Asosiasi Media Digital Indonesia Temui Mensos Idrus Marham, Apa Yang Dibahas?

"Media sosial adalah sebuah keniscayaan dan tidak dapat dipungkiri, oleh karena itu media sosial harus dimanfaatkan secara positif untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana negara hadir untuk mensejahterakan rakyat."

Asosiasi Media Digital Indonesia Temui Mensos Idrus Marham, Apa Yang Dibahas?


Telegraf, Jakarta – Menteri Sosial Idrus Marham menyambut positif sinergitas dan upaya praktisi media sosial, youtuber, penulis dan media yang tergabung dalam Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) untuk memerangi berita hoax dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana kemajuan pembangunan yang dicapai pemerintah saat ini.

Hal ini disampaikan Mensos Idrus Marham saat menerima kunjungan dari pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) yang diketuai Budi Rahardjo di ruang Rapat Utama Kantor Kementrian Sosial di Jakarta.

Hadir jajaran pengurus pusat AMDI diantaranya Anggota Dewan Pembina Ahmed Kurnia Soeriawidjaja, Ismail Cawidu, Sekjen AMDI Edi Winarto, Bendahara Asri Hadi, Ketua Divisi Pelatihan Digital AMDI Koeshondo W. Widjojo, dan Tim IT AMDI Andi. Dari jajaran Kemensos hadir jajaran Staf Khusus dan Dirjen di Kemensos.

“Media sosial adalah sebuah keniscayaan dan tidak dapat dipungkiri, oleh karena itu media sosial harus dimanfaatkan secara positif untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana negara hadir untuk mensejahterakan rakyat,” ujar mantan Sekjen Partai Golkar ini dalam arahannya.

Idrus mengakui belakangan ini media sosial terkadang disalahgunakan untuk menyebarkan isu yang tujuannya membangun opini negatif tentang kinerja pemerintahan saat ini. Namun mantan Ketua KNPI ini berharap media yang bergabung dalam AMDI ikut membantu pemerintah meluruskan informasi yang tidak berbasis data dan fakta tersebut.

“Kita pemerintah telah banyak bekerja untuk rakyat dalam upaya mensejahterakan mereka, namun terkadang berita yang viral muncul opini pemerintah tidak mensejahterakan masyarakat, ini yang harus diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman,” tuturnya.

Menurut Idrus, saat ini bangsa Indonesia perlu percepatan akselerasi. Peningkatan lompatan itu hanya bisa dijangkau dengan media sosial.

“Kementerian Sosial telah banyak melakukan action, namun media yang memberitakannya terlihat masih sedikit. Mari kita cari jalan keluarnya. Strategi yang bisa menghambat meluasnya berita hoax adalah melalui media sosial juga, ” kata Idrus kepada pengurus AMDI.

Sementara itu kepada Menteri Sosial Idrus Marham dan jajaran pejabat Kemensos, Ketua Umum AMDI Budi Rahardjo mengatakan, pemerintah melalui Kemensos harus bisa mendorong pengusaha digital atau socialpreneur untuk lebih responsif dalam ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau filantropis.

CEO Majalah Eksekutif dan owner Majalah Matra ini memberikan usulan kepada Kemensos untuk memberikan reward bagi pengusaha Socialpreneur berupa penghargaan atau award atas perjuangan mereka membantu masyarakat, baik dalam menghadapi bencana atau masyarakat miskin.

“Award ini bertujuan memberikan apresiasi kepada pengusaha dan mendorong mereka lebih giat lagi melakukan aksi-aksi sosial membantu sesama,” kata Budi Jojo, sapaan akrab Budi Rahardjo.

AMDI juga melakukan presentasi mengenai penggunaan sosial media di Kemensos yang perlu dioptimalkan lagi sebagai sarana publik untuk mengetahui program kerja kemanusiaan yang telah dilakukan Kemensos selama ini.

Menurut Ketua Umum AMDI Budi Rahardjo, sesungguhnya produksi Hoax yang banyak di tahun politik ini, hanya bisa “dilawan” dengan sosok-sosok atau siapapun yang memberi layanan, pemberdayaan dan literasi di dunia digital dengan baik.

“Kami menjalankan usaha tidak semata-mata mementingkan keuntungan pribadinya, namun juga memikirkan lingkungan sekitar dan komunitas. Agar bersama-sama dalam mencapai kesuksesan. Dengan kata lain, menjadi pengusaha atau pemimpin media digital, sekaligus menjadi sosok perubahan bagi lingkungan di sekitarnya,” ujar S.S Budi Rahardjo, CEO majalah Eksekutif yang juga Pemred Majalah MATRA.

Yang paling utama adalah, “Kami adalah sosok-sosok kreatif dan pandai mengolah ide, menjadi sebuah peluang yang dapat menguntungkan banyak orang.” Demikian Asri Hadi, Bendahara AMDI yang merupakan Pemred Indonews memaparkan.

Kuncinya di zaman now adalah bagaimana, kita dapat memanfaatkan kemampuan sosial, berinteraksi dalam komunitas, dan kemampuan-kemampuan dasar lainnya. “Kami juga kerap memberi pelatihan ke beberapa komunitas, agar bisa membedakan berita hoax dan bukan,” ujar Edi Winarto, Sekjen AMDI yang juga Pemred Editor.id

“Anggota AMDI, terdiri dari para owner serta pimpinan media massa, jurnalis yang kini menjadi pemimpin di medianya serta memiliki kompetensi secara profesi dan memahami kode etik jurnalistik, memang memiliki hati sebagai seorang socialpreneur,” ujar Koeshondo, pemilik Telegraf, Ketua Divisi Pelatihan Asosiasi Media Digital.

“Sosial media sedang booming, sebagai bagian kemajuan teknologi, ada FB, Instagram, Line dan sebagainya. Tetapi edukasi dan dampaknya tidak didapat oleh banyak netizen,” ujar Ahmed Kurnia, yang juga merupakan coach dari densus digital.

“Kecepatan behavior, teknologi, infrastruktur kita tak merata sampai ke daerah, menjadikan kami terpanggil untuk masuk dalam landscape digital,” ujar Andy, staf IT yang kerap melakukan pelatihan coding dan membuat website secara gratis ini.

AMDI juga mengusulkan kepada Kemensos untuk membuat layanan Social Quick Responsif Unit dalam memonitor masalah ketimpangan sosial di daerah agar segera bisa ditangani pemerintah secepatnya.

Layanan Social Quick Responsif Unit ini dibuat menggunakan basis aplikasi dan diterapkan melalui jaringan social media. Karena informasi melalui media sosial sangat cepat dan massif sehingga bisa dipantau kondisi sosial di daerah yang membutuhkan bantuan. (Red)


Photo Credit : Menteri Sosial Idrus Marham  bersama Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) sepakat untuk memerangi berita hoax dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pemberitaan yang benar. | Telegraf

Edo W.

close