Telegraf – Tiga narasumber dengan latar berbeda memberikan perspektif komplementer dalam seminar “Budaya Digital”.
Narasumber pertama, Ruth Naomi Rumkabu, Anggota Komisi I DPR RI, menekankan bahwa budaya digital dan etika bermedia merupakan fondasi penting dalam kehidupan masyarakat modern.
Ruth menjelaskan bahwa budaya mencerminkan cara seseorang bersosialisasi, berperilaku, serta menghormati privasi orang lain. Karena itu, etika digital harus menjadi pedoman dalam setiap interaksi agar ruang digital tetap aman, sehat, dan saling menghargai.
Dari perspektif akademik, narasumber kedua, Syariful, Dosen Universitas Bina Insani (UNIBI), memaparkan materi “Budaya Digital dalam Perspektif Psikologi”.
Ia menjelaskan bahwa budaya digital berpengaruh kuat terhadap identitas diri, emosi, dan hubungan sosial. Fenomena seperti kebutuhan validasi, pencitraan diri, dan perbandingan sosial diperkuat oleh algoritma media sosial.
Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga rekam jejak digital, membangun toleransi lintas budaya, serta mewaspadai toxic culture seperti hate speech, perundungan, dan cancel culture. Menurutnya, regulasi emosi, empati digital, dan kontrol diri merupakan kunci menciptakan ruang digital yang sehat.
Narasumber ketiga, E. Rizky Wulandari, dosen STIKOSA AWS sekaligus Bendahara Relawan TIK Jakarta, memaparkan materi bertema “Budaya Digital Masyarakat Indonesia: Dari Scroll ke Control”.
Ia menjelaskan bahwa budaya digital dibentuk dari kebiasaan sehari-hari dalam bermedia. Banyak pengguna masih bersikap reaktif yaitu mudah terpancing emosi, cepat berkomentar, dan mudah membagikan informasi tanpa verifikasi.
Dia menekankan pentingnya toleransi, empati, kesopanan, serta kemampuan mengontrol emosi sebelum merespons. Melalui konsep “Dari Scroll ke Control”, ia mengajak masyarakat untuk bermedia secara lebih sadar, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kebaikan bersama.
Ketiga pemateri sepakat bahwa dunia digital memberikan peluang yang luas bagi masyarakat, namun tetap membutuhkan etika, literasi digital yang matang, serta pengendalian diri agar ruang digital dapat menjadi lingkungan yang produktif, aman, dan bermanfaat bagi semua.