbanisasi bersama sembilan tokoh Kabupaten Mamasa berjuang menggalang warga Mamasa untuk kompak dan sadar memilih kotak kosong daripada memilih calon tunggal namun lima tahun ke depan akan merugi.

“Ayo rakyat Mamasa tunjukkan bahwa kita tidak mudah dikalahkan oleh politik uang, jangan sampai demokrasi dibungkam oleh kekuasaan, caranya kita pilih kotak kosong agar dalam pemilihan berikutnya ada demokrasi dan kesempatan bagi calon lain untuk bertanding secara sehat,” ujar putra daerah asli asal Kampung Mamasa yang kini tinggal di Jakarta ini, Senin (05/02/2018)

Pemilihan Kepala Daerah di Mamasa 2018 yang hanya diikuti satu calon dikhawatirkan Urbanisasi hanya akan memunculkan seorang kepala daerah yang tidak demokratis dan membuat keadilan distributif.

“Akibatnya rakyat Mamasa tidak punya pilihan. Ini sangat merusak proses demokratisasi di Mamasa, kemakmuran hanya dirasakan oleh segelintir kelompok tertentu dan tidak adil, yang ada hanya keadilan distributif bukan keadilan komulatif,” paparnya.

Urbanisasi yang merupakan salah satu anggota Tim Sembilan tokoh Mamasa yang menolak calon tunggal dan mendukung kotak kosong yang menang merasa ikut prihatin dengan kondisi pemilihan kepala daerah di kampung halamannya.

Sebagai tokoh yang sangat peduli dengan kemajuan pembangunan Kabupaten Mamasa, Urbanisasi merasa daerahnya akan maju jika terjadi perubahan. Urbanisasi merasa tidak punya kepentingan apapun dengan gerakannya menggalang rakyat Mamasa agar memilih kotak kosong.

“Saya tidak punya ambisi apapun, apalagi ambisi jabatan dengan perhelatan Pilkada di Mamasa, tapi saya ingin kampung halaman saya berubah dan maju, pak Bupati yang sekarang mencalonkan maju sebagai petahana saya juga kenal, tapi saya berharap ada perubahan di Mamasa,” ujarnya.

Munculnya calon tunggal di Pemilihan Bupati Mamasa 2018, menurut Urban menunjukan mundurnya demokrasi lokal. “Demokrasi Lokal sejatinya menyuguhkan banyaknya calon alternatif yang mampu bersaing dalam pertarungan pemilihan kepala daerah. Namun pada kenyataannya realitas politik daerah masih banyak Partai Politik yang terjebak mengusung calon tunggal,” papar Urban dengan nada prihatin.

Baca Juga :   Resmi Mundur Dari Pencalonan Ketum Golkar, Bamsoet Berikan Statemen Ini

Urbanisasi mensinyalir ada sejumlah penyebab yang melatarbelakangi munculnya calon tunggal dalam pilkada Mamasa.

“Pada kenyataannya, partai politik sering mengabaikan ideologi dan platform partai sehingga sikap partai politik yang dominan adalah transaksional dan pragmatis dalam memilih calon kepala daerah. Pragmatisme partai pada akhirnya menutup peluang munculnya calon alternatif yang memiliki integritas yang baik, kejujuran dan dicintai rakyat,” kata Urbanisasi yang juga dosen Universitas Tarumanegara ini.

Partai Politik menurut Urbanisasi lebih memilih calon yang memiliki kesiapan logistik kampanye meskipun terkadang harus mengindahkan faktor kapasitas dan integritas calon. “Yang penting calon memiliki banyak uang dan siap untuk mengucurkan sejumlah dana kampanye yang diminta Partai Politik, ini kan mematikan demokrasi,” ujar Doktor Hukum jebolan Universitas Hasanudin ini.

Semua itu lanjut Urbanisasi akibat biaya Pilkada yang tergolong mahal. “Adanya uang mahar atau uang perahu yang ditetapkan oleh partai politik yang dibebankan kepada calon kepala daerah sebagai syarat dukungan mendorong calon kepala daerah untuk berpikir dua kali untuk maju di pilkada, akibatnya muncul calon tunggal dan fenomena ini sama saja demokrasi telah mati,” katanya.

Rakyat yang pro perubahan, lanjut Urbanisasi harus berjuang untuk menolak praktek semacam ini. Karena hanya akan merugikan Mamasa untuk kesejahteraan rakyat ke depannya. Karena jika rakyat mendukung calon tunggal maka pemerintahan Mamasa kedepan hanya akan dikendalikan kekuasaan dan uang dan akan merugikan rakyat yang membutuhkan keadilan dan kesejahteraan.

“Makanya sebelum Mamasa lebih buruk lagi mulai sekarang bersiaplah untuk memilih kotak kosong agar Pilkada diulang kembali dan menampilkan dua sosok yang membuat rakyat punya pilihan alternatif,” kata pria asal Mamasa yang berprofesi sebagai pengacara sukses di Jakarta ini. (Red)


Photo Credit : Tokoh pemuda Mamasa Urbanisasi mengajak masyarakat Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat menolak calon tunggal Bupati daerah tersebut. Pilkada yang hanya diikuti calon tunggal akan memunculkan kekuasaan tanpa kontrol dan membungkam kehidupan demokrasi. Dok/Ist. Photo


 

Tanggapi Artikel